alexametrics
Minggu, 24 Oct 2021
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features
Sepi Pembeli

Nestapa Pedagang MBK yang Terdampak PPKM Darurat

Terpaksa “Ngutang” Bayar Kontrak Kios

14 Juli 2021, 14: 43: 34 WIB | editor : Alwik Ruslianto

GALAU: Salah satu pedagang oleh-oleh di kios sebelah barat MBK menunggu pengunjung yang mampir.

GALAU: Salah satu pedagang oleh-oleh di kios sebelah barat MBK menunggu pengunjung yang mampir. (MOCHAMMAD SUBCHAN ABDULLAH/ RADAR BLITAR)

Sejak tempat wisata Makam Bung Karno ditutup total, aktivitas perdagangan di sekitar sepi. Sebagian toko ada yang tetap buka dan sebagian lagi harus tutup total. Pedagang berharap ada keringanan biaya sewa kios dari pemerintah daerah. Karena kios-kios yang mereka tempati adalah milik pemerintah.

MOCHAMMAD SUBCHAN ABDULLAH, Kepanjenkidul, Radar Blitar

Suasana di kawasan wisata MBK terutama di city walk sore kemarin (13/7) terasa lengang. Yang biasanya ramai dengan hilir mudik becak wisata dan wisatawan, kini berubah sepi. Tiada lagi keramaian di tempat wisata yang konon sepekan mampu menyedot pengunjung hampir 2 ribu orang itu. Tak hanya warga lokal, tetapi dari luar daerah.

Baca juga: Distribusi Buku Pelajaran Tunggu Jadwal

Sejak penerapan PPKM darurat pada 2 Juli lalu, Pemkot Blitar memutuskan menutup total seluruh tempat wisata. Artinya, tidak ada lagi kunjungan wisata di Kota Blitar. Hal itu dilakukan demi mengurangi mobilitas masyarakat dan mencegah penyebaran Covid-19 terutama varian baru dari virus korona.

Perekonomian pedagang oleh-oleh di sekitar MBK pun terimbas. Selama PPKM darurat berlangsung, hampir tidak ada pemasukan sama sekali. Pembeli sangat sepi, bahkan hampir tidak ada. Pedagang pun hanya bisa pasrah.

Lebih parah lagi pedagang yang berjualan di kios-kios milik pemerintah daerah. Lokasinya berada tepat di utara makam presiden pertama RI tersebut. Lapak maupun kios di sana tutup total. Tak ada lagi yang berjualan.

Kalaupun nekat buka, siapa mau yang membeli? Wisatawan juga tidak ada. Sumber penghasilan utama mereka hanya dari wisatawan tersebut. Itu pun tidak semua wisatawan membeli dagangan.

Di kawasan wisata MBK, terdiri dari dua kelompok pedagang. Yang satu pedagang yang berada di barat MBK dan satunya lagi berada di utara makam. Pedagang yang di sebelah barat masih tetap membuka kiosnya. Sementara yang di utara makam tutup total. ”Yang di sini masih buka. Soalnya yang sebelah barat makam ini kan milik pribadi. Warga setempat,” tutur Susi Surati, salah satu pedagang MBK sisi barat.

Pedagang baju itu mengaku terdampak dengan penerapan PPKM darurat. Penjualan menurun drastis. Tidak ada pemasukan sama sekali. “Wisata ditutup, tidak ada lagi pengunjung. Apalagi yang mampir membeli oleh-oleh atau bingkisan,” terang perempuan 44 tahun ini.

Dampak itu pun kian terasa ketika PPKM darurat. Sebelumnya, masih ada pemasukan meskipun sedikit. ”Mau bagaimana lagi. Kondisinya memang begini. Ini pagebluk, tujuannya semua sehat,” ungkapnya.

Muji Asri, pedagang lain juga mengungkapkan hal senada. Sejak PPKM darurat, penjualan sepi mampring. “Bahkan, hampir tidak ada sama sekali. Kalaupun ada, akhir pekan itu hanya satu atau dua pengunjung saja. Itu pun warga lokal,” jelasnya.

Akibat sepi pembeli, pemasukan yang diterima tidak ada sama sekali. Apalagi, dirinya juga memiliki sejumlah tanggungan. Salah satunya pembayaran uang kontrak kios di barat MBK. ”Ya, karena tidak ada pemasukan. Saya mau tidak mau ngutang untuk menutup tanggungan,” ujar perempuan 67 tahun ini.

Murjoko dan rekan-rekannya berharap ada kompensasi dari Pemkot Blitar kepada pedagang yang terdampak kebijakan penutupan sementara wisata Makam Bung Karno. Minimal kompensasi berupa pembebasan uang sewa kios dan lahan. Sebab, kios maupun lahan yang ditempati pedagang di utara MBK merupakan milik pemkot Blitar. ”Ya, minimal pembebasan uang sewa kios dan lahan selama penutupan wisata Makam Bung Karno," katanya. (*)

(rt/kan/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news