alexametrics
Senin, 21 Jun 2021
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features
Luchy Riswanti, Perajin Berbahan Batu Alam

Buat Berbagai Aksesori, Ciri Khas Tonjolkan Gaya Etnik

17 Mei 2021, 11: 57: 51 WIB | editor : Alwik Ruslianto

MANFAATKAN PELUANG: Luchy Riswanti menyelesaikan pesanan tasbih traveling di galeri miliknya.

MANFAATKAN PELUANG: Luchy Riswanti menyelesaikan pesanan tasbih traveling di galeri miliknya. (ANANIAS AYUNDA PRIMASTUTI/RATU)

Kreatif dan pandai membaca peluang, begitulah yang dilakukan oleh Luchy Riswanti. Seorang crafter aksesori berbahan batu alam dan wire craft. Produk-produk buatannya pun mulai dilirik hingga ke luar kota.

ANANIAS AYUNDA PRIMASTUTI, Kedungwaru, Radar Tulungagung

Di sebuah ruang yang didominasi cat warna putih dan abu-abu muda, seorang wanita berjilbab tampak terduduk di depan meja kecil. Meja yang berbentuk persegi panjang tersebut penuh dengan aneka batuan alam dan juga aneka manik-manik dengan ragam bentuk. “Monggo-monggo duduk sini. Ini karya-karya buatan saya. Semua handmade (buatan tangan),” sambutnya ramah ketika melihat kedatangan Koran ini.

Baca juga: Belum Tetapkan Tersangka, Tunggu Audit BPKP

Dia adalah Luchy Riswanti, seorang perajin (crafter) pembuat tasbih dan aneka aksesori berbahan batu dan wirecraft (kawat khusus kerajinan). Di ruangan yang dulunya merupakan toko jilbab miliknya, kini disulap menjadi galeri dan “bengkel” pribadi. Kecintaannya pada ragam aksesori batu alam memotivasinya menjadi perajin tasbih dan aneka aksesori khusus wanita.

Perempuan 49 tahun ini mengaku, bisnisnya bermula sekitar 10 tahun lalu. Saat itu dirinya hanya berkecimpung pada kerajinan bros untuk jilbab maupun hiasan baju. Tak sembarang bros, dalam setiap karya yang dibuatnya selalu menonjolkan gaya etnik dan menggunakan batu-batuan alam sebagai ciri khas. Tak ketinggalan, wirecraft aneka bentuk turut menjadi ciri khasnya. “Saya selalu memadukan batu dan wirecraft untuk setiap karya saya. Untuk gaya desain, saya menonjolkan gaya etnik supaya cantik,” terangnya.

Tak disangka, bros-bros buatannya laris manis di pasar dan mulai dilirik pasar. Meski terdengar sederhana, karena hanya bermodal membentuk kawat, juga diperlukan ketelitian dan kreativitas untuk produksi. Bahkan, tak jarang salah dalam merangkai atau membentuk, membuatnya harus mulai dari awal lagi. “Untuk itu, teliti sangat penting kalau sudah begini,” katanya.

Tak hanya bros yang laris manis, Luchy pun mencoba mengembangkan bisnisnya dengan produksi lain. Dua tahun terakhir dia pun mulai kembangkan dengan membuat tasbih mini yang cocok untuk traveling. Selain masih mengandalkan batu alam dan wirecraft, ini menjadi peluang bisnis baru. Sebab, praktis untuk para pelancong dan cocok digunakan sebagai kado maupun hadiah bagi orang terkasih.

Imbas pandemi, Luchy mengaku beruntung bisnisnya masih dapat bertahan. Ini lantaran ibu dua anak ini mencoba berinovasi dengan membuat konektor masker dan strapmask (kalung masker). Kedua item ini merupakan aksesori yang sedang diburu karena tak hanya menjadi kebutuhan belaka, tapi juga tren fashion baru. “Anjuran agar tetap menggunakan masker ini memunculkan tren fashion baru. Seperti munculnya strapmask dan konektor masker,”urainya.

Tak ketinggalan, dalam momen Lebaran tahun ini, adanya pandemi menciptakan tren baru dengan saling berkirim parsel atau hampers Lebaran. Untuk itu, ibu satu anak ini pun ambil bagian. “Saya membuat paket hampers Lebaran. Selain unik, juga bisa lebih berguna daripada sekedar bingkisan biasa,” ujarnya.

Pemesan datang dari berbagai daerah seperti Surabaya, Sidoarjo, Banyuwangi, Malang, hingga Jember. Ke depan, dia ingin mengembangkan lagi bisnisnya, memadukan kawat dengan batu dan mutiara. (*)

(rt/nda/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news