alexametrics
Senin, 21 Jun 2021
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features
Cerita Penggagas Pemuda Kreatif

Percantik Jalan Desa Sukowetan, Kecamatan Karangan

Emoh Lampion Monoton, Habiskan Duit Rp 3 Juta

17 Mei 2021, 12: 01: 17 WIB | editor : Alwik Ruslianto

BANGGA: Zainul Arifin selesai merakit lampion yang dikombinasikan dengan sepeda untuk menghias jalan Desa Sukowetan, Kecamatan Karangan.

BANGGA: Zainul Arifin selesai merakit lampion yang dikombinasikan dengan sepeda untuk menghias jalan Desa Sukowetan, Kecamatan Karangan. (HENNY SURYA AKBAR PURNA PUTRA/RADAR TRENGGALEK)

Pandemi Covid-19 tak menyurutkan warga Desa Sukowetan, Kecamatan Karangan, tetap semangat untuk menyambut hari kemenangan pada Idul Fitri 1442 Hijriah nanti. Semangat itu mereka tunjukkan dengan menghias sepanjang jalan poros desa menggunakan lampion sepeda yang unik. 

HENNY SURYA AKBAR PURNA PUTRA, Karangan, Radar Trenggalek 

IDUL FITRI tahun ini kali kedua dirayakan dengan situasi yang serba terbatas. Momen libur Lebaran yang biasa digunakan masyarakat untuk mudik dan bersilaturahmi dengan keluarga, kini pun menambah risiko terjadinya lonjakan Covid-19. Tak ayal, pemerintah memutuskan budaya mudik Lebaran tahun ini tidak diperbolehkan. 

Baca juga: 45 Ribu Kendaraan Diminta Putar Balik

Di tengah keterbatasan ruang gerak masyarakat di tengah pandemi, menginspirasi warga Desa Sukowetan, Kecamatan Karangan, membuat kreativitas menghias jalan desa dengan lampion. Kreativitas itu terlihat ketika lampion yang mereka buat memiliki bentuk yang bervariasi dan unik.

Lampion di RT 03 RW 01 hanya dapat dinikmati saat matahari terbenam. Pancaran cahaya berwarna merah, putih, kuning, dan biru menambah keindahan jalan, dari yang semula hanya lampu yang berwarna putih. 

Zainul Arifin, salah satu penggerak anak-anak muda di Desa Sukowetan mengatakan, aktivitas menghias jalan desa dengan lampion menjelang Lebaran adalah sebuah tradisi. Di tahun-tahun sebelumnya, warga desa gotong-royong membuat lampion. Bedanya, lampion tahun ini, kata Zainul, berawal dari ide yang muncul pada Lebaran tahun lalu. "Idenya udah setahun yang lalu," ungkap pria bertubuh tambun itu. 

Dia mengaku, hiasan lampion tahun ini berbeda karena memiliki bentuk yang bervariasi, seperti sepeda, huruf, roda, dan sebagainya. Variasi lampion dengan bentuk sepeda karena sepeda menjadi simbol yang diartikan media berolahraga. Olahraga menjadi aktivitas penting di tengah pandemi karena olahraga dapat menambah kekebalan tubuh agar tak mudah terserang penyakit. "Sehingga masih selaras dengan cara menjaga imun tubuh di tengah pandemi Covid-19," kata dia. 

Warga RT 03 RW 1 itu mengatakan, pembuatan bentuk lampion itu tergantung kreativitas warga. Sehingga bentuk-bentuk lampion di tiap RT bisa berbeda. Perbedaan itu, kata Zainul, justru bisa menambah keindahan agar tidak terkesan monoton. "Inisiatifnya kawan-kawan biar agak beda. Lampu plengkung kan udah biasa," sambungnya.

Diakuinya, ada beberapa titik lampion yang belum dipasang, namun dalam waktu dekat akan segera terselesaikan. "Anggaran dari warga, tidak dipatok berapa iurannya. Namun apabila dihitung dari nol itu bisa sampai Rp 3 juta," ucapnya. 

Hiasan lampion unik di Desa Sukowetan, Kecamatan Karangan, menurut Zainul, belum diketahui bisa menjadi wisata desa atau tidak. Menurut dia, latar menghias jalan dengan lampion ini adalah budaya menjelang Lebaran saja. "Tergantung tanggapan dari warga dan masyarakat luar. Apabila ada masukan untuk dibuat wisata desa, tidak apa," ujarnya. 

Sembari menikmati keindahan lampion, Zainul menuturkan, terselip hikmah yang dapat dipetik ketika warga semangat menghias jalan dengan lampion. Menurutnya, hikmah yang terkandung adalah nilai kegotongroyongan. Itu dibuktikan ketika warga semangat mulai dari iuran sampai turut membantu saat memasang lampion. "Itu 100 persen dana dari warga RT 03 dan usaha sendiri," tutupnya. (*)

(rt/pur/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news