alexametrics
Minggu, 19 Sep 2021
radartulungagung
Home > Ekonomi
icon featured
Ekonomi
Imbas Pandemi dan PPKM

Daya Beli Lesu, Stok Melimpah

24 Juli 2021, 09: 55: 37 WIB | editor : Alwik Ruslianto

TERUS PRODUKTIF: Seorang pekerja sedang memproses kulit di wilayah Kademangan.

TERUS PRODUKTIF: Seorang pekerja sedang memproses kulit di wilayah Kademangan. (AGUS MUHAIMIN/RADAR BLITAR)

KADEMANGAN, Radar Blitar - Momen Idul Adha ternyata tidak menjadi musim panen bagi para perajin kulit. Pasalnya, pandemi Covid-19 berdampak pada penurunan daya beli masyarakat. Akibatnya, stok barang melimpah lantaran kesulitan pemasaran.

Pengiriman barang ke luar daerah beberapa waktu lalu juga menjadi tantangan. Sebab, adanya pemberlakuan kegiatan masyarkat (PPKM) darurat, mobililitas barang antardaerah cukup sulit.

“Kami tidak tahu, apakah memang demikian atau alasan para pedagang saja. Tapi memang adanya PPKM ini menambah daftar kendala usaha,” ujar Anis Kurniasari, salah seorang perajin kulit.

Baca juga: Insentif Nakes Baru Cair hingga Maret

Para pelaku usaha pengolah kulit ini biasanya bekerja sama dengan petugas pemotongan hewan. Ada semacam komitmen tak tertulis dalam kemitraan mereka selama ini. Artinya, setiap kali ada aktivitas penyembelihan, para pemotong hewan ini akan langsung mengirimkan barang atau kontak dengan pemilik usaha pengolah kulit.

Anis mengaku mau tak mau harus membeli kulit tersebut. Meski dua tahun ini kondisi pasar sedikit lesu karena pandemi korona. Baginya hal ini menjadi risiko dalam setiap usaha. Dia juga optimistis suatu saat nanti kondisi ini akan segera berakhir dan kondisi pasar kembali membaik. “Kalau beli dari para petugas itu tidak boleh diutang ya, harus cash,” katanya.

Beruntung, pada saat momen kurban seperti sekarang, para petugas potong paham kondisi. Barang melimpah mengakibatkan harga jual kulit tersebut turun. Kini harga kulit sekitar Rp 6 ribu per kilogram (kg). Sedangkan dalam kondisi normal, harga bisa mencapai Rp 12 ribu per kg. “Rata-rata berat kulit sapi itu sekitar 30-40 kg,” jelasnya.

Tapi, lanjut Anis, khusus saat hari raya kurban. Bobot kulit yang biasanya dikirimkan oleh para petugas potong hewan jauh lebih berat. Kemungkinan karena pada momen ini hanya sapi-sapi terbaik yang digunakan sebagai hewan kurban. “Kan pasti yang gemuk dan besar. Kadang sampai ada yang bobotnya 70 kg,” jelasnya.

Anis tidak hanya melayani produsen tas, sepatu, dan jaket. Dia juga memiliki banyak pembuat kerupuk rambak yang mayoritas di wilayah Tulungagung. 

Disinggung mengenai perbedaan sebelum dan saat pandemi, wanita ramah itu mengaku tidak berdampak pada pendapatan bahan baku. Artinya, selama tiga hari momen Idul Adha, biasanya menerima ratusan kulit tiap hari dari para pemotong hewan. “Kan sekarang banyak arisan kurban ya, jadi setiap tahun tetap banyak. Kadang sehari ada 400 lembar kulit,” tandasnya. (*)

(rt/muh/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news