alexametrics
Minggu, 24 Oct 2021
radartulungagung
Home > Tulungagung
icon featured
Tulungagung

Keselamatan Warga di Sembilan Desa Terancam

Lahan Kritis Seluas 5.827 Ha

27 Agustus 2021, 14: 49: 21 WIB | editor : Alwik Ruslianto

GERSANG: Tampak salah satu lahan hutan di Dusun Pucanglaban II mengalami kekeringan.

GERSANG: Tampak salah satu lahan hutan di Dusun Pucanglaban II mengalami kekeringan. (ZULFIKARY MAULUDIN HIDAYAT/RATU)

PUCANGLABAN, Radar Tulungagung - Penebangan hutan di Kecamatan  Pucanglaban mengakibatkan ribuan hektare (Ha) lahan di 9 desa gersang. Kondisi itu mengancam keselamatan warga karena rawan terjadi bencana kekeringan dan longsor.

Camat Pucanglaban Ali Muchtar mengatakan, Pucanglaban merupakan salah satu cakupan sektor yang mengalami krisis air. Lantaran diakibatkan penebangan hutan lahan. Akibatnya aliran air tanah tersendat. “Kendati mereka sejatinya sudah memiliki izin untuk menebang, bila dilihat dari kacamata iklim, itu tidak baik,” ujarnya.

Berdasarkan data yang dihimpun Koran ini, desa yang mengalami lahan kritis itu di antaranya adalah Desa Pucanglaban dengan luas lahan 995 Ha; Desa Kalidawe seluas 1.246 Ha; Desa Kaligentong 461 Ha; Desa Panggungkalak 272 Ha; Desa Sumberdadap 370 Ha; Desa Manding 395 Ha; Desa Panggungwuni 598 Ha; Desa Sumberbendo 645 Ha; dan Desa Demuk seluas 845 Ha. “Total lahan seluas 5.827 Ha dari sembilan desa itu ,” urainya.

Baca juga: Tahanan Tetap Berisiko Terpapar

Ali menambahkan, bila penebangan dilakukan terus-menerus, bukan hanya kekeringan yang akan menjadi problematika di wilayah tersebut. Bencana longsor juga dapat memicu tingkat keparahan kekeringan itu. “Rencananya dibuat program pro-iklim. Tujuannya, mempertahankan ekosistem saluran air serta pencegahan pemanasan global berkelanjutan,” lanjutnya.

Pria berkumis itu mengaku telah melakukan musyawarah desa terkait program pro-iklim sejak Juli 2020. Dengan rencana program menerapkan lahan tanam penghasil oksigen dan air tanah. “Sudah diterapkan di Desa Kalidawe untuk diuji tes. Lalu proposal diserahkan ke pihak pemerintah provinsi (pemprov),” tuturnya.

Dia mengungkapkan, lahan di Desa Kalidawe sebagai wilayah contoh (lab site) itu seluas 22 Ha. Yakni dengan menanam pohon bambu di lahan tersebut. Dengan anggapan pohon bambu dapat menghasilkan air tanah yang melimpah. “Selain itu, hasil tanamannya bisa diolah menjadi produk makanan oleh warga sekitar,” jelasnya.

Terkait pengajuan tersebut, Ali menegaskan sudah mengajukan permohonan anggaran pendapatan belanja daerah (APBD) Pemprov Jawa Timur (Jatim) sebesar Rp 7 miliar (M). “Itu sudah sejak tahun lalu. Tapi belum ada tanggapan sama sekali. Padahal, target kami dimulai pada 2022,” tandasnya.

Sementara itu, berdasarkan pantauan Koran ini, saluran gorong-gorong di Dusun Pucanglaban II sepanjang 1 kilometer (km) yang telah direhabilitasi sejak 2017 itu tidak dialiri air sama sekali. Jadi tampak daun jati kering berguguran memenuhi sela-sela selokan tersebut.

Tak jauh dari lokasi pantauan itu, lahan warga yang tengah ditanami pohon tebu memiliki kondisi tanah dengan tekstur yang kering. Air kali di sekitar lahan tersebut juga tampak keruh dan hanya setinggi 15 sentimeter (cm). (*)

(rt/did/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news