alexametrics
Senin, 17 May 2021
radartulungagung
Home > Tulungagung
icon featured
Tulungagung

Terjadi 10 Kali Gempa Susulan

Masyarakat agar Tetap Waspada

12 April 2021, 13: 17: 58 WIB | editor : Alwik Ruslianto

AMBYAR: Dinding dapur milik warga Desa Jabon, Kecamatan Kalidawir, roboh usai diguncang gempa Sabtu (10/4) lalu.

AMBYAR: Dinding dapur milik warga Desa Jabon, Kecamatan Kalidawir, roboh usai diguncang gempa Sabtu (10/4) lalu. (SITI NURUL LAILIL M/RATU)

KOTA, Radar Tulungagung - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sedikitnya telah terjadi 8 kali gempa susulan (aftershock) pascaterjadinya gempa utama bermagnitudo 6,7 skala Richter (SR) Sabtu lalu (10/4). Dari hasil monitoring, gempa susulan ini memiliki range magnitudo 3,1 hingga 5,3 SR.

Kepala Seksi Data Informasi BMKG Juanda Surabaya Teguh Tri Susanto mengatakan, dari 8 gempa susulan yang terjadi, rata-rata masih berlokasi tidak jauh dari gempa yang pertama. Yakni sekitar 67 hingga 91 kilometer (km) barat daya Kabupaten Malang. “Lokasinya masih di sekitar barat daya Kabupaten Malang. Gempa susulan pertama hingga keempat berada di 77 km hingga 79 km barat daya Malang. Sementara gempa susulan ke-8 yang terjadi Minggu pagi (11/4) berlokasi pada 80 km barat daya Malang,” jelasnya.

Dia melanjutkan, selain masih berlokasi di sekitar pusat gempa pertama, kedalaman gempa susulan ini juga relatif bervariasi. Yakni mulai dari kedalaman 31 km, 41 km, 43 km, 45 km, 48 km, hingga paling dalam 98 km yang terjadi pada Minggu pagi (11/4). Tak hanya itu, dari catatan BMKG, gempa susulan kedelapan yang terjadi pada Minggu (11/4) pagi merupakan gempa susulan terkuat. Yakni dengan magnitudo 5,5 SR. Tak heran, kondisi ini turut dirasakan oleh sejumlah wilayah lain di selatan Jatim. Seperti Blitar, Trenggalek, Tulungagung, Lumajang, Nganjuk, Kediri, dan Pacitan. “Gempa susulan pada minggu pagi ini yang dampaknya cukup luas jika dibandingkan dengan gempa susulan sebelumnya,” terangnya.

Baca juga: 74 Bangunan Rusak Akibat Gempa

Lebih rinci, pria berambut lurus ini mengungkapkan, gempa tektonik pada Minggu pagi memiliki magnitudo 5,5 SR yang kemudian di-update menjadi magnitudo 5,3 SR. Sementara episentrum gempa bumi terletak pada koordinat 8,76 lintang selatan (LS) dan 112,41 bujur timur (BT). Tepatnya berlokasi di laut pada jarak 71 km arah selatan kota Kepanjen, Kabupaten Malang pada kedalaman 102 km.

Sementara melihat lokasi episentrum dan kedalaman hiposentrumnya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi menengah akibat adanya aktivitas subduksi. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan naik (thrust fault). Namun, BMKG memastikan gempa tersebut tidak berpotensi tsunami. “Beberapa wilayah yang merasakan terasa seperti ada sebuah truk atau kendaraan besar yang sedang melintas. Jadi tidak separah gempa utama,” imbuhnya.

Untuk itu, dia mengimbau masyarakat agar tetap waspada. Terutama bagi masyarakat yang berlokasi di sekitar titik pusat gempa atau yang sebelumnya telah terdampak gempa utama. Menghindari bangunan-bangunan tua yang memiliki konstruksi rapuh dan rawan ambrol. “Tidak perlu panik, tapi tetap waspada,” imbaunya.

Seperti diberitakan sebelumnya, goncangan gempa berlangsung sekitar 30 detik tersebut, selain membuat panik warga, tak sedikit merusak bangunan hingga roboh. Dari data yang berhasil dihimpun Koran ini, tercatat puluhan bangunan rumah, kantor pemerintahan, dan ruko yang tersebar di 11 kecamatan. Yakni Kecamatan Kalidawir, Sumbergempol, Pucanglaban, Gondang, Pakel, Pagerwojo, Ngunut, Sendang, Tanggunggunung, Campurdarat, dan Tulungagung mengalami kerusakan.  “Dari pendataan kami tersebar di 11 Kecamatan,” jelas Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tulungagung, Soeroto.

Soeroto melanjutkan, rata-rata kerusakan skala ringan dan sedang. Seperti genting melorot, dinding retak, hingga ada bangunan dapur yang roboh. Nantinya seperti bangunan roboh akan kami prioritaskan untuk mendapat bantuan material dari pemerintah setempat sesuai kemampuan daerah. “Dari 11 kecamatan itu, paling parah kerusakannya di Kecamatan Kalidawir. Untuk data detailnya masih kami rekap,” tandasnya. (*)

(rt/nda/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news