alexametrics
Senin, 21 Jun 2021
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features
Produksi Cetakan Kue Tok

Kreativitas Sugeng Harianto Manfaatkan Limbah Kayu Bubut

Banjir Pesanan Saat Imlek

04 Mei 2021, 11: 05: 03 WIB | editor : Alwik Ruslianto

KREATIF: Sejumlah hasil kerajinan ukir hasil karya Sugeng di rumahnya beberapa waktu lalu.

KREATIF: Sejumlah hasil kerajinan ukir hasil karya Sugeng di rumahnya beberapa waktu lalu. (MOCHAMMAD SUBCHAN ABDULLAH/ RADAR BLITAR)

Kayu bekas bubut tak selalu dibuang begitu saja. Di tangan Sugeng Harianto, limbah kayu tersebut bisa menjadi barang yang berguna. Seperti cetakan kue dan home interior.

MOCHAMMAD SUBCHAH ABDULLAH, Kepanjenkidul, Radar Blitar

Rumah nomor 6A di Jalan Sawunggaling, Kelurahan Sentul, Kecamatan Kepanjenkidul itu menjadi tempat produksi Sugeng Harianto. Sejumlah kerajinan dikerjakan di sana. Mulai dari yang rumit hingga mudah.

Baca juga: Jelang Lebaran, Harga Bahan Pangan Mulai Naik

Salah satu kerajinan yang dibuat Sugeng yakni cetakan kue serta sejumlah aneka interior rumah. Sugeng memanfaatkan limbah kayu bubut dalam membuat setiap karyanya.

Sugeng mendapatkan limbah kayu itu dari sejumlah perajin kayu bubut yang ada di sekitarnya. Potongan kayu yang tidak berguna lantas dimanfaatkan untuk membuat barang-barang berharga. "Sementara saya menggunakan limbah kayu mahoni," ungkapnya saat ditemui koran ini beberapa waktu lalu.

Kerajinan karya Sugeng berjenis kerajinan ukir. Seperti yang diterapkan pada cetakan kue miliknya. "Seperti ini bentuknya. Ini untuk  membuat kue tok," terangnya sambil menunjukkan cetakan kue tok yang berbahan kayu itu.

Cetakan kue yang dibuat Sugeng itu khusus untuk membuat kue tok atau juga disebut kue kura-kura. Disebut kura-kura karena bentuknya menyerupai cangkang kura-kura. Kue tradisional yang berbentuk oval dengan isian manis di dalamnya.

Biasanya kue tersebut selalu disajikan ketika momen perayaan Hari Raya Imlek. Makanya, setiap menjelang perayaan Imlek, Sugeng selalu banjir pesanan. Namun sejak pandemi Covid-19 mendera, dia sepi pesanan. "Hanya beberapa biji pesan. Paling banyak 5-10 biji," kata pria berusia 37 tahun ini.

Selama ini, Sugeng mengerjakan cetakan kue tersebut sendirian. Terkadang, jika ada pesanan banyak dibantu oleh rekan-rekannya. Namun, selama pandemi ini dirinya banyak mengerjakan sendirian.

Untuk membuat cetakan kue tersebut, membutuhkan bahan utama berupa kayu mahoni. Potongan kayu yang utuh lantas dipotong membentuk cetakan dengan pegangan tangan.

Kemudian, di bagian atasnya dibuat cerukan lalu diukir membentuk motif tertentu. Motif cetakan kue tok biasanya terdapat huruf Tiongkok. "Saya nggak tahu itu apa artinya. Saya hanya mengerjakan sesuai motif yang diberikan," jelas bapak dua anak ini.

Sugeng membuat cetakan kue tok itu dengan beberapa motif. Untuk motif sudah ditentukan oleh pemesan. "Yang sulit itu kita harus benar-benar bisa menyesuaikan pola hurufnya. Karena ini kan cetakan. Jadi ketika tercetak, bentuk huruf harus benar," ucap pria yang mengawali usaha kerajinan ukir kayu sejak 2016 lalu ini.

Selain membuat cetakan kue, Sugeng juga mengerjakan benda interior rumah. Benda interior rumah itu juga berbahan dari limbah kayu mahoni. "Kayu mahoni itu mudah didapat dan ringan. Teksturnya tidak kasar," ujar pria ramah ini.

Ukuran cetakan kue tok tersebut bervariasi. Ada yang besar, sedang, dan kecil. Untuk harganya juga mulai Rp 25-30 ribu. Sedangkan untuk home interior dihargai Rp 30-75 ribu. Tergantung model dan ukurannya. (*)

(rt/kan/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news