alexametrics
Minggu, 24 Oct 2021
radartulungagung
Home > Blitar
icon featured
Blitar

Harga Telur Anjlok, Peternak di Blitar Terancam Gulung Tikar

Tak Sebanding Biaya Produksi

14 September 2021, 11: 59: 18 WIB | editor : Alwik Ruslianto

CARI SOLUSI: Perwakilan Gaprindo saat rapat dengar pendapat dengan DPRD dan dinas terkait di DPRD Jatim mengenai kendala peternak kemarin (13/9).

CARI SOLUSI: Perwakilan Gaprindo saat rapat dengar pendapat dengan DPRD dan dinas terkait di DPRD Jatim mengenai kendala peternak kemarin (13/9). (AGUS MUHAIMIN/RADAR BLITAR)

KREMBANGAN, Radar Blitar - Ribuan peternak ayam petelur di Jawa Timur (Jatim) terancam gulung tikar. Pasalnya, harga telur dari kandang atau tingkat peternak kini hanya berkisar Rp 14 ribu per kilogram (kg). Padahal, biaya produksi per kg tak kurang dari Rp 20 ribu.

Kemarin (13/9), perwakilan Gerakan Peternak Rakyat Indonesia (Gaprindo) wadul ke komisi B DPRD Jatim. Tujuannya, minta dukungan dan solusi mengenai nasib para peternak di Jatim. “Kalau kondisi ini berjalan sampai dua bulan ke depan, saya khawatir peternak di Jatim hanya tinggal kenangan (bangkrut, Red),” ungkap Kordinator Gaprindo, Yasin Nur Cahyo.

Dia mengatakan, biaya produksi peternakan kini sangat tinggi. Harga bahan baku seperti jagung dan kosentrat terus melambung. Sebalikya, harga jual produksi peternakan terus turun hingga Rp 13 ribu per kg. Padahal untuk produksi, setidaknya butuh biaya Rp 20 ribu per kg. “Setiap hari rugi Rp 6 ribu per kg, tinggal mengalikan saja jumlah ternaknya,” katanya.

Baca juga: PDAM Tirta Penataran Borong Tiga Penghargaan pada Top BUMD Award 2021

SERIUS: Para anggota DPRD Provinsi Jatim saat rapat bersama perwakilan Gaprindo.

SERIUS: Para anggota DPRD Provinsi Jatim saat rapat bersama perwakilan Gaprindo. (AGUS MUHAIMIN/RADAR BLITAR)

Harga jagung kini berkisar Rp 6 ribu per kg. Sedangkan kosentrat lebih dari Rp 400 ribu per sak. Padahal, standar harga jagung bagi para peternak sekitar Rp 4 ribu per kg. Sedangkan kosentrat di kisaran Rp 300 ribu. Parahnya lagi, para distributor kini juga tidak lagi memberikan dukungan pakan alias harus beli tunai. “Posisi para peternak Blitar dan beberapa daerah lain di Jatim kini benar-benar ada di ujung tanduk,” jelasnya.

Anggota Komisi B DPRD Jatim, Noer Sucipto mengatakan, rendahnya harga telur ayam tidak lain karena ketimpangan suplai dan permintaan. Hal ini diduga lantaran perusahaan pakan selama ini juga ikut melakukan produksi dalam skala besar. Untuk itu, dalam waktu dekat pihaknya akan memanggil pabrik pakan ternak yang ada di Jatim. “Kalau sudah produksi pakan sama bibit, mbok tolong ya nggak usah ikut-ikut. Pemeliharaan dan produksi dikasihkan peternak saja,” ujarnya.

Terkait kebijakan harga, DPRD Jatim berencana membuat peraturan daerah untuk melindungi peternak dengan standardisasi harga pakan. Sebab, ketika harga pakan yang terlalu tinggi, jelas akan membuat para peternak kesulitan. “Kalau harga pakan tinggi, bagaimana bisa break even point (BEP),” katanya.

Di sisi lain, pemerintah juga dituntut hadir untuk menganggulangi persoalan yang dialami peternak. Artinya, mencarikan solusi dan terobosan jangka pendek untuk menyelamatkan peternak. Begitu juga program jangka panjang untuk menjamin kelancaran produksi peternakan di Jatim. “Untuk sementara bisa dengan mencarikan pasar. Diusahakan agar bansos-bansos itu juga terdiri atas telur atau bahkan diganti dengan telur. Jadi bisa membantu penyerapan,” ujar anggota Komisi B DPRD Jatim yang lain, Erma Susanti.

Politikus PDIP itu mengatakan, pemerintah juga harus menyiapkan beberapa rencana atau program cadangan untuk mengantisipasi kondisi serupa di kemudian hari. Teruama terkait ketersediaan pakan. Sebab, salah satu pemicu tingginya harga jagung yakni ketimpangan produksi dan permintaan. “Misalnya dengan membentuk koperasi peternak dan petani jagung. Keduanya berkolaborasi untuk mendukung ketersediaan pakan,” katanya. (*)

(rt/muh/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news