alexametrics
Minggu, 24 Oct 2021
radartulungagung
Home > Trenggalek
icon featured
Trenggalek
Sebagai Anggota Panitia Sejarah Trenggalek

Sekelumit Kisah Siti Muzdalifah

Kejatahan Perumusan, Harus Bagi Jam Mengajar

01 September 2021, 10: 45: 40 WIB | editor : Alwik Ruslianto

BUTUH PROSES PANJANG : Siti Muzdalifah ketika menceritakan isi dari buku hasil penelitian panitia sejarah Trenggalek yang salah satunya sebagai acuan penetapan hari jadi.

BUTUH PROSES PANJANG : Siti Muzdalifah ketika menceritakan isi dari buku hasil penelitian panitia sejarah Trenggalek yang salah satunya sebagai acuan penetapan hari jadi. (ZAKI JAZAI/RADAR TRENGGALEK)

Saat ini setiap 31 Agustus ditetapkan sebagai hari jadi Trenggalek yang kini memasuki usia 827 tahun. Namun di balik penetapan hari jadi tersebut ada jerih payah panitia sejarah dalam merumuskannya. Salah satu anggota panitia tersebut yang tersisa adalah Siti Muzdalifah.

ZAKI JAZAI, Kota, Radar Trenggalek

Perayaan hari jadi ke 827 Trenggalek kemarin (31/8) dilaksanakan dengan sederhana. Ini dilakukan karena Trenggalek masih dalam kondisi pandemi Covid-19, sehingga penyederhanaan tersebut dilakukan agar tidak memancing animo masyarakat untuk melihat. Sehingga kebanyakan masyarakat tetap berdiam diri di rumah, juga melaksanakan aktivitasnya seperti biasa. Ini juga dilakukan oleh Siti Muzdalifah, satu-satunya anggota panitia sejarah Trenggalek yang tersisa.

Baca juga: Ditinggal Ibu, Pria Kendat di Pohon Jati

Itu terlihat, ketika Jawa Pos Radar Trenggalek ini mengunjungi rumahnya di Kelurahan Surodakan, Kecamatan Trenggalek. Kendati sudah sepuh, namun masih bisa sedikit mengingat pengalamannya bersama 16 anggota lainnya dalam menyusun sejarah Trenggalek. Termasuk menyusun pedoman dalam penetapan hari jadi. Sebab prosesnya sangat panjang hingga sekitar tiga tahun. "Masih jelas dalam benak saya, kala itu sekitar Januari 1979, saya bersama anggota panitia lainnya dipanggil Mbah Darso (sapaan bupati Trenggalek Soedarso-red) dimintai tolong untuk menyusun sejarah Trenggalek," katanya.

Itu dilakukan, karena saat itu Trenggalek belum ada agenda untuk merayakan hari jadi. Padahal kota/kabupaten lainnya setiap tahun merayakan hari jadi daerahnya dengan berbagai acara. Dari situ dibentuklah panitia untuk menyusun pedoman, untuk menetapkan hari jadi. "Karena tidak mau kalah dengan daerah lainnya kami menyetujui permintaan tersebut, sebab ada beberapa bukti sejarah yang perlu diluruskan," ungkapnya.

Langkah pertama yang dilakukan adalah mencari kajian terkait susunan bupati Trenggalek pertama yang menjabat pada 1950. Sebab saat itu bukti catatan, dan bukti-bukti yang ada untuk menjelaskan hal tersebut dinilai belum akurat. Sebab masih banyak bukti referensi yang disajikan untuk itu. Dari situ, tim mencari bukti untuk menyusun hal tersebut dari bupati terdahulu, atau keturunannya. Sehingga bisa dikumpulkan urutan bupati pertama mulai dari Noto Soegito, R. Latif, Muprapto hingga Soedarso yang saat itu masih menjabat.

Setelah itu tim melakukan tugasnya yang lain untuk menggali sejarah Trenggalek. Untuk itu tim dibentuk menjadi dua, yaitu satu tim yang menelusuri bukti-bukti sejarah peninggalan zaman dahulu, mulai dari prasasti, lingga yoni, batu tulis dan sebagainya.

Setelah itu barulah bukti-bukti sejarah yang didapat tersebut dimusyawarahkan untuk kebenarannya. Dalam hal ini tim tidak bisa mengatakan begitu saja terkait menyatakan benar atau tidak, sebab itu perlu disertai bukti-bukti yang jelas. Bukti tersebut seperti hasil dari penelitian sebelumnya, juga tulisan para ahli sejarah yang telah dibukukan. "Karena saat itu masih sebagai guru dan mengajar, saya bertugas sebagai tim untuk merumuskan kebenaran bukti sejarah yang dirumuskan tim lainnya itu," imbuh wanita yang saat itu masih sebagai guru di SMAN 1 Trenggalek ini.

Setelah melalui proses yang panjang, akhirnya tim berhasil merumuskan tanggal 31 Agustus sebagai hari jadi Trenggalek. Itu berdasarkan tulisan yang ada pada Prasasti Kamulan. Sebab pada prasasti tersebut lengkap tertera tanggal, bulan dan tahun daerah Kamulan sebagai daerah swatantra. Sehingga sejak saat itu sudah ada pemerintahan yang berdaulat di wilayah Trenggalek. Sedangkan untuk bukti tulisan yang ada di prasasti lainnya, seperti Kamsyaka belum ada petunjuk yang tepat sebagai pedoman hari jadi.

Dengan hasil tersebut berarti rangkaian perayaan hari jadi Trenggalek, juga satu dalam rangkaian perayaan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan (HUT) Republik Indonesia. "Sehingga sejak saat itu perayaan HUT diteruskan ke perayaan hari jadi. Dan, sebelumnya kami (Panitia Sejarah Trenggalek-red) selalu diundang ketika puncak perayaan hari jadi, yang terakhir pada masa Bupati Mulyadi," jelas wanita 74 tahun ini. (*)

(rt/zak/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news