alexametrics
Jumat, 22 Oct 2021
radartulungagung
icon-featured
Pendidikan

Siswa Yang Terkendala Sinyal dan Kuota Diimbau Nebeng Ke Siswa Lain

12 Agustus 2021, 12: 40: 37 WIB | editor : Alwik Ruslianto

Siswa Yang Terkendala Sinyal dan Kuota Diimbau Nebeng Ke Siswa Lain

PUCANGLABAN, Radar Tulungagung – Para orang tua murid sekolah dasar (SD) di Kota Marmer ini harus berbesar hati dalam menjalani pembelajaran jarak jauh (PJJ). Pasalnya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud)  hingga kini belum menyalurkan bantuan subsidi kuota internet bagi siswa.

Dampak ketidakjelasan jadwal penyaluran kuota subsidi internet sejak April juga dirasakan oleh para siswa di SDN 02 Pucanglaban. Pasalnya, ditemukan sejumlah siswa bertempat tinggal di wilayah yang sulit terjangkau internet dengan kualitas baik. Ini terbilang sulit, terutama bagi orang tua murid yang memiliki status ekonomi menengah ke bawah.

Kepala SDN 02 Pucanglaban, Nur Hadi mengatakan, dari total 63 murid di sekolahnya, ditemukan sedikitnya hanya 25 siswa yang tinggal di daerah yang terjangkau kualitas internet baik. Sementara sisanya bertempat tinggal di wilayah terpencil. “Itupun bukan berarti wilayahnya tidak ada sinyal sama sekali,” ujarnya.

Dia menambahkan, temuan siswa di wilayah terpencil itu hanya satu operator seluler (provider) saja yang memiliki kualitas sinyal internet yang baik. Namun, tarifnya yang mahal membuat sejumlah orang tua murid memilih menggunakan provider lain, walaupun kualitas sinyal lebih rendah. “Ini tentunya menyulitkan siswa. Padahal, saat PJJ menggunakan video call (panggilan video, Red) perlu kualitas sinyal internet yang bagus,” sambungnya.

Dia melanjutkan, PJJ dengan panggilan video memudahkan siswa untuk memahami materi belajar dengan baik. Sehingga meminimalisir ketidaktahuan siswa terkait materi tersebut. “Bila kuota subsidi internet dibagikan, guru juga lebih mudah memberikan materi melalui visual. Sebab butuh data internet yang lebih besar,” ujarnya.

Dia menambahkan, indeks nilai siswa di sekolah tersebut turun selama pandemi virus korona. Lantaran metode PJJ yang digunakan hanya melalui obrolan grup di salah satu aplikasi ponsel pintar (smartphone). Sehingga terjadi kesalahpahaman penguasaan materi belajar. Dengan demikian, pihak sekolah hanya menerapkan metode belajar dengan mengirimkan gambar lantaran ukurannya yang kecil. “Tidak menggunakan aplikasi lain, lantaran butuh data yang lebih besar,” urainya.

Dia menegaskan, untuk sementara pihaknya mengurangi kegiatan materi yang membutuhkan muatan video dengan ukuran besar. Itu mengingat bantuan subsidi internet itu belum cair pada Agustus ini. Sehingga diimbau siswa yang memiliki masalah terkait sinyal dan kuota internet, untuk menerapkan belajar bersama dengan siswa lain. Terutama siswa yang tempat tinggalnya memiliki WiFi pribadi.

Sementara itu, Kemendikbud mengumumkan besaran kuota subsidi internet untuk SD dan SMP. Yakni sebesar 10 giga bit (GB) per bulan. Namun, kuota yang diharapkan segera turun mulai Agustus nyatanya molor pada September. Sehingga jadwal penyaluran kuota subsidi tersebut belum ada kepastian. Pihak Dispendikpora berharap cairnya bantuan tersebut dapat menunjang PJJ bagi seluruh siswa. (*)

(rt/did/alwk/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news