alexametrics
Senin, 20 Sep 2021
radartulungagung
Home > Kolom
icon featured
Kolom

Indahnya Toleransi dalam Beragama

01 Mei 2021, 15: 04: 24 WIB | editor : Alwik Ruslianto

Drs KH  Agus Mu’adzin MPd

Drs KH  Agus Mu’adzin MPd

Indonesia terkenal sebagai salah satu negara toleran dalam bermasyarakat. Selain menghormati antara suku, ras, golongan, dan umat beragama, konon sebagian orang mengatakan masyarakat kita sebagai bangsa paling toleran di dunia. Meskipun, penilaian tersebut tidak jelas parameternya. Kalau toh ada persinggungan di tengah masyarakat, itu pun terjadi hanya bersifat lokal dan tidak dapat disebut mewakili corak keharmonisan masyarakat kita. Hal ini harus dipandang tidak lebih sebagai dinamika bermasyarakat.

Untuk menyamakan pendapat, teologi, dan kemauan penduduk lebih dari 270 juta tentu tidaklah mudah. Contoh, dalam satu keluarga saja yang hanya terdiri dari beberapa orang ada perbedaan, apalagi masyarakat sebanyak itu.

Alhamdulillah beberapa perayaan besar keagamaan hampir berhimpitan,  Hari Raya Nyepi (Hindu), Hari Raya Paskah (Nasrani) Puasa Ramadan atau Idul Fitri (Muslim). Indahnya saling menghargai di masyarakat dapat dilihat dari pesan setiap umat, tidak saling mengolok, meskipun sesungguhnya sangatlah  tajam perbedaan dalam teologinya.

Baca juga: Sales Diduga Dibunuh, Luka di Kepala dan Wajah 

Ketika umat Hindu Nyepi, umat Nasrani Paskah kemudian Muslim puasa Ramadan, tidak sedikit umat masing-masing berpartisipasi dalam menjaga keamanan dan kekhidmatan beribadahnya. Lakum dinukum waliya ad diin“ benar-benar dapat dilaksanakan.

Alangkah sejuknya kehidupan masyarakat kita. Jelas ada perbedaan dalam beragama, tetapi tidak terjadi kekacauan dan kegaduhan. Bandingkan dengan perwakilan kita yang hanya beberapa orang, menyikapi segelintir elite politik di negeri ini gaduhnya luar biasa, saling mengadu, saling fitnah, dan sebagainya. Dan itu tidak perlu ditiru masyarakat.  Mereka itu akan kena azab dari Allah sebagaimana surat As Shoff 2-3 Mereka tergolong orang-orang yang dibenci Allah karena mereka sering mengatakan apa yang tidak mereka kerjakan, bukankah mereka sering menyuruh masyarakat rukun, menghormati?”

Tetapi apa yang kita lihat, jauh panggang dari api. Masyarakat semakin dewasa dalam bertindak dan berpikir, tetapi elite lebih primitif, hanya mencari pembenaran bukan kebenaran.

Cara beragama di Bumi Pertiwi ini sungguh dapat dijadikan renungan siapa saja yang mengaku dirinya beragama. Semua rasul atau nabi yang diutus Allah dalam risalahnya tidak ada mengajarkan kekerasan, pertikaian, teror, saling fitnah, dan sebagainya. Semua mengajarkan kedamaian, saling kasih sayang, saling tolong, dan yang kaya membantu yang miskin. Sedangkan si miskin mengerjakan apa yang si kaya tidak sanggup mengerjakannya sehingga dia mendapat upah, ada ketergantungan satu sama lain.

Sudah bukan zamannya kini “mengebom” orang beribadah, itu perilaku primitif. Juga sudah bukan zamannya orang ingin mendapat kedudukan, lalu menyuruh seseorang berbuat jahat terhadap musuh politiknya seolah dia nanti bertindak sebagai pahlawan.

Bukan zamannya kini memperdebatkan teologi setiap agama. Sebab akan menjadi masalah berkepanjangan. Kalau ada orang yang mengatakan semua agama sama, itu orang yang tidak paham beragama, yang benar adalah semua agama di negeri ini saling menghargai dan menghormati satu sama lainnya, tidak bisa agama dicampuradukkan.

Inilah kiranya melestarikan kebinekaan di negeri tercinta ini merupakan suatu keharusan. Betapa akan menjadi contoh dunia mana kala umat beragama di Bumi Pertiwi ini saling menghargai hari besar agamanya masing-masing, bukan saling mengolok. Dalam bingkai kedamaian dan saling menghormati satu sama lain, toh tidak ada ruginya karena kita hidup di bumi yang sama, menghirup udara sama, minum dari air sama, dan makan dari hasil bumi sama. Indonesia. (*)

*) Penulis adalah  Ketua FKUB Kabupaten Blitar

(rt/fid/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news