alexametrics
Senin, 21 Jun 2021
radartulungagung
Home > Kolom
icon featured
Kolom

Pentingnya Olahraga Senam Aerobik saat Puasa

03 Mei 2021, 12: 38: 40 WIB | editor : Alwik Ruslianto

Gumelar Dery Wijoseno

Gumelar Dery Wijoseno

BULAN Ramadan 2021 ini merupakan waktu bagi para umat muslim menjalani ibadah puasa. Di Indo­nesia, ibadah puasa dilakukan kurang lebih selama 13 jam. Nah, selama waktu tersebut, tubuh kita tidak mengonsumsi makanan atau pun minuman. Banyak orang mengira bulan Ramadan adalah saat reses olah­raga, tak terkecuali senam aerobic.

Orang-orang seperti sudah merelakan bahwa saat puasa akan kehilangan kekuatan dan masa otot. Haruskah kegiatan senam aerobik berhenti di bu­lan Ramadan? Jawabnya tentu tidak. Padahal, berolahraga saat berpuasa justru dapat mem­buat badan lebih bugar.

Puasa tak menghalangi se­seorang untuk tetap berolah­raga. Namun, Anda wajib mem­perhatikan kondisi tubuh dan kebiasaan. Pasalnya, kondisi tubuh saat puasa tentu berbe­da dengan kondisi tubuh ke­tika sedang tidak berpuasa. Olahraga ringan bukan latihan beban berat. Latihan berat me­mang tidak disarankan saat menjalani puasa. Sebab, dapat menyebabkan terlalu banyak kerusakan otot juga menyebab­kan peningkatan hormon ka­tabolik dan hormon kortisol.

Baca juga: Sehat Berkat Badminton

Menurut Yanti Shinta, instruk­tur senam, seseorang dalam kondisi puasa masih bisa olah­raga dengan memperhatikan beberapa penyesuaian pada olahraga yang dilakukan. Mis­alnya, memilih gerakan, waktu, dan durasi yang tepat. “Jenis gerakan disesuaikan, tidak se­berat yang biasa dilakukan saat tidak puasa dan sesuaikan juga durasi olahraga,” ujar Yanti.

Berikut ini beberapa hal yang perlu Anda perhatikan sebelum mulai berolahraga senam ae­robik pada bulan Ramadan.

Ritual olahraga. Untuk menghindari cedera, Anda wajib melakukan pemanasan dan pendinginan.

Perhatikan waktu olahraga. Lakukan olahraga menjelang buka puasa, sekitar 1 atau 1,5 jam sebelumnya. Sehingga ke­tika olahraga selesai dan te­naga cukup terkuras, Anda bisa mengisinya dengan segelas minuman (air mineral, jus bu­ah, atau teh manis hangat).

Kurangi durasi. Kurangi durasi olahraga karena selama puasa tak ada asupan energi dan cairan yang masuk ke tubuh. Misalnya, jika Anda biasa berolahraga 2 jam, maka kurangi durasinya menjadi 1 jam atau 30 menit.

Kebiasaan. Kondisi tubuh se­tiap orang berbeda. Ada orang yang tubuhnya tidak terpenga­ruh puasa, ada pula yang sang­at terpengaruh. Bila tubuh Anda sudah terbiasa olahraga dan tak masalah melakukan olahraga high impact saat pu­asa, lanjutkan saja. Jika tidak, jangan paksakan tubuh dan konsultasikan kepada dokter atau pelatih pribadi (personal trainer) Anda.

Dehidrasi. Ada baiknya Anda memperhatikan tanda-tanda dehidrasi sebelum olahraga. Jika kepala berkunang-kunang, pandangan mata berkurang, urine kuning pekat, mulut kering dan lengket, bahkan tangan dan kaki dingin, sebaiknya hentikan kegiatan Anda.

Dalam olahraga senam aero­bik di saat puasa akan membe­rikan manfaat yang luar biasa. Ini terkait dengan strategi me­maksimalkan penyerapan nu­trisi, menjaga hidrasi yang tepat, dan memodifikasi hormon pembakar lemak dan pemben­tukan otot utama. Untuk dike­tahui, Sumber bahan bakar utama metabolisme untuk fungsi tubuh selama berpuasa adalah lemak.

Instruktur yoga dan pakar fitnes, Laurel Dierking MEd NFPT se­perti yang dikutip dari yourweight­matters.org menyebutkan, senam aerobik merupakan salah satu senam yang meriah, seperti zum­ba. Senam ini disertai alunan mu­sik yang bersemangat dan paling asyik dilakukan bersama-sama. Tentunya sama seperti senam atau olahtubuh lainnya, senam aerobik baik untuk kesehatan. Saat ber­konsentrasi melakukan gerakan se­nam aerobik, perasaan akan lebih senang. Apalagi jika sudah hafal dan mampu melakukan gerakan itu dengan baik. Senam aerobik membuat semua otot-otot tubuh bergerak dengan melakukan ge­rakan, seperti tepuk tangan, hen­takan kaki, atau teriakan seman­gat. Senam aerobik sangat bagus bagi kesehatan tubuh baik jantung, paru-paru, dan bagian tubuh lain. Aerobik juga bagus untuk kelen­turan otot dan mengencangkan kulit. Hal ini sebenarnya yang mem­buat senam aerobik disukai oleh berbagai kelompok. Terutama bagi kaum hawa yang mengidam­kan pinggul dan bagian tubuh lain yang kencang.

Laurel Dierking MEd NFPT mengatakan, “Pada dasarnya, semua aktivitas yang meng­gunakan oksigen untuk mem­bakar kalori dalam mempro­duksi energi dan meningkatkan detak jantung bisa disebut olah­raga aerobik. Namun, aerobik sering diidentikkan dengan senam dan terkadang disebut dengan senam jantung sehat. Senam aerobik adalah rang­kaian gerakan yang mengaktif­kan otot-otot tubuh. Manfaat senam aerobik bisa memberi dampak jangka panjang terhadap kesehatan mental, fisik, dan emosi. Stres menurun, keseha­tan jantung membaik, energi lebih stabil, dan mengurangi risiko cedera sendi. Itu beber­apa manfaat yang bisa didapat dari olahraga. Jika dilakukan teratur dan konsisten, ternyata banyak manfaatnya,” terangnya.

Berikut ini cara tubuh me­respons gerakan senam aerobik saat puasa, di antaranya:

Aerobik membuat Anda nyaman bernapas lebih panjang dan dalam sehingga meningkatkan kadar oksigen dalam darah, otot, dan jantung. Peningkatan ini akan membuat pembuluh darah me­lebar dan tubuh lebih mudah un­tuk mengeluarkan gas buangan, seperti karbondioksida dan asam laktat. Jantung akan berdetak lebih cepat sehingga mampu memom­pa darah ke otot dan kembali ke paru-paru dengan lebih baik.

Membuat tubuh Anda melepas­kan hormon endorfin yang ber­peran sebagai pereda nyeri alami, membuat hati gembira dan me­ningkatkan suasana hati.

Menguatkan jantung dan paru-paru dengan cara meningkatkan aliran darah pada kedua organ tersebut.

Meningkatkan efisiensi sirku­lasi darah serta mengurangi tekanan darah.

Meningkatkan jumlah sel darah merah dalam tubuh. Sel ini berperan dalam menyalur­kan oksigen ke seluruh tubuh serta membawa karbondiok­sida dari jaringan ke paru-paru.

Dalam hal ini diharapkan ma­syarakat tetap menjaga kese­hatan dan bugar selama ber­puasa dengan olahraga sesuai kemampuan masing-masing dan mengatur jadwal dengan tepat agar puasa tetap lancar meskipun berolahraga.(*)

*) Penulis adalah mahasiswa S1 Ilmu Keolahragaan Univer­sitas Negeri Malang.

(rt/fid/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news