alexametrics
Senin, 20 Sep 2021
radartulungagung
Home > Blitar
icon featured
Blitar
Sosok KH Hasbulloh Baran (10)

Kiai Nalindra, Lahirkan Tokoh Besar

03 Mei 2021, 09: 12: 15 WIB | editor : Jessica AP

GAGAH: Gambar Mbah Hasbulloh yang ada di kompleks makam beliau di Desa Ploso, Kecamatan Selopuro.

GAGAH: Gambar Mbah Hasbulloh yang ada di kompleks makam beliau di Desa Ploso, Kecamatan Selopuro. (YANU ARIBOWO/RADAR BLITAR)

KH Hasbulloh merupakan tokoh berpengaruh yang pernah tinggal di Desa Ploso, Kecamatan Selopuro. Selain sebagai tokoh agama, beliau juga pernah memegang jabatan pemerintahan. Santri beliau banyak yang menjadi orang besar di masanya.

Mbah Hasbulloh adalah keturunan salah seorang Laskar Pangeran Diponegoro yang menyebar ke wilayah Blitar, usai Perang Jawa 1825-1830. Garis keturunan beliau adalah KH Hasbulloh bin M Irjaz bin Abdul Hamid bin Arif Sholihin bin Syeh Yusuf Cokrojoyo atau Sunan Geseng. Mbah Hasbulloh lahir di Kaliwatubumi, Bedug Butuh (Bagelen), Purworejo, Jawa Tengah. Beliau memiliki nama kecil Irdali dan berganti Roihuddin ketika mondok. Setelah menunaikan ibadah haji disematkan nama KH Hasbulloh. Ayah beliau merupakan salah seorang prajurit Pangeran Diponegoro.

Sejak muda, KH Hasbulloh sudah meninggalkan kampung halamannya karena dikejar pasukan Belanda, karena ayah beliau adalah salah seorang prajurit Pangeran Diponegoro. Dalam perjalanannya beliau kemudian mondok di Mergayu, Kecamatan Ngronggot, Nganjuk dalam asuhan Kiai Haromain. Beliau bahkan dinikahkan dengan Nyai Siyam, putri Kiai Haromain dan dikaruniai seorang anak, Nyai Saroh. Setelah cerai, KH Hasbulloh mondok ke Pondok Jampes, Gampengrejo, Kediri dalam asuhan KH Dahlan. Saat mondok inilah beliau bertemu dengan keluarga Mbah Ekomejo yang merupakan Kepala Desa Purwokerto, Kecamatan Srengat.

Baca juga: Tingkatkan Literasi dan Perekonomian, Gelar Pameran dan Bazar

Saat mondok itulah oleh KH Dahlan, Mbah Hasbulloh dinikahkan dengan Nyai Maryam, putri Mbah Ekomejo. Dari pernikahan kedua ini, Mbah Hasbulloh dikaruniai tujuh anak, yakni H Sofwan (Sumatera), Nyai Munawwaroh (Kasim), Wuryan (Kasim), KH Dimyati (Baran), Nyai Rohbiah (Siraman), Hj Ruqoyyah (Kasim), dan Gus Kafi. Hingga akhirnya setelah selesai mendalami ilmu agama di Pondok Jampes, Mbah Hasbulloh menjalankan dakwah di wilayah Blitar. Dengan bantuan KH Abdul Ghaffar, beliau mendapatkan tanah hibah dari KH Syamsudin Gading di Dusun Baran, Desa Ploso. Sebidang tanah itulah yang menjadi cikal bakal Pondok Baran. “Di tanah itu Mbah Hasbulloh membangun rumah, masjid dan pondok,” jelas KH Harun Ismail, salah seorang cucu Mbah Hasbulloh.

Ketika mulai dakwah dalam Pondok Baran, para santri mulai berdatangan. Banyak santri beliau yang akhirnya menjadi tokoh-tokoh besar. Beberapa di antaranya yang menjadi tokoh agama pada masa berikutnya, antara lain KH Kholil Karangtalun (Nglegok), KH Sodhiq Damanhuri Sanan Gondang (Gandusari), KH Ridwan Karangsono (Kanigoro), KH Abbas Toegoeng (Banyuwangi), KH Mawardi Jalen (Ponorogo), KH Syamsudin, KH Samsuri Glenmor (Banyuwangi), dan KH Bakri Tanen (Tulungagung).

Semasa hidupnya, Mbah Hasbulloh dikenal sebagai Kiai Nalindra, yakni tokoh agama yang memiliki jabatan di Desa Ploso. Selain tokoh agama beliau juga pernah menjabat sebagai Kepala Desa Ploso. Sebuah amanah yang dipercayakan oleh masyarakat setempat. Meski awalnya sempat menolak mengemban amanah sebagai kepala desa, beliau tak bisa menolak. Sebab, penetapan sebegai kepala desa itu terjadi ketika Mbah Hasbulloh menunaikan ibadah haji. “Masyarakat Desa Ploso sepakat memberikan amanah tersebut. Sebab, ketika dicalonkan sebagai kepala desa beliau selalu menolak,” jelas kiai 66 tahun ini.

Dalam catatan Sekilas Riwayat KH Hasbulloh(2014), disebutkan, “Beliau juga pernah menjabat sebagai lit agama (legislatif) bersamaan menjabat Kepala Desa Ploso yang diamanatkan oleh rakyat secara didaulat. Waktu beliau naik haji sampai beliau wafat pada hari Kamis Legi, J. Akhir tahun 1950 M dan dimakamkan Jumat Pahing di Makam Kasim.”

Kawasan Pondok Baran merupakan peninggalan Mbah Hasbulloh. Masjid Baran masih berdiri kokoh untuk kegiatan masyarakat setempat. Selain itu, di bagian belakang pekarangan beliau terdapat sumber air atau mbelik yang dulu digunakan keluarga Mbah Hasbulloh mandi. Untuk barang-barang pribadi beliau masih bisa ditemui kopiah penutup kepala, linggis untuk mendongkel benda-benda keras, maupun kitab-kitab lama ketika beliau mengaji di Pondok Jampes Kediri. Sedangkan, makam beliau berada di kompleks pemakaman keluarga yang berdampingan dengan pemakamam umum Desa Ploso, Kecamatan Selopuro. (*)

(rt/yan/esi/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news