alexametrics
Minggu, 25 Jul 2021
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features
Hasanuddin, Perajin Keset Asal Desa Samir

Manfaatkan Limbah Kain Perca dan Berdayakan Ratusan Tetangga 

02 Juli 2021, 14: 11: 55 WIB | editor : Alwik Ruslianto

CARI PELUANG: Hasanuddin menganyam perca kain kaus untuk dibentuk menjadi sebuah keset rumahan kemarin (30/6).

CARI PELUANG: Hasanuddin menganyam perca kain kaus untuk dibentuk menjadi sebuah keset rumahan kemarin (30/6). (ANANIAS AYUNDA PRIMASTUTI/RATU)

Mengurangi limbah dan mendulang rezeki, begitulah yang dilakukan Hasanuddin, seorang perajin keset berbahan perca kain asal Desa Samir, Kecamatan Ngunut. Dengan mengajak tetangga, dia kini berhasil menggandeng 100 perajin keset untuk meningkatkan ekonomi lokal.

ANANIAS AYUNDA PRIMASTUTI, Ngunut, Radar Tulungagung

Tumpukan karung besar berisi kain perca tampak terjajar di teras samping kediaman Hasanuddin yang beralamat di Desa Samir, Kecamatan Ngunut. Ya, bagi sebagian besar orang, kain-kain perca ini merupakan limbah yang tidak terpakai dan merusak lingkungan. Namun tidak demikian bagi Hasanuddin.

Baca juga: Permohonan AK1 Naik 40 Persen

Menurut dia, kain-kain perca ini merupakan pundi-pundi rupiah yang bernilai besar. Karena kain-kain perca ini diubahnya menjadi aneka kebutuhan rumah tangga, seperti keset hingga lampin untuk keperluan dapur. “Kain-kain perca ini saya jahit. Ada juga yang saya anyam untuk menjadi keset seperti ini,” jelasnya mengawali cerita.

Pria 40 tahun ini mengaku mulai merintis usahanya ini sejak 2009 silam. Saat itu dia awali dengan melakukan bisnis jual beli kain perca. Dia tahu bahwa limbah kain merupakan salah satu permasalahan lingkungan yang belum terselesaikan. Itu karena limbah kain tidak dapat terurai. Diperlukan proses yang dapat membuat kain-kain tersebut menjadi barang yang dapat digunakan kembali. “Saat itu pabrik-pabrik garmen besar itu kesulitan membuang limbah kain percanya. Karena sudah tidak terpakai, akhirnya dibawalah ke daerah-daerah seperti Tulungagung,” terangnya.

Dia yakin bahwa limbah kain tersebut masih dapat dimanfaatkan. Dengan modal nekat, dia pun belajar dengan salah seorang perajin untuk memanfaatkan kain-kain tersebut. Tak hanya belajar sendiri, dia mengajak para tetangga yang berada di sekitar rumahnya untuk ikut serta dalam pelatihan. Tetangga yang mayoritas merupakan ibu-ibu rumah tangga ini pun tertarik dan antusias untuk mengikuti pelatihan. “Dari situ kami belajar bersama-sama untuk dapat membuat kerajinan ini,” imbuhnya.

Hasan ingin apa yang dilakukannya ini tidak semata-mata hanya untuk bisnis. Tapi juga untuk pemberdayaan masyarakat sekitar. Terlebih bagi kaum ibu rumah tangga yang notabene banyak menghabiskan waktu di rumah. Yakni dengan membuat kerajinan ini tetap dapat produktif menghasilkan rupiah. Hingga kini dia telah memiliki sekitar 100 perajin, yakni tetangga yang menjadi rekan kerjanya. Dalam sehari, setiap perajin ini mampu menghasilkan sekitar 15-20 buah keset. Baik untuk keset model anyaman maupun jahit. “Saya pribadi senang karena bisa turut membantu memberdayakan masyarakat sekitar untuk lebih meningkatkan kualitas ekonomi mereka,” bebernya.

Disinggung mengenai dampak pandemi, pria kelahiran 12 Maret 1981 ini mengatakan, pada dasarnya tidak ada dampak yang cukup signifikan. Dia tak menampik jika pengiriman bahan baku sedikit mengalami hambatan. Ini karena beberapa daerah menerapkan pembatasan sosial untuk menekan laju Covid-19.

Sementara untuk spesifikasi bahan, Hasan kerap menerima kain berbahan kaus dan katun. Ini bahan paling ideal untuk dibuat kerajinan. Untuk kain kaus biasanya dibuat keset dengan teknik anyam. Sementara untuk kain berbahan katun menggunakan teknik jahit. Dalam sebulan, dia mampu mendatangkan bahan baku 3-4 kali rate (perjalanan). Untuk satu kali pengiriman sekitar 4,5-5 ton limbah perca. “Ketika bahan-bahan datang, saya drop ke perajin yang menjadi rekanan saya, selain saya sendiri juga membuat di rumah,” katanya.

Untuk penjualan, dia mengatakan, sampai kini masih berputar di area Jawa Timur (Jatim). Seperti lokal Tulungagung, Ponorogo, Kediri, Jombang, Surabaya, Gresik, Blitar, dan Malang.

Dia berharap apa yang telah dilakukannya ini dapat menjadi upaya kecil untuk mengurangi limbah kain dan berdampak positif pada ekonomi masyarakat melalui pemberdayaan ekonomi. (*)

(rt/nda/alwk/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news