RADAR TULUNGAGUNG - Legenda Sri Tanjung dan asal usul Banyuwangi menjadi salah satu cerita rakyat paling kuat dari tanah timur Pulau Jawa. Kisah ini bukan sekadar dongeng tentang cinta dan pengkhianatan, tetapi juga tentang kesetiaan, fitnah kekuasaan, serta sumpah suci yang melahirkan nama Banyu Wangi.
Cerita bermula pada masa pemerintahan Prabu Sulah Kromo. Di bawah kepemimpinannya, negeri hidup tenteram. Sosok yang paling disegani setelah raja adalah Patih Sidopekso, panglima kepercayaan yang dikenal gagah berani dan setia. Ketangguhannya bahkan digambarkan mampu menaklukkan banteng liar dengan tangan kosong.
Popularitas Sidopekso di kalangan rakyat rupanya menimbulkan bara cemburu dalam hati sang raja. Situasi semakin rumit ketika Prabu Sulah Kromo melihat langsung kecantikan istri patihnya, Sri Tanjung. Perempuan itu disebut-sebut memiliki paras bak bidadari kayangan, lembut, dan penuh kesetiaan kepada suaminya.
Ambisi Raja dan Tipu Daya Kekuasaan
Dalam legenda Sri Tanjung dan asal usul Banyuwangi, benih tragedi mulai tumbuh ketika raja dikuasai hasrat untuk memiliki Sri Tanjung. Namun ia sadar, memaksa istri patihnya bisa memicu pemberontakan. Sidopekso bukan prajurit biasa. Kesaktiannya diakui seluruh negeri.
Melalui siasat licik, raja memanggil Sidopekso dan memberinya tugas mustahil: mencari bunga cempaka emas di Kawah Ijen. Tempat itu dikenal berbahaya, dengan api biru abadi dan legenda bahwa tak seorang pun kembali hidup dari sana. Raja berdalih tugas itu demi menyelamatkan negeri dari wabah gaib yang mengancam panen rakyat.
Sebagai patih yang setia, Sidopekso menerima perintah tersebut tanpa curiga. Ia berangkat meninggalkan Sri Tanjung, yakin tugas negara adalah kehormatan tertinggi.
Fitnah Keji yang Menghancurkan Rumah Tangga
Kepergian Sidopekso menjadi kesempatan bagi raja mendekati Sri Tanjung. Namun perempuan itu menolak tegas segala rayuan. Ia lebih memilih mati daripada mengkhianati suaminya.
Tak berhasil mendapatkan Sri Tanjung, raja menyusun fitnah. Saat Sidopekso berhasil kembali dari Kawah Ijen membawa bunga cempaka emas, raja justru menyambutnya dengan kabar pahit. Ia menuduh Sri Tanjung datang ke kamarnya dan mencoba merayunya.
Fitnah itu diperkuat oleh kesaksian para pengawal yang sudah dipengaruhi. Amarah dan rasa dikhianati membutakan hati Sidopekso. Tanpa memberi ruang pembelaan, ia pulang dengan hati dipenuhi murka.
Sri Tanjung yang menunggu dengan setia justru disambut tuduhan. Meski berkali-kali menyangkal, Sidopekso tak lagi mampu berpikir jernih. Baginya, kehormatan lebih tinggi dari cinta.
Sumpah Sungai Keruh dan Lahirnya Banyuwangi
Di tepi sungai yang keruh dan berbau, Sidopekso memutuskan menghabisi istrinya. Sebelum ajal menjemput, Sri Tanjung mengucapkan sumpah yang kelak menjadi inti legenda Sri Tanjung dan asal usul Banyuwangi.
Ia meminta jasadnya dibuang ke sungai tersebut. Jika airnya semakin busuk, berarti ia bersalah. Namun jika air berubah jernih dan harum, itu tanda dirinya suci.
Keris pun menembus tubuhnya. Jasad Sri Tanjung jatuh ke dalam sungai. Keajaiban terjadi. Air yang semula keruh berubah menjadi jernih sebening kaca. Aroma wangi menyebar di udara.
Sidopekso tersadar. Fitnah telah menghancurkan cinta dan kesetiaan istrinya. Dengan penyesalan mendalam, ia berulang kali menyebut “Banyu Wangi”—air yang harum. Sejak saat itulah, wilayah tersebut dikenal sebagai Banyuwangi.
Pesan Moral di Balik Legenda
Legenda Sri Tanjung dan asal usul Banyuwangi menyimpan pesan kuat tentang bahaya fitnah dan penyalahgunaan kekuasaan. Kisah ini mengingatkan bahwa kebenaran tak selalu membutuhkan pembelaan panjang. Kesucian, seperti yang ditunjukkan Sri Tanjung, akan menemukan jalannya sendiri.
Cerita rakyat ini hingga kini tetap hidup dalam tradisi lisan masyarakat Jawa Timur. Nama Banyuwangi bukan sekadar penanda geografis, tetapi simbol kesucian yang teruji oleh fitnah dan pengorbanan.
Dari tragedi cinta yang tercabik ambisi, lahirlah sebuah nama yang harum sepanjang masa: Banyu Wangi.
Editor : Edo Trianto