alexametrics
Senin, 21 Jun 2021
radartulungagung
Home > Kolom
icon featured
Kolom

Membangun Masyarakat dalam Bingkai Kerukunan

30 April 2021, 12: 04: 33 WIB | editor : Alwik Ruslianto

Sekretaris FKUB Kabupaten Blitar

Sekretaris FKUB Kabupaten Blitar (JAMIL MASHADI)

“Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia jadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih. Kecuali orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu.“ (QS Hud: 118-119)

Surat ini termasuk kelompok surat Makiyyah. Artinya, diturunkan ketika Nabi SAW masih berada di Kota Makkah. Ayat ini dapat dipahami bahwa sesungguhnya pluralitas agama adalah suatu keniscayaan dan sudah termasuk sunnatullah/ketentuan Allah SWT yang tidak akan mengalami perubahan. Artinya, selama masih ada kehidupan manusia, pasti ada yang beragama lurus dan ada yang menyimpang. Karena itu, pada akhir ayat ada “kecuali orang-orang yang dirahmati oleh Tuhanmu” menjadi cakupan penting dalam konteks pluralitas.

Kita, bangsa Indonesia baru saja menyelesaikan hajat besar “pesta demokrasi”, tentu dengan ingar bingar sejak mulai masa kampanye sampai puncaknya tanggal 17 April yang lalu, banyak masalah yang timbul di tengah masyarakat. Apalagi dibumbui dukung-mendukung yang secara tidak langsung menimbulkan gesekan.

Baca juga: Bongkar Lantai Jembatan Boro

Kini, khusus umat Islam telah memasuki bulan mulia, Ramadan. Seluruh kaum muslimin di penjuru dunia menyambutnya dengan suka cita, tidak terkecuali di Indonesia. Momentum inilah sesungguhnya tonggak memulai kembali merajut dan membangun kerukunan umat beragama (ukhuwah wathoniyah) yang diakui atau tidak, saat pesta pora kemarin terjadi/terdapat sedikit persinggungan kepentingan: baik para tokoh masyarakat, calon penguasa, maupun masyarakat sebagai pemilik murni suara.

Para tokoh agama sudah berupaya secara maksimal merajut silaturahmi pemuka  lintas agama sebagai bagian tanggung jawab keumatan dalam ikut serta menciptakan kedamaian dan ketenteraman di tengah masyarakat yang pluralis. Beda pilihan adalah keniscayaan, tapi yang tidak boleh terjadi adalah beda pilihan dapat menjadikan perpecahan.

Sebagai masyarakat yang religius, tentunya sudah disadari bahwa pada akhirnya campur tangan Tuhanlah yang menentukan segalanya. Karena itu, pada ayat yang kami nukil di atas, pada bagian akhir ayat “hanya orang yang mendapat rahmat” yang dapat menciptakan kedamaian dan menghindari perselisihan,

Pelajaran yang dapat dipetik dari ayat di atas: 1). Bahwa hanya orang yang mendapat rahmat Allah SWT yang akan mengikuti jalan agama yang benar, 2). Bahwa salah satu indikasi memperoleh rahmat Allah adalah adanya satu kesadaran bahwa pluralitas agama merupakan suatu keniscayaan.

Atas dasar itulah, Islam menanamkan  satu prinsip umum terkait dengan sikap keberagamaan seseorang ialah “tidak ada paksaan dalam agama”. Hanya saja kebebasan beragama ini mengandung konsekuensi: seseorang harus dengan tanggung jawab melaksanakan tata cara beribadah dan syariat agama sesuai dengan yang telah diyakini, bukan bebas dalam arti boleh berbuat sekehendaknya.

Orang beragama akhirnya terikat dengan theologi dan syariat agama yang diyakininya tersebut. Artinya, kalau seseorang telah memantapkan diri sebagai seorang muslim (beragama Islam), tentu dalam kehidupannya terikat dengan norma yang disebut dengan: rukun Islam, rukun iman, tata cara muamalah, cara bermasyarakat, dan sebagainya. Kalau tidak mau terikat dengan norma yang telah ditentukan oleh agama Islam tersebut, maka akan muncul istilah: fasik, munafik, dan sebagainya.

Hal ini dipertegas dengan firman Allah dalam Surat Al Maidah: 48 “Untuk setiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Kalau Allah menghendaki niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat saja, tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap karunia yang telah diberikan-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebaikan. Hanya kepada Allah kamu akan kembali, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang dulu kamu perselisihkan.“

Karena itu, suatu hal yang harus dihindari masyarakat adalah campur tangan terhadap theologi/syariat agama lain yang tidak sesuai dengan keyakinan yang dipeluknya. Mengedepankan kerukunan lebih dikedepankan daripada membahas perbedaan, membangun ukhuwah basyariyah dan ukhuwah wathoniyah harus menjadi pedoman masyarakat. Kemajuan pembangunan tidak mutlak ditentukan oleh mayoritas maupun minoritas, tetapi kerukunan, keamanan, keadilan, kedamaian, dan kebersamaanlah yang menjadi jaminan keberhasilannya

Sungguh suatu kemunduran mana kala terdapat perselisihan di antara umat beragama. Apalagi hanya disebabkan dukung-mendukung, beda pilihan, dan semacamnya. Sudah saatnya masyarakat membangun dalam pluralitas keberagaman dan inilah kiranya nilai lebih yang dimiliki masyrakat kita dan ini merupakan modal dasar untuk membangun negara agar menjadi negeri  yang “baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur “  Insyaallah. (*)

(rt/did/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news