alexametrics
Senin, 20 Sep 2021
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features

Bank Sampah Mandiri Atasi Sampah Rumah Tangga dengan Maggot

Ramah Lingkungan dan Bernilai Ekonomis

19 Juli 2021, 15: 39: 40 WIB | editor : Alwik Ruslianto

RAMAH LINGKUNGAN: Suwignyo memberi makan maggot hasil budi dayanya bersama Bank Sampah Mandiri Desa Sobontoro.

RAMAH LINGKUNGAN: Suwignyo memberi makan maggot hasil budi dayanya bersama Bank Sampah Mandiri Desa Sobontoro. (ANANIAS AYUNDA PRIMASTUTI/RATU)

 Limbah organik masih menjadi permasalahan utama lingkungan. Bagaimana tidak, hampir 70 persen sampah di TPA berasal dari limbah organik. Kondisi ini menggerakkan Bank Sampah Mandiri Desa Sobontoro untuk budi daya maggot atau belatung untuk membantu menanggulangi jumlah limbah organik.

ANANIAS AYUNDA PRIMASTUTI, Boyolangu, Radar Tulungagung

Suasana dingin nan asri menyambut kedatangan Koran ini ketika bertandang ke Bank Sampah Mandiri Desa Sobontoro, Kecamatan Boyolangu. Di salah satu sudut pekarangan, terdapat sebuah jaring besar berwarna hijau yang dibentuk membentuk balok besar. Tak jauh dari situ, terdapat sebuah papan panjang tingkat tiga yang sedang dibersihkan oleh seorang pria. “Mangga-mangga, ini baru saja selesai panen belatung,” sapanya seraya membersihkan sarung tangan yang sedari tadi dipakainya.

Baca juga: Sembelih Hewan Kurban di RPH Saja

Pria bernama Suwignyo yang merupakan ketua Bank Sampah Mandiri Desa Sobontoro ini mengatakan, keberadaan sampah organik yang berasal dari limbah rumah tangga yang masih mendominasi tempat pembuangan akhir (TPA) sampah. Padahal, limbah-limbah organik ini masih dapat diolah sehingga dapat meminimalisasi pencemaran lingkungan. “Hampir 70 persen sampah yang ada di TPA itu adalah limbah organik dan berasal dari rumah tangga,” jelasnya.

Bermula dari kondisi ini, mendorongnya beserta anggota bank sampah mandiri Desa Sobontoro untuk melakukan budi daya maggot. Selain lebih ekonomis, budi daya maggot ini juga dinilai lebih ramah lingkungan. Sebab, tidak membutuhkan modal dan peralatan yang rumit. Hanya memerlukan boks kayu yang dapat dibuat dari tripleks bekas. Nantinya belatung-belatung ini akan memakan sampah-sampah organik seperti sisa sayur, buah, lauk, maupun sampah organik lainnya. “Itulah kenapa budi daya belatung ini dapat menjadi salah satu solusi bagi permasalahan sampah,” terangnya.

Suwignyo melanjutkan, siklus hidup yang relatif cepat dan mudah dikembangbiakan menjadi solusi mudah untuk menanggulangi sampah. Caranya telur-telur belatung akan mulai menetas menjadi baby maggot setelah berumur tiga hingga empat hari. Meski masih berusia baby, namun hewan ini ini tetap dapat mengkonsumsi limbah organik sebagai makanan baginya. Nantinya jika telah berusia 10-12 hari, baby maggot tumbuh menjadi fresh maggot. “Pada tahap ini dapat dimanfaatkan dengan baik untuk memakan sampah-sampah organik yang berasal dari rumah tangga. Jadi jumlah sampah yang sampai ke TPA juga dapat berkurang,” urainya.

Pria ramah ini mengaku 1 kilogram (kg) maggot mampu mengolah sekitar 2 kg sampah organik selama 24 jam penuh. Jadi jika hewan-hewan ini dibudidayakan dengan baik, tentunya dapat menjadi salah satu solusi dari permasalahan lingkungan.

Tak hanya dapat dimanfaatkan untuk mengurangi limbah di rumah tangga, budi daya maggot juga dapat menjadi lahan bisnis yang menjanjikan. Sebab, tidak memerlukan waktu yang lama untuk siap dipanen dan dijual ke pasar. “Hanya butuh waktu 22 hari saja supaya bisa dipanen. Itu sudah maksimal. Jika sudah lewat dari itu, maggot akan berubah menjadi prepupa dan menjadi pupa dan lalat. Nah, lalat ini yang akan kembali menghasilkan telur. Begitu seterusnya,” bebernya.

Untuk itu, Suwignyo berharap, langkahnya untuk melakukan budi daya maggot ini dapat menjadi upaya kecil untuk menyelesaikan permasalahan lingkungan di Kabupaten Tulungagung. Selain dapat mengurangi permasalahan limbah, juga dapat menjadi lahan bisnis dan menggerakkan perekonomian warga setempat. (*)

(rt/nda/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news