alexametrics
Minggu, 25 Jul 2021
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features

Dua Kali Idul Adha bagi Pelaku Usaha Pengolah Kulit di Kademangan

Stok Melimpah, Barang Tak Bisa Keluar

21 Juli 2021, 11: 57: 25 WIB | editor : Alwik Ruslianto

MELIMPAH: Beberapa pekerja membersihkan bulu yang masih menempel pada kulit sapi.

MELIMPAH: Beberapa pekerja membersihkan bulu yang masih menempel pada kulit sapi. (AGUS MUHAIMIN/RADAR BLITAR)

Pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) menjadi tantangan bagi pelaku usaha pengolah kulit. Selain orderan sepi, mobilitas barang dibatasi. Stok pun melimpah terlebih saat momen Idul Adha.

AGUS MUHAIMIN, Radar Blitar, Kademangan

Aroma anyir darah menguar dari rumah Anis Kurniasari. Bangunan bergaya modern minimalis itu berdiri di lahan yang cukup luas. Di bagian belakang hunian tersebut terdapat area produksi pengolahan kulit sapi.

Baca juga: Tidak Sedikit Calon Penumpang yang Memilih Tunda Perjalanan

Usut punya usut, warga Desa Tuliskroyo, Kecamatan Sanankulon itu sudah lama menggeluti usaha pengolahan kulit sapi. Baik untuk bahan kerupuk rambak maupun untuk memenuhi kebutuhan industri fashion. Yakni berupa produk tas, jaket, sepatu, dan sebagainya.

Kemarin (20/7), belasan pekerja terlihat sibuk di belakang rumah tersebut. Ada yang memindahkan potongan kepala sapi dan kulit dari kendaraan yang kebetulan bisa langsung masuk ke area produksi. Ada juga yang berjibaku dengan tungku-tungku perebusan kulit. Tujuan perebusan ini umtuk memisahkan kulit dari bulu. “Yang direbus ini adalah kulit sapi jantan,” kata Anis Kurniasari.

Kenapa kulit sapi jantan? Ternyata tidak semua kulit sapi bisa diolah menjadi kerupuk rambak. Kendati kulit sapi betina lebih tipis, nyatanya butuh waktu lebih dari lima jam agar bagian tubuh hewan ini melunak. Hal ini jelas tidak efisien bagi pelaku usaha.

Meski begitu, bukannya kulit sapi betina tidak berguna. Sebaliknya, dengan perlakuan khusus, kulit ini bisa diolah menjadi bahan baku untuk industri fashion. Semisal jaket, sepatu, tas, dan sebagaianya.

Selama ini Anis hanya mengolah bahan setengah jadi. Artinya, dia tidak menggeluti produksi krupuk rambak atau produksi kulit yang siap pakai. “Kulit sapi belinya hanya sampai pada proses pengawetan saja agar tidak busuk. Setelah itu dibawa ke Malang, Magetan, dan Gunungkidul. Sedangkan untuk bahan baku kerupuk rambak biasanya dibawa ke Tulungagung,” katanya.

Selama ini Anis juga tidak perlu repot mengirimkan barang. Sebab, secara berkala pelanggannya dari luar daerauh tersebut selalu datang untuk mengambil barang barang proses. Hanya pada waktu tertentu, dia diminta mengirimkan barang.

Dalam sehari rata-rata ada sekitar 25 atau 30 lembar kulit sapi yang dia proses. Namun, pada momen tertentu seperti Idul Adha saat ini, dalam sehari bisa mencapai 400- 500 lembar kulit yang dia terima. Akibatnya, dia juga harus nambah pegawai untuk meningkatkan produktivitas.

Melimpahnya bahan baku usaha ini bukan berarti kabar baik bagi Anis. Sebab, daya beli masyarakat sedang menurun akibat pandemi korona. Di sisi lain, Anis tidak dapat menahan masuknya barang karena sudah berkomitmen dengan para petugas potong hewan. “Harganya memang tidak sama, lebih mahal ketika hari biasa. Tapi kalau jumlah barang yang harus dibeli banyak, otomatis modalnya juga besar,” ungkapnya.

Hal ini jelas tidak bagus. Sebab, barang yang masuk tersebut harus dibeli secara tunai. Padahal, dari sisi penjualan sedang tidak lancar karena menurunnya daya beli masyarakat. “Untungnya selalu ada penolong. Siapa? Paman bank,” kata Anis lantas tertawa.

Tidak hanya daya beli menurun, pandemi korona juga menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku usaha. Sebab, ada pembatasan mobilitas barang. Tidak semua komoditas atau barang bisa keluar masuk. Kecuali barang kebutuhan pokok masyarakat seperti sembako. Akibatnya, stok barang di gudang kini menumpuk.

Anis pernah berinisiatif untuk mengolah kulit sapi jantan ini menjadi kerupuk rambak sendiri. Menurut dia, respons masyarakat cukup baik. Minimal dari lingkungan sekitar dan kerabat.

Dia juga paham, sampling kecil ini tidak cukup. Dia harus fokus jika berencana melebarkan sayap usaha. Tentunya juga harus siap dengan segala risiko yang nanti harus ditanggung. “Nah, sumber daya untuk pemasaran kerupuk rambak ini yang belum siap. Sebenarnya juga bisa mengolah sendiri,” ujarnya. (*)

(rt/muh/alwk/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news