alexametrics
Jumat, 22 Oct 2021
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features

Kapribadian Kawruh Kasepuhan Lakukan Ruwat Agar Korona Amblas

02 September 2021, 13: 35: 06 WIB | editor : Anggi Septian Andika Putra

Warga paguyuban sedang ritual Pangruwating Bumi Nuswantara beberapa waktu lalu.

Warga paguyuban sedang ritual Pangruwating Bumi Nuswantara beberapa waktu lalu. (DONI INDRADI FOR RADAR BLITAR)

Segala upaya dilakukan untuk menghadapi Covid-19. Selain medis, cara spiritual juga ditempuh. Seperti yang dilakukan Paguyuban Kapribadian Kawruh Kasepuhan Pamencar Pramono Nyoto di Desa Sragi, Kecamatan Talun. Acara tahunan kali ini doa bersama menghadapi korona.

Suasana Pendapa Kasepuhan Pamencar Pramono Nyoto malam itu sedikit berbeda. Cukup banyak sesepuh dan warga di sana. Beberapa di antaranya memakai beskap dan berkostum gelap. Semakin malam, suasana kian anget diiringi gending Jawa. Beberapa anak muda dengan kostum sama juga mulai berdatangan.

Setiap tahun mereka memiliki agenda pertemuan. Namun tahun ini lain. Tidak hanya sekadar bersilaturahmi, tapi sekaligus selamatan. Tujuannya, agar bumi nusantara segera terbebas dari pandemi korona. 

Baca juga: Pedagang Pasar Templek Sisi Utara Tak Ditarik Retribusi

“Setahun sekali ketika bulan Sura selalu ada kegiatan. Tahun ini kami tambah ruwat bumi. Mudah-mudaham pandemi segera berlalu,” ujar Doni Indradi, salah seorang warga paguyuban.

Suasana pandemi juga membuat kegiatan tersebut harus dibatasi. Tidak semua anggota diperbolehkan datang. Sebab, hal ini dapat memicu kerumunan dan sulit menjaga protokoler kesehatan (prokes). 

Kasepuhan Pamencar Pramono Nyoto merupakan salah satu paguyuban yang nguri-uri kepribadian masyarakat Jawa. Rata-rata anggotanya memang orang sepuh. Namun, tak sedikit dari golongan muda yang juga tertarik dengan adat budaya kepribadian Jawa tersebut.

Selain Blitar, tak sedikit anggota dari luar daerah. Di antaranya Probolinggo, Situbondo, Banyuwangi, dan lainnya. “Tahun ini hanya perwakilan saja yang diperbolehkan datang. Kalau tidak pandemi, bisa ratusan atau bahkan ribuan orang yang datang ke Talun,” katanya.

Kegiatan tahun ini tidak hanya diisi dengan selamatan ruwat bumi, tapi juga bakti sosial, kontemplasi, dan diskusi. Namun sebelum itu, ada rangkaian nyekar di makam Kromo Prawiro alias Mbah Wali Kromo atau Eyang Wali Tugurejo. Dia tokoh yang selama ini menjadi panutan warga paguyuban tersebut.

Tirakatan yang diisi dengan diskusi tidak hanya membahas soal kepribadian Jawa. Namun juga isu kebangsaan tak terkecuali pandemi korona. “Malam itu juga dijadikan sebagai malam tirakatan. Tujuannya, jelas demi keselamatan dan kesehatan bangsa,” katanya.

(rt/muh/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news