alexametrics
Senin, 21 Jun 2021
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features

Melongok Kegitan Para Relawan di Rumah Isolasi Garum

Sebagian Tak Pulang Berlebaran

12 Mei 2021, 09: 15: 59 WIB | editor : Alwik Ruslianto

TAK PULANG: Sejumlah relawan di rumah isolasi Garum sedang berkonsultasi dengan dokter melalui telepon.

TAK PULANG: Sejumlah relawan di rumah isolasi Garum sedang berkonsultasi dengan dokter melalui telepon. (AGUS MUHAIMIN/ RADAR BLITAR)

Memakai hazmat atau alat pelindung diri (APD) level III saat berolahraga siang hari, tentu bisa dibayangkan betapa pengapnya. Tak hanya itu, relawan di rumah isolasi Garum juga tak bisa berharap pulang dan bersama keluarga saat momen Lebaran.

AGUS MUHAIMIN, Garum, Radar Blitar

Fiki Fauzi membantu memindahkan nasi kotak yang dikirim soerang kurir di ruang sekretariat rumah isolasi pemerintah di Garum kemarin. Entah apa menu di dalamnya. Namun dari jauh tercium aroma gurih yang tentu bisa menggoda iman muslim yang berpuasa. “Kami juga puasa lho,” ucap Fiki mendahului Koran ini bertanya.

Baca juga: Pengunjung Pasar Meningkat

Semua penghuni rumah isolasi (ruso) mendapat jatah makan. Baik itu warga yang sedang menjalani isolasi maupun petugas dan relawan rumah isolasi yang selama ini membantu proses penyembuhan mereka. Selama Ramadan, kebutuhan berbuka dan santap sahur para penghuni ruso ini juga tercukupi.

Sesuai namanya, para penghuni ruso ini seolah memang dijauhkan dari luar. Semua kebutuhannya dicukupi dari luar gerbang masuk gedung di wilayah Kecamatan Garum ini. Aktivitas mereka terbatas. Mereka tidak boleh keluar masuk kawasan tersebut seenaknya.

Bukan tanpa alasan. Relawan dan para petugas di ruso adalah kontak erat orang-orang yang terpapar virus korona. Tidak menutup kemungkinan kontaminasi dengan virus. Meskipun sebenarnya ada protokoler yang dilakukan selama interaksi dengan pasien terjangkit korona di tempat ini. “Kalau masuk area pasien kami pakai APD level III,” aku Fiki.

Hazmat, faceshield, dan masker khusus, menjadi bagian tubuh yang tak terpisahkan ketika memberikan pelayanan. Baik saat pemeriksaan rutin tiap hari maupun saat menjadi instruktur olahraga bagi pasien terpapar korona. “Pakai APD lengkap. Masker dobel III, terus lari-lari atau joget. Coba deh dibayangkan,” ujar Irfan Nurido yang sedari tadi duduk di dekat Fiki.

Warga Doko ini mengaku menjadi instruktur olahraga bagi pasien korona adalah cara paling efektif bagi mereka yang ingin menurunkan berat badan atau mencari tubuh ideal. Kalori yang terbakar setiap menitnya jelas sulit diukur. Pakaian basah pascaolahraga itu sudah menjadi hal yang pasti terjadi.

Kondisi ini kadang menjadi tantangan tersendiri bagi petugas ataupun relawan. Apalagi dilakukan saat Ramadan. Tak sedikit yang tumbang alias membatalkan puasa saat awal Ramadan. “Makanya kemudian di jadwal olahraganya disesuikan, maksimal 30 menit. Kalau biasanya kan sampai 2 jam saking demennya orang-orang berolahraga,” tuturnya.

Kegiatan ini biasanya dilakukan pagi hari atau menginjak siang. Tepatnya setelah pemeriksaan rutin kondisi pasien korona. Setelah kegiatan itu, nyaris tak ada kegiatan lain hingga sore. Biasanya para penghuni ruso memanfaatkan waktu luang untuk olahraga lagi atau untuk hiburan lainnya.

Malam hari waktu istirahat atau melakukan kegiatan di kamar masing-masing. Begitu juga dengan para petugas. Mereka melaksanakan tarawih bersama dengan relawan dan petugas lain di dalam ruso. “Ya itu rutinitas kami di sini. Kami baru bisa pulang ke rumah setiap 10 hari sekali. Ada waktu 2 hari untuk libur,” sahut Fiki.

Hal ini juga berlaku saat momen Ramadan dan Idul Fitri. Tak ada masalah, meski hampir dipastikan warga Garum ini tidak bisa bertemu saat Lebaran dengan istri dan keluarganya. Secara kebetulan dia masuk jadwal tugas. Tidak sendiri, hampir separo personel dan relawan lain juga mengalami hal sama. “Kami bersinggungan langsung dengan pasien korona. Kalau petugas di rumah sakit atau puskesmas mungkin tidak semua,” katanya.

Kini ada lebih dari 40 orang warga terpapar korona yang tinggal di ruso. Mereka membutuhkan Fiki dan rekan-rekan untuk membantu proses penyembuhan. Umumnya, pasien tanpa gejala hanya tinggal selama 10 hari. Berbeda dengan mereka yang memiliki gejala, mereka lebih lama. “Sudah dipisahkan, jadi aman. Kalau ada yang memiliki gejala berat, kami segera rujuk mereka,” ungkapnya. (*)

(rt/muh/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news