alexametrics
Senin, 20 Sep 2021
radartulungagung
Home > Blitar
icon featured
Blitar

Bola Panas di Tangan Bupati

Tim Laporkan Ada Progres

24 Juli 2021, 09: 45: 50 WIB | editor : Alwik Ruslianto

Bola Panas di Tangan Bupati

WLINGI, Radar Blitar - Bola panas terkait dugaan pencemaran lingkungan yang dilakukan oleh PT Greenfields kini ada di tangan bupati Blitar. Sebab, tim  yang ditugasi melakukan pemantauan langsung beberapa waktu lalu sudah menyampaikan laporan terkait penanganan pencemaran limbah oleh perusahaan bermodal asing tersebut.

Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Blitar Tuti Komaryati mengatakan, Senin lalu (19/7) pihaknya bersama rombongan telah melakukan pemantauan progres pengelolaan limbah milik PT Greenfields. “Kami sudah buat nota laporan kepada bupati dari hasil pantauan lapangan bersama tim,” katanya.

Ada beberapa poin yang dilaporkan dari hasil pengamatan lapangan tersebut. Di antaranya terkait pipanisasi dalam penerapan land application yang menjadi salah satu model pengelolaan limbah di perusahaan peternakan tersebut. “Kami memang belum menemukan aktivitas pembuangan limbah secara langsung. Tapi kalau pakai land application yang sekarang jelas akan memicu pencemaran lingkungan,” tegasnya.

Baca juga: Memberi Bantuan Nutrisi Bagi Tenaga Kesehatan Sebagai Garda Terdepan

Selama ini, PT Greenfields mengalirkan menur atau kotoran ternak melalui parit secara terbuka. Akibatnya, saat hujan tiba, kotoran dalam parit tersebut meluber ke sungai, lantaran posisinya (parit, Red) ada di ketinggian. Dengan menggunakan pipa, potensi pencemaran limbah memang sedikit terkurangi. “Kemarin kami memang lihat ada banyak pipa di sana dan PT Greenfields minta waktu satu bulan untuk menyelesaikan pipanisasi ini,” ujarnya.

Dia mengatakan, pihaknya juga mempertanyakan progres penyesuaian dokumen analisis dampak lingkungan (amdal). Sebab, ketika pendirian perusahaan dulu,  land application tidak masuk dalam daftar sistem pengelolaan limbah. Awalnya, PT Greenfields berencana memanfaatkan limbah produksinya untuk bio gas. Untuk itu, dokumen amdal harus disesuaikan dengan kondisi lapangan. “Kami dapat jawaban dari pihak pengelola, bahwa kini dalam proses di kementerian terkait,” katanya.

Dari keterangan PT Greenfields, jelas Tuti, menerima laporan jika pemanfaatan limbah untuk bio gas ini tetap dilaksanakan. Hanya saja kurang maksimal. Di sisi lain, dengan kapasitas limbah yang cukup besar, sistem pengelolaan limbah tersebut tidak memadai alias harus didukung dengan upaya pengelolaan yang lain. “Karena ada UU cipta kerja, penyesuaian dokumen ini harus diurus di pusat,” terangnya.

Menurut dia, tim juga mengecek efektivitas pemanfaatan menur alias limbah kotoran tersebut untuk tanaman. Ketika bertemu dengan beberapa pekerja perkebunan, pihaknya menanyakan kondisi tanaman mereka. “Kata mereka lumayan. Bagus, asal sesuai takaran. Artinya, tidak setiap hari tanaman dialiri menur,” ungkapnya.

Untuk diketahui, kasus pencemaran lingkungan yang diduga dilakukan oleh PT Greenfields sudah masuk meja persidangan. Kemarin (21/7), Pengadilan Negeri (PN) Blitar menggelar sidang perdana kasus perdata tersebut. Sayangnya, para pihak tergugat tidak hadir dalam persidangan tersebut. (*)

(rt/muh/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news