Cara Mengurangi Risiko Longsor di Permukiman Dekat Sungai, Ini Langkah Mitigasinya

RADAR TULUNGAGUNG – Cara mengurangi risiko longsor di permukiman dekat sungai perlu dilakukan melalui pengelolaan aliran air, perlindungan tebing, dan kesiapsiagaan warga. Kawasan di sekitar sungai memiliki risiko tambahan karena aliran air dapat mengikis bagian bawah tebing, sementara hujan berkepanjangan membuat tanah semakin jenuh air dan berpotensi kehilangan kestabilannya.
Cara mengurangi risiko longsor di permukiman dekat sungai tidak cukup hanya dengan menanam pohon atau membersihkan material yang menumpuk di aliran sungai. Kondisi tebing, kemiringan lereng, jalur air, serta posisi rumah terhadap area rawan perlu diperiksa agar penanganan sesuai dengan sumber ancamannya.
Mitigasi juga harus melibatkan pemerintah daerah dan tenaga teknis. Sebab, pembangunan penahan tebing, perbaikan alur sungai, hingga penentuan kawasan yang perlu dikosongkan membutuhkan kajian kondisi tanah dan aliran air.
Perbaiki Drainase dan Kendalikan Aliran Air
Salah satu langkah penting mengurangi risiko longsor adalah memastikan air hujan tidak mengalir dan meresap secara berlebihan ke dalam lereng. Saluran drainase yang tersumbat dapat menyebabkan air menggenang, meresap ke tanah, dan meningkatkan tekanan air di dalam lereng.
Karena itu, saluran pembuangan air di sekitar permukiman dan lereng perlu diperiksa secara berkala. Sampah, lumpur, serta material yang menghambat aliran harus dibersihkan agar air dapat dialirkan ke tempat yang aman tanpa menggerus bagian tebing.
Pada kawasan dengan kondisi tanah tertentu, pengendalian air juga memerlukan saluran khusus di bagian atas atau bawah lereng. Penentuan bentuk dan letaknya sebaiknya melibatkan tenaga teknis karena saluran yang salah justru dapat mengarahkan air ke bagian tanah yang rentan.
Selain drainase daratan, kondisi aliran sungai perlu diperhatikan. Pengikisan pada kaki tebing dapat mengurangi penyangga alami lereng. Karena itu, penanganan erosi sungai dapat memerlukan bangunan pengendali seperti krib, pengarah arus, atau struktur pelindung tebing sesuai hasil kajian teknis.
Perkuat Tebing dengan Vegetasi dan Konstruksi yang Tepat
Penanaman vegetasi dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kestabilan tanah. Akar tanaman membantu mengikat lapisan tanah tertentu, sedangkan tutupan vegetasi dapat mengurangi hantaman langsung air hujan ke permukaan lereng.
Namun, pemilihan jenis tanaman harus disesuaikan dengan karakteristik tanah dan kemiringan tebing. Penanaman pohon tidak otomatis menghentikan longsor, terutama jika bagian bawah lereng sudah tergerus atau pergerakan tanah telah berlangsung.
Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum menerbitkan pedoman pengendalian erosi lereng jalan menggunakan kombinasi vegetasi dan matras pelindung erosi. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa perlindungan lereng dapat memerlukan perpaduan antara penutup permukaan dan tanaman, bukan hanya penghijauan.
Pada tebing yang membutuhkan penguatan struktural, pemerintah dapat mempertimbangkan pembangunan talud, turap, atau bangunan penahan tanah. Jenis konstruksi tidak bisa ditentukan secara sembarangan karena harus mempertimbangkan tinggi tebing, kondisi tanah, tekanan air, serta pengaruh aliran sungai.
Warga juga perlu menghindari aktivitas yang dapat memperlemah lereng, seperti menggali kaki tebing, memotong lereng tanpa perhitungan, atau menambah beban bangunan di bagian atas kawasan rawan. Penilaian teknis diperlukan sebelum melakukan perubahan fisik pada tebing.
Kenali Tanda Longsor dan Siapkan Jalur Evakuasi
Mitigasi tidak hanya berkaitan dengan konstruksi, tetapi juga kemampuan warga mengenali tanda bahaya. Retakan baru pada tanah, dinding rumah, atau jalan dapat menjadi petunjuk adanya pergerakan tanah. Pohon dan tiang yang tiba-tiba miring, munculnya rembesan air baru, serta suara gemuruh dari arah lereng juga perlu diwaspadai.
Warga yang tinggal di dekat tebing atau aliran sungai perlu mengetahui jalur menuju tempat aman. Jalur tersebut sebaiknya tidak melewati kaki lereng, tepi sungai, maupun area yang berpotensi dilalui material longsoran.
Keluarga juga dapat menyiapkan tas siaga berisi dokumen penting, obat-obatan, air minum, makanan ringan, senter, dan pakaian secukupnya. Informasi peringatan cuaca serta arahan BPBD perlu dipantau, terutama ketika hujan berlangsung lama atau turun dengan intensitas tinggi.
Jika muncul tanda pergerakan tanah atau terdengar suara gemuruh dari lereng, warga harus segera menjauh dari area berbahaya dan mengikuti arahan petugas. Jangan menunggu sampai material longsor bergerak mendekati rumah. BNPB juga mengingatkan masyarakat di kawasan rawan agar melakukan evakuasi ketika kondisi mengancam keselamatan.
Pada akhirnya, cara mengurangi risiko longsor di permukiman dekat sungai membutuhkan kombinasi pengendalian air, penguatan tebing, pengaturan pemanfaatan lahan, dan kesiapsiagaan warga. Penanaman pohon dapat membantu, tetapi tidak menggantikan kebutuhan pemeriksaan teknis dan penanganan erosi. Jika kawasan sudah menunjukkan pergerakan tanah berulang, pemerintah perlu melakukan kajian risiko untuk menentukan langkah pengamanan, termasuk kemungkinan relokasi apabila permukiman tidak lagi aman.



