alexametrics
Sabtu, 24 Jul 2021
radartulungagung
Home > Ekonomi
icon featured
Ekonomi

Penjualan Rempah Turun

19 Juli 2021, 15: 24: 21 WIB | editor : Alwik Ruslianto

SEPI: Pedagang di Pasar Ngemplak saat menimbang rempah.

SEPI: Pedagang di Pasar Ngemplak saat menimbang rempah. (SITI MARIYAM/RATU)

KOTA, Radar Tulungagung - Pedagang rempah-rempah di Pasar Ngemplak mengeluh akibat dampak pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat. Omzet mereka pun turun drastis dibandingkan sebelum kebijakan tersebut.  

Salah satu penjual rempah, Maknem mengatakan, sejak PPKM penghasilannya mengalami penurunan akibat sepinya penjualan. "Sekarang cari uang sehari Rp 1 juta. Dari penjualan saja tidak dapat. Rp 1 juta itu bukan hitungan laba, tapi penjualan rempah dalam sehari," ujarnya.

Dia mengaku rata-rata konsumennya merupakan penjual minuman susu telur madu jahe (STMJ), ronde, warung kopi, dan penjual sayur. "Biasanya warung kopi dan penjual ronde buka pukul 18.00 sampai 23.59, sekarang buka pukul 18.00 sampai 20.00. Jadi banyak yang tidak jualan, jam segitu apakah mereka juga sudah mendapatkan uang dari penjualan tersebut?" ungkapnya.

Baca juga: Peternak Ikan Hias Kesulitan Mencari Oksigen Sejak Awal PPKM Darurat

Dia mengaku mendapatkan rempah-rempah jahe, kunci, dan kencur dikirim dari Trenggalek. Untuk temulawak, kunir putih, dan lain-lain dari Pagerwojo. “Harga jahe kini sedang naik, saya tetap mengambil laba cuma sedikit. Harga jahe merah Rp 20 ribu, jahe lokal Rp 15 ribu, dan jahe emprit Rp 22 ribu. Dari harga itulah harga jual termurah. Namun rempah-rempah yang lainnya harganya masih standar tidak mengalami kenaikan," ujarnya. (*)

(rt/fid/alwk/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news