alexametrics
Minggu, 25 Jul 2021
radartulungagung
Home > Ekonomi
icon featured
Ekonomi

Ratusan Koperasi Terancam Bubar

14 Juli 2021, 19: 09: 00 WIB | editor : Alwik Ruslianto

Ilustrasi

Ilustrasi (HENDRA NOVIAS/RATU)

KOTA, Radar Tulungagung – Ratusan koperasi di Tulungagung terancam dibubarkan pada 2021 ini. Sebab, tidak pernah menggelar rapat anggota tahunan (RAT) selama tiga kali berturut-turut dan tidak memiliki program yang jelas. Padahal, RAT menjadi syarat penting bagi koperasi. Rapat tersebut sebagai bentuk laporan pengurus dan pengawas kepada anggotanya.

Dari data yang berhasil dihimpun Koran ini, hingga kini tercatat sudah 197 koperasi diusulkan untuk dibubarkan pada 2021 ini. Dari sekitar 1.407 koperasi yang ada di Kota Marmer, sebanyak 736 merupakan koperasi yang aktif. Sementara 197 koperasi akan dibubarkan. Sisanya sudah tidak aktif dan tidak sehat.

Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro (Dinkop UM) Kabupaten Tulungagung Slamet Sunarto melanjutkan, jumlah koperasi yang terancam dibubarkan mengalami tren kenaikan. Buktinya, dari 2020 lalu sampai kini, terdapat 221 yang terancam bubar. Namun dari jumlah tersebut, setelah dilakukan verifikasi ulang, tercatat sebanyak 197 koperasi yang diusulkan untuk bubar. “Sampai kini masih menunggu informasi lebih lanjut dari kementerian pusat. Karena kami yang di daerah hanya sebagai pengusul,” terangnya.

Baca juga: Rekor, Sehari Tambah 103 Kasus

Dari 197 koperasi yang akan dibubarkan ini didominasi oleh jenis koperasi serba usaha (KSU), koperasi simpan pinjam (KSP), dan koperasi pertanian. Salah satu faktor yang membuat koperasi tidak aktif, yakni masalah kelembagaan. Dalam hal ini pengurus tidak dapat menjalankan koperasi seperti seharusnya. Selain itu, macetnya usaha juga dapat memicu koperasi tidak berjalan dengan baik. Jadi membuat koperasi tidak aktif dalam waktu lama.

Berdasar Peraturan Menteri Koperasi Nomor 9 Tahun 2018 tentang Penyelenggaraan dan Pembinaan Koperasi, ada beberapa faktor yang dapat membuat koperasi dibubarkan. Salah satunya, tidak menyelenggarakan RAT selama tiga tahun berturut-turut.

Dia menjelaskan pentingnya melakukan RAT sebagai bentuk laporan pengurus dan pengawas kepada anggotanya. Tak hanya itu, tidak melakukan RAT juga berarti tidak mendapat fasilitas dari pemerintah. Seperti tidak dapat mengakses program dana bergulir, tidak mendapatkan fasilitasi program pemerintah, dan tidak dapat mengakses layanan di pelayanan terpadu satu pintu (PTSP).

Tak hanya itu, koperasi dapat dibubarkan oleh pemerintah jika tidak melakukan kegiatan usaha secara nyata selama dua tahun berturut-turut. Terhitung sejak tanggal pengesahan akta pendirian koperasi.

Pria berkacamata ini mengaku setidaknya RAT dilakukan minimal sekali dalam setahun. Yakni sesudah tutup buku, sekitar Januari hingga Maret. Untuk itu, dia mengimbau semua koperasi untuk melaksanakan peraturan yang ada. Termasuk mengadakan RAT secara rutin. Tak hanya itu, program yang telah disepakati sesama anggota koperasi hendaknya dapat berjalan. “RAT ini sangat penting. Sebab, wajib untuk memberikan pelaporan mengenai pengelolaan koperasi pada anggota,” jelasnya.

Tak kalah penting, pria berkulit sawo matang ini berpesan kepada masyarakat untuk waspada dengan koperasi jenis menghimpun dana. Sebab, koperasi ini rawan bermasalah. “Beberapa kasus kerap terjadi karena dana hanya dihimpun di situ, akhirnya dibawa lari. Jadi jangan mudah percaya dengan koperasi yang menawarkan bunga tinggi atau iming-iming lain,” katanya. (*)

(rt/nda/alwk/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news