alexametrics
Senin, 21 Jun 2021
radartulungagung
Home > Blitar
icon featured
Blitar
Sosok KH Sulaiman Selotumpuk (20-habis)

Kuasai Kitab Ithaf Sadatil Muttaqin

12 Mei 2021, 09: 45: 38 WIB | editor : Jessica AP

CIKAL BAKAL: Gus Itsna berada di area pemakaman KH Sulaiman dan generasi awal Ponpes Darul ‘Ulum di Pemakaman Selotumpuk.

CIKAL BAKAL: Gus Itsna berada di area pemakaman KH Sulaiman dan generasi awal Ponpes Darul ‘Ulum di Pemakaman Selotumpuk. (YANU ARIBOWO/RADAR BLITAR)

Kawasan Pondok Pesantren (Ponpes) Darul ‘Ulum di Lingkungan Selotumpuk, Kelurahan Tangkil, Kecamatan Wlingi, menjadi saksi perjuangan dakwah Islam KH Sulaiman. Tokoh asal Solo ini berkelana ke wilayah timur hingga akhirnya menetap di Lingkungan Selotumpuk. Kini perjuangan dakwah KH Sulaiman dilanjutkan para generasi penerus beliau.

Perjalanan dakwah Mbah Sulaiman di Lingkungan Selotumpuk diawali setelah beliau meninggalkan kehidupan di Keraton Solo. Sebagai bagian dari keluarga keraton, beliau tetap ingin melanjutkan perjuangan menyebarkan ilmu agama di tengah masyarakat. Berasal dari kalangan masyarakat biasa membuat beliau merasa tidak kerasan dan perjuangan dakwah beliau hanya terbatas untuk lingkungan keraton saja. Kala itu, sang istri sedang hamil dan beliau pamit berdakwah ke wilayah timur. Setelah lahir sang anak diberikan nama Putri Zainab, sesuai pesan Mbah Sulaiman. “Salah satu pesan beliau sebelum pergi dakwah ke timur adalah jika anak beliau nanti mencari diminta mondok dan melakukan perjalanan ke timur mencari Kiai Sulaiman,” jelas Gus Itsna, generasi keenam KH Sulaiman.

Awal mula Mbah Sulaiman menjadi bagian keluarga Keraton Solo adalah ketika keraton kehilangan penasehat yang memegang urusan agama. Kala itu, raja menghendaki diadakan sayembara kepada seluruh ulama untuk menjabarkan kitab Ithaf Sadatil Muttaqin Syarah Ihya Ulumuddin. Dalam pelaksanaannya raja yang memiliki pengetahuan agama yang kuat tidak terpuaskan dengan penjabaran peserta sayembara. Hingga akhirnya raja memanggil para penggawanya untuk memastikan apakah tidak ada ulama di wilayah keraton yang mampu menjabarkan kitab Ithaf Sadatil Muttaqin Syarah Ihya Ulumuddin. “Informasi dari para penggawa ada seorang pemuda desa yang menguasai kitab Ithaf Sadatil Muttaqin Syarah Ihya Ulumuddin namun tidak tertarik mengikuti sayembara,” jelas kiai 39 tahun ini.

Baca juga: Cukup di Rumah, Bersilaturahmi secara Daring

Dari informasi tersebut akhirnya Kiai Sulaiman muda dipanggil ke keraton dan diminta untuk menjabarkan kitab Ithaf Sadatil Muttaqin Syarah Ihya Ulumuddin di hadapan raja dan para penasehatnya. Penjabaran Kiai Sulaiman muda sangat gamblang dan membuat raja puas. Beliau akhirnya diputuskan menjadi pemenang dan dijadikan menantu kerajaan sekaligus penasehat yang memegang urusan agama. Sejak saat itulah Kiai Sulaiman muda menjalani kehidupan baru di lingkungan keraton. Namun, akhirnya harus melanjutkan dakwah beliau ke wilayah timur.

Usai menempuh perjalanan jauh akhirnya beliau tiba di Lingkungan Selotumpuk. Mbah Sulaiman lantas mendirikan masjid dengan bangunan yang sederhana tak jauh dari Situs Selotumpuk, yang kini berada di area Pemakaman Selotumpuk. Kedatangan beliau akhirnya menarik kedatangan santri-santri yang ingin mendalami ilmu agama. Untuk menampung para santri, dulu di sebelah timur masjid yang kini bernama Masjid Al Muttaqin dibangun gothakan berdinding anyaman bambu untuk kamar para santri. Pembangunan cikal bakal Pondok Pesantren (Ponpes) Darul ‘Ulum terjadi sekitar 1825. Selain mengajarkan agama Islam, Mbah Sulaiman juga menikah lagi dengan warga setempat. Belum diketahui secara pasti kapan beliau lahir dan meninggal, namun diperkirakan saat tiba di Lingkungan Selotumpuk usianya sekitar 30 tahunan.

Di lain sisi, ketika Putri Zainab tumbuh dewasa beliau mencari keberadaan sang ayah. Putri Zainab memulai perjalanan ke wilayah timur dan salah satunya singgah mondok dalam asuhan KH Asy’ari, kakek buyutnya Gus Dur. Saat mondok itulah Putri Zainab mendengar ada informasi seorang tokoh bernama Kiai Sulaiman di Selotumpuk Wlingi. Dalam pencariannya Putri Zainab akhirnya bertemu dengan sang ayah. Dari pertemuan itu Putri Zainab lalu mengirimkan surat ke Solo mengabarkan pertemuan dengan Kiai Sulaiman. Beberapa waktu kemudian datang rombongan yang mau menjemput Putri Zainab dengan kereta kuda. Karena cocok di Selotumpuk, Putri Zainab tidak mau kembali ke Solo. Maka dibangunlah gothakan santri yang awalnya berdinding bambu menjadi tembok sebagai simbol tetap terjalinnya silaturahmi.

Bahkan, Putri Zainab akhirnya menikah dengan KH Ibrohim asal Yaman yang dikenal beliau ketika mondok di Jombang. Dari pernikahan itu dikaruniai tiga anak, yakni Kiai Zainudin, Kiai Abdul Mu’in dan Nyai Anjar. Dalam perjalanannya Ponpes Darul ‘Ulum kemudian diasuh generasi ketiga. Diawali Kiai Zainudin sebelum pindah ke Pondok Tunglur Kediri dan digantikan Kiai Abdul Mu’in. Kemudian pada generasi keempat ada Kiai Jamal Qomarudin dan Kiai Muhammad Ayub. Ponpes Darul ‘Ulum pernah mencapai puncaknya pada 1965 dalam asuhan Kiai Jamal Qomarudin dan Kiai Muhammad Ayub. Kala itu, geger situasi politik salah satu mempengaruhi masyarakat yang ingin mencari tempat aman dan pondok menjadi salah satu tujuannya. Ada sekitar 400-500 santri dari berbagai daerah. Kemudian generasi kelima ada KH Imam Hambali dan Hj Durotunnasihah, serta generasi keenam salah satunya adalah Gus Itsna.

Dimakamkan di Pemakaman Umum

Sebagai tokoh masyarakat dan pendiri Ponpes Darul ‘Ulum, tak membuat KH Sulaiman merasa istimewa. Dalam perjuangan dakwah beliau salah satu pesan yang menonjol adalah laku humul atau sikap membumi dan ingin seperti masyarakat biasa. Contoh nyata adalah akhir perjalanan hidup Mbah Sulaiman, beliau dimakamkan di Pemakaman Selotumpuk bersama masyarakat setempat. Makam beliau berdekatan dengan kerabat ponpes lainnya. Saat ini, area makam tersebut dibangun sebuah cungkup.

Pada masa awal dakwahnya, Mbah Sulaiman mengajarkan ilmu suluk kepada sekitar 20 santrinya ketika tiba di Lingkungan Selotumpuk. Ketika beliau mengasuh pondok masih menggunakan model halaqah, beliau menjabarkan beberapa kitab dan tentu saja kitab Ithaf Sadatil Muttaqin Syarah Ihya Ulumuddin yang disimak para santri. Di lain kesempatan berganti santri yang membaca Alquran dan kitab, beliau secara bergiliran menyimak perkembangan materi para santri. “Beliau lebih fokus pada ilmu tasawuf, dzikir dan ngaji hati,” jelas Muhammad Itsna Hambali.

Saat ini, untuk mengenang jasa-jasa KH Sulaiman dan generasi awal ponpes lainnya, setiap tahun keluarga dan santri menggelar haul akbar, yakni pada momen Rabiul Awal untuk para alumni dan Syaban ketika penutupan kegiatan pondok. Selain itu juga ada ngaji rutinan setiap Ahad Pahing untuk para alumni Ponpes Darul ‘Ulum. Setidaknya saat ini ada 50 santri putra putri yang menimba ilmu di ponpes. (*) 

(rt/yan/esi/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news