alexametrics
Minggu, 24 Oct 2021
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features
Buka Lapak Baca Gratis

Komunitas GPAN Sebar Candu Literasi Warga Tulungagung

06 September 2021, 12: 15: 47 WIB | editor : Alwik Ruslianto

ANTUSIASME: Tampak suasana lapak baca GPAN di Taman Aloon-aloon beberapa waktu lalu.

ANTUSIASME: Tampak suasana lapak baca GPAN di Taman Aloon-aloon beberapa waktu lalu. (GPAN FOR RATU)

Pandemi bukan jadi penghalang Komunitas Gerakan Perpustakaan Anak Nasional (GPAN) menyebar candu literasi. Dengan pelaksanaan protokol kesehatan (prokes) Covid-19, mereka mendekatkan literasi kepada masyarakat, khususnya pada anak-anak melalui lapak baca gratis yang digelar di ruang publik.

SITI NURUL LAILIL MA’RIFAH, Kota, Radar Tulungagung

Menenteng tikar lipat dan kardus yang berisi buku menuju Taman Aloon-aloon merupakan rutinitas pengurus Gerakan Perpustakaan Anak Nusantara (GPAN) Regional Tulungagung setiap seminggu sekali. Buku dalam kardus itu, kemudian disusun pengurus GPAN diatas tikar lipat.

Baca juga: Novel Jadi Buku Paling Diburu Pembaca Usia 25-35 Tahun di Tulungagung

Tak lama, buku dengan beragam judul itu langsung diserbu oleh pengunjung Taman Aloon-aloon, terutama pengunjung anak-anak. “Kegiatan kami ini rutin dilakukan seminggu sekali. Tak hanya membawa koleksi buku untuk anak-anak, tapi juga untuk orang dewasa, seperti novel dan lainnya,” ucap Ketua Pengurus GPAN Regional Tulungagung, Mochamad Tri Cahyanto, kemarin.

Dia menjelaskan, keberadaan GPAN ini diharapkan dapat menumbuhkan minat baca masyarakat. Khususnya anak-anak yang semakin berkurang karena penya­lahgunaan gawai. Selama pembatasan aktivitas akibat Covid-19, banyak anak yang memilih menghabiskan waktu di rumah dengan bermain game. Sedangkan aktivitas membaca hanya dilakukan saat mengerjakan tugas sekolah saja. “Padahal semakin banyak membaca, semakin banyak ilmu yang terserap. Maka dari itu, kami berusaha mendekatkan literasi dengan cara lapak baca ini,” jelasnya.

Sejauh ini, kata Cahyo -sapaan akrabnya, antusiasme pengunjung lapak baca terbilang tinggi. Setidaknya lebih dari 10 anak, mulai dari usia anak PAUD, SD, hingga SMP dan SMA mengikuti lapak baca gratis. Bahkan, kegiatan tersebut juga menggugah minat anak dari pedagang kaki lima di Taman Aloon-aloon. “Antusiasmenya terbilang tinggi. Bahkan keberadaan kami ini didukung para orang tua karena anaknya punya aktivitas positif yang bermanfaat dan bisa menambah porsi belajar yang kurang karena masih diberlakukannya pembelajaran jarak jauh/daring,” katanya.

Namun, Cahyo mengakui menumbuhkan minat baca dan mengikat anak untuk suka literasi tidaklah mudah. Makanya, edukasi tentang literasi dikemas dengan cara menyenangkan saat menggelar lapak baca. Seperti permainan edukasi, mewarnai, dan sebagainya. “Kami berdiri pada Maret 2020 lalu. Ini merupakan wujud pengabdian kami dalam dunia literasi,” tuturnya.

Cahyo mengatakan kegiatan literasi tersebut sedikit terhambat di tengah pandemi ini. Pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) membuatnya harus menghentikan sementara kegiatan lapak baca gratis.

Namun, hal itu tidak membuat komunitas­nya tidak punya kegiatan. Sembari menunggu pelonggaran kebijakan, GPAN sibuk menggelar webinar yang diperuntukkan umum secara daring dengan tujuan menumbuhkan jiwa literasi, Jadi ke depannya ikut menyebarkan dan mengedukasi masyarakat tentang pentingnya literasi. “Mungkin setelah dilonggarkan nanti. Kami ingin mengadakan lomba baca puisi atau dongeng. Bahkan tidak menutup kemung­kinan, akan berkolaborasi dengan komunitas lain yang memiliki misi tujuan sama dalam sosial literasi,” tuturnya.

Karena masih tahap merintis, Cahyo menyebut koleksi buku yang dimiliki GPAN pinjam dari regional Kediri. Namun juga ada sebagian buku berhitung, membaca dan mewarna didapat dari donatur. Sedangkan, fasilitas pewarna kata Cahyo didapat dari swadaya pengurus GPAN. “Kami sangat berterima kasih kepada donatur. Karena itu, telah mendukung kegiatan literasi sosialnya,” jelasnya.

Disinggung soal kendala, Cahyo mengaku belum dapat memperluas sasaran edukasi tentang literasi khususnya di desa-desa pinggiran. Sebab, kini pihaknya masih terkendala sumber daya, baik sumber daya manusia (SDM) ataupun swadaya untuk operasional.

“Insyaallah untuk project ke situ sudah kami planning untuk dapat direalisasikan tahun ini. Semoga, selesai PPKM bisa merambah ke situ setelah dilakukan pembahasan bersama GPAN Pusat,” tandasnya. (*)

(rt/lai/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news