alexametrics
Minggu, 19 Sep 2021
radartulungagung
Home > Blitar
icon featured
Blitar

BOR di Blitar Mulai Kritis

30 Juni 2021, 11: 58: 49 WIB | editor : Alwik Ruslianto

Ilustrasi

Ilustrasi (Istimewa)

Bed occupancy rate (BOR) alias keterpakaian tempat tidur untuk fasilitas penanganan Covid-19 di Kabupaten Blitar kini nyaris menyentuh angka 80 persen atau kritis. Pemerintah meminta pengelola beberapa fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) di Kabupaten Blitar agar menambah 30 persen dari kapasitas yang ada kini, untuk mengantisipasi lonjakan kasus korona.

“Ini tidak hanya berlaku untuk rumah sakit rujukan Covid-19, tapi juga semua rumah sakit,” jelas Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Blitar Eko Wahyudi.

Jumlah total tempat tidur untuk pasien korona di Kabupaten Blitar tersedia 188 tempat tidur. Ini merupakan akumulasi sarana atau fasilitas yang ada di rumah sakit milik daerah maupun swasta.

Baca juga: Lingkungan Tawangsari Lockdown

Dia mengaku, upaya antisipasi dengan menyediakan fasilitas tambahan ini tidaklah sederhana. Selain harus menyisihkan ruangan dan mempersiapkan tempat, juga harus ada tenaga kesehatan yang nantinya memberikan pelayanan kesehatan terhadap pasien. Padahal, tidak semua rumah sakit memiliki sumber daya manusia yang melimpah. “Idealnya memang ditambah 30 persen. Tapi kami juga menyadari bagaimana kemampuan rumah sakit yang ada,” tegasnya.

Menurut dia, penambahan fasilitas ini tidak akan berpengaruh banyak ketika tidak didukung oleh tenaga kesehatan, yang nantinya memberikan perawatan kepada pasien korona. Karena alasan ini pula pemerintah daerah tidak akan begitu memaksakan dengan mewajibkan agar ada tambahan 30 persen itu. “Jadi ya memang harus menyesuaikan kemampuan fasyankes,” terangnya.

Sementara itu, Plt Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blitar Miftakhul Huda mengatakan, kondisi yang ada kini menjadi warning untuk semua pihak. Tidak hanya pemerintah daerah, tapi juga masyarakat. Protokoler kesehatan menjadi hal yang wajib dilaksanakan. Sebab, masyarakat merupakan garda terdepan dalam perang melawan korona. “Masyarakat mohon pengertiannya. Kalau tidak sama-sama, terus terang kami yang di tingkat kuratif ini jadi sangat berat. BOR kami sudah mendekati 80 persen, ventilator sudah terpakai semua,” terangnya.

Saat ini, kata Huda, dua rumah sakit rujukan Covid-19 milik daerah sudah mengupayakan tambahan fasilitas. Hal ini semata untuk mengantisipasi terjadinya lonjakan kasus. Meski begitu, hal ini tidak akan ada artinya ketika dari sektor hulu (masyarakat, Red) tidak mengindahkan imbauan pemerintah untuk menaati protokoler kesehatan. “Kondisi hari ini seperti itu, harus bersama-sama. Dari hulu hingga hilir harus jalan semua secara bersama,” harapnya.

Pihaknya juga berpesan bagi mereka yang kini menjalani isolasi mandiri di rumah. Meski tanpa gejala, protokol kesehatan harus dilakukan. Minimal setelah 11 hari jika memang tidak ada gejala medis, bisa kembali melaksanakan aktivitas di luar. Namun, selama itu pula harus tetap patuh sesuai dengan imbauan pemerintah. “Kalau tidak ada gejala cukup 11 hari. Tapi kalau nanti ada gejala, harus tambah tiga hari menjadi 14 hari,” pungkasnya. (*)

(rt/muh/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news