alexametrics
Jumat, 22 Oct 2021
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features

Cerita Keluarga Bibit Almuji, Korban Tabrakan Mobil dan Kereta

Ajak Foto Bersama sebelum Meninggal

31 Agustus 2021, 14: 27: 11 WIB | editor : Alwik Ruslianto

BERKACA-KACA: Dian Yuni Kurniawati terlihat menangis ketika menunjukkan foto Bibit Almuji semasa hidupnya.

BERKACA-KACA: Dian Yuni Kurniawati terlihat menangis ketika menunjukkan foto Bibit Almuji semasa hidupnya.

Kecelakaan maut antara mobil dan kereta api (KA) membuat Bibit Almuji meninggal dunia. Ada sejumlah firasat yang dirasakan keluarga sebelum kehilangan sosok bapak yang dikenal pekerja keras dan ramah tersebut.

FAJAR RAHMAD ALI WARDANA, Gondang, Radar Tulungagung

Suasana duka masih menyelimuti keluarga dari Bibit Almuji, warga Dusun Kraja, Desa Jarakan, Kecamatan Gondang, kemarin (30/8). Para pelayat masih terus berdatangan dan banyak yang tidak menduga atas meninggalnya Bibit.

Baca juga: Tiap Hari Muncul 7 Janda dan Duda Baru di Tulungagung

Pria tersebut meninggal setelah menjadi korban kecelakaan maut antara mobil yang dikendarainya dengan KA Gajayana di Desa Branggahan, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri. Peristiwa pada Minggu pagi (29/8) pukul 04.30 WIB itu membuat keluarga Bibit terpukul. Sebab, tidak menduga bila laki-laki berumur 59 tahun ini bakal pergi secara tragis.

“Saya kaget dan awalnya tidak percaya. Sebab saat dikabari, saya percaya ayah masih menjemput para karyawan. Namun saya sadar itu jenazah ayah ketika rumah yang ditinggali ayah dihampiri petugas polisi,” ujar Dian Yuni Kurniawati, anak kedua Bibit.

Perempuan berumur 31 tahun ini kali pertama mendapat kabar dari kakaknya yang berada di Jayapura pukul 06.30 WIB. Saat di lokasi kejadian, petugas kepolisian menemukan nomor telepon sang kakak sehingga anak pertama Bibit lebih dulu tahu orang tuanya meninggal dunia karena kecelakaan.

Dia juga menceritakan bila awalnya tidak percaya ayahnya meninggal. Sebab sebelum berangkat masih terlihat ceria dan sehat. Wajar jika semula berpikir kabar tersebut hanya hoax.

“Sehari sebelum kejadian itu, Bibit masih mengeluhkan pekerjaan ke anak keduanya. Sebab, dirinya harus berputar lebih jauh untuk menjemput karyawan di Kediri karena perawatan jembatan setempat,” ujarnya.

Suami dari Dian memastikan jenazah mertuanya dengan datang ke Rumah Sakit (RS) Gambiran Kota Kediri. Meskipun keadaan mobil Elf bernopol AG 7007 T ringsek karena terseret hingga 10 meter akibat tabrakan tersebut, jenazah Bibit terlihat masih utuh. Dari keterangan dokter, patah tulang dalam.

Jenazah Bibit langsung dikebumikan pada Minggu sore pukul 16.00 WIB setelah ambulans dari RS Gambiran membawanya dari Kota Kediri menuju rumah duka. Dian sebagai anak yang merasa paling dekat dengan sang ayah tidak berani melihat jenazah Bibit. Bahkan hingga kini video setelah kecelakaan yang tersebar di media sosial (medsos) juga belum sanggup dilihatnya.

Dia mengaku ayahnya bekerja sebagai sopir sejak umur 19 tahun. Selama bekerja sebagai sopir ini memiliki empat anak dari dua pernikahan. Dia bekerja sebagai sopir travel Tulungagung-Kediri sejak bulan Maret lalu. Berangkat Subuh, lalu pulang menjelang Isya. Sebelum meninggal, Bibit masih sempat mengeluhkan ke Dian bila gaji yang diterimnya tidak setimpal dengan pekerjaannya yang pergi pagi, pulang malam.

“Dua hari sebelum ayah meninggal dunia, dia meminta untuk didoakan agar pekerjaannya lancar. Saya juga sempat merasakan tiga firasat bila ayah akan meninggal dunia, meskipun saya juga tidak menduganya,” terang ditemui di rumahnya.

Firasat pertama dirasakan Dian ketika seminggu sebelum kejadian ini terdapat ular weling yang ditemukan di rumah sang ayah. Saat itu Bibit panik sehingga membunuh ular weling itu, lalu keluarga Dian memiliki kepercayaan bila yang membunuh ular akan meninggal dunia dalam waktu dekat.

Tidak hanya itu, firasat kedua pada Selasa malam (24/8). Dian mengaku memimpikan sang ayah yang sedang menciumnya. Hal yang sama juga dirasakan kakaknya sehari sebelumnya. Mereka merasa terheran dengan mimpi yang dihadapinya. Untuk firasat ketiga, pada Jumat (27/8) malam Bibit mengajak foto bersama dengan keluarga besarnya.

“Jumat malam itu ternyata merupakan pertemuan terakhir saya dengan sang Ayah. Sampai kini saya masih tidak percaya dan menduga itu hanya kabar angin. Namun saya mencoba untuk mengikhlaskan,” jelas Dian yang memakai busana serba hitam.

Dia menerangkan bila Bibit dikenal baik oleh keluarga, tetangga, dan para teman-temannya. Bahkan, para temannya juga merasa kehilangan karena Bibit memang ramah dengan siapa pun. Dian menambahkan, Bibit termasuk pekerja keras, selalu tepat waktu dalam bekerja, dan ayah yang hebat dalam hidupnya. (*)

(rt/did/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news