alexametrics
Minggu, 19 Sep 2021
radartulungagung
Home > Kolom
icon featured
Kolom

Semangat Berbagi dalam Ramadan

28 April 2021, 12: 16: 06 WIB | editor : Alwik Ruslianto

Semangat Berbagi dalam Ramadan

“Wahai saudara-saudara sekalian, bulan yang agung dan penuh berkah sudah hampir tiba, bulan yang di dalamnya ada sebuah malam yang lebih baik dari seribu bulan. Allah telah menetapkan puasa sebagai kewajiban dan salat Tahajud sebagai amalan sunnah........... Barang siapa memberi buka kepada orang yang berpuasa, niscaya dosanya akan diampuni, dirinya akan bebas dari neraka dan dia mendapat pahala sebagaimana orang yang berpuasa.” (Hadis Riwayat Muslim).

Itu adalah salah satu cuplikan khotbah Rasulullah saat akhir bulan Sa’ban dalam salah satu hadis yang diriwayatkan dari Salman ra. Umat Islam tentu sudah paham, makanya begitu menjelang Ramadan tiba, bermacam kegiatan telah dilakukan oleh masyarakat. Dari yang sepele mulai mencuci peralatan salat, mukena, sajadah, karpet, hingga ziarah kubur sampai menyelenggarakan sedekah (selamatan) yang sudah menjadi budaya/tradisi di masyarakat (Jawa khususnya) yang lebih dikenal dengan unggahan atau megengan. Tradisi ini pun masih relevan sampai saat ini, kecuali bagi yang pelit bin bakhil -nggak mau sedekah- banyak alasan untuk tidak mau: bid’ah lah, tidak ada tuntunan di zaman Rasulullah dan seribu alasan yang lain.

Dari sisi ini banyak orang yang terlibat dalam menyambut Ramadan, terlepas mereka berpuasa atau tidak, kaya atau miskin, pengusaha atau bukan, semua ikut bergembira menyambut bulan yang penuh rahmat ini. Bukti nyata (yang ini sering dikeluhkan oleh para ibu-ibu) ialah melonjaknya harga kebutuhan  pokok, bumbu dapur meningkat, sembako meningkat. Mending barangnya ada, kadang ditemui harga mahal stok terbatas. Sedangkan daya beli masyarakat sangat rendah. Tetapi ada juga yang diuntungkan: misalnya penjual bunga tabur dan penjual makanan dadakan untuk takjil.

Baca juga: Kena Razia, Pembalap Dihukum Mengaji

Kembali kepada hadis di atas, para sahabat lalu bertanya kepada Rasulullah: “Wahai Rasul, tidak semua orang mempunyai barang yang dapat diberikan kepada orang yang berpuasa?” Rasul menerangkan: “Allah memberi pahala  ini kepada siapapun yang memberi buka bagi orang yang berpuasa, walaupun hanya sebutir kurma, seteguk air putih.......”

Tidak ada ajaran toleransi di dunia ini yang melebihi ajaran Islam. Orang yang berpuasa itu kan sesungguhnya dalam keadaan lapar dan dahaga, belum lagi harus menjaga dan menahan diri dari perbuatan yang dapat mengurangi pahala dari ibadah puasa. Tentu itu adalah suatu yang sangat berat, tetapi buahnya yang sangat indah, bukan dipetik selama di dunia, tetapi dapat dijadikan tabungan sampai di akhirat kelak. Namun anehnya, lebih dari 60 persen orang yang mengaku beragama Islam tidak mau menjalankan ibadah mulia tersebut, tengok kanan kiri kita.

Ditinjau dari ilmu kesehatan: sesungguhnya puasa itu sangat berguna bagi kesehatan tubuh. Ditinjau dari ilmu sosial akan lebih meningkatkan kepekaan terhadap sesama. Dari sisi psikologi akan menjadikan jiwa tenang dan tenteram. Timbul pertanyaan: “Apakah bersedekah/infak yang banyak pahalanya  itu hanya pada bulan Ramadan?” Jawabannya: tentu tidak!!! Tetapi ada rasa kekhususan manakala dilakukan dalam bulan Ramadan karena banyak hadis yang menerangkan tentang hal tersebut.

Semangat berbagi/bersedekah ini selama bulan Ramadan bukan hanya didominasi oleh para aghniyak (orang kaya), tetapi siapa saja. Bahkan, walaupun pemberian tadi hanya sebutir kurma ataupun seteguk air putih.

Karenanya di berbagai tempat banyak masyarakat menyediakan takjil (makanan untuk membatalkan puasa). Semangat inilah yang perlu diberdayakan dan dipertahankan. Gotong royong, kebersamaan, senasib sepenanggungan hanya ingin memperoleh rida Allah SWT.

Itu pun masih ditambah bonus bagi yang melaksanakan qiyamul lail (tarawih, tahajud, tadarus, zikir, dsb) yang nilai ibadahnya sama dengan lebih dari 82 tahun. Apakah umur kita sampai selama itu, ataukah kita benar-benar mampu beribadah (puasa, salat, dll) selama hidup dapat mencapai 82 tahun?

Bukankah rata-rata seseorang itu mulai istiqamah beribadah setelah umur mencapai 40 tahun dan bahkan tidak sedikit yang baru ingat perlunya ibadah setelah pensiun (di atas 58 tahun bagi ASN)?

Semoga semangat berbagi ini tidak sebatas selama Ramadan, di luar itu masih ada 11 bulan medan perjuangan kita untuk berbagi bersama, Insya Allah. Wallohu a’alam. (*)

*) Penulis adalah Sekretaris Umum MUI Kabupaten Blitar

(rt/fid/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news