Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Gerhana Bulan Total 7 September 2025, Bagian dari Siklus Saros, Apa Itu?

Mohammad Dzakwan Wahyu Nur Fauzan • Rabu, 3 September 2025 | 20:10 WIB

 

ilustrasi gerhana bulan total
ilustrasi gerhana bulan total

RADAR TULUNGAGUNG – Fenomena gerhana bulan total (GBT) akan kembali menghiasi langit pada 7 September 2025.

Peristiwa gerhana bulan total langka ini bukan sekadar tontonan visual, melainkan bagian dari rangkaian panjang astronomi yang dikenal sebagai Siklus Saros.

Dalam catatan ilmiah, gerhana ini merupakan anggota dari seri Saros 128 yang sudah berlangsung selama berabad-abad dan masih terus berlanjut hingga beberapa dekade mendatang.

Sejarah mencatat bahwa Siklus Saros pertama kali dipahami oleh pengamat langit Babilonia kuno, lalu dikembangkan lebih jauh oleh astronom Yunani Hipparchus.

Siklus ini berlangsung sekitar 6.585 hari atau kurang lebih 18 tahun 10–11 hari. Dengan perhitungan ini, para astronom dapat memprediksi secara akurat kapan gerhana bulan total akan terjadi, karena posisi relatif Matahari, Bumi, dan Bulan kembali pada konfigurasi hampir sama.

Dalam rangkaian Saros 128, terdapat total 71 gerhana Bulan, termasuk 15 di antaranya berbentuk gerhana bulan total. Peristiwa terakhir dari seri ini yang bisa disaksikan terjadi pada 28 Agustus 2007.

Setelah fenomena 7 September 2025, gerhana berikutnya dari seri yang sama baru akan datang lagi pada 19 September 2043. Fakta ini menjadikan momen tahun ini sebagai kesempatan emas untuk menyaksikan keindahan alam semesta.

Selain keindahan visual, gerhana bulan juga menyimpan nilai edukatif. Dalam dunia pendidikan modern, fenomena alam ini bisa dijadikan sarana pembelajaran berbasis fenomena (phenomenon-based learning/PhBL).

Metode ini mengajak pelajar untuk memahami ilmu dari berbagai perspektif, bukan hanya teori, tetapi juga aplikasinya pada realitas sehari-hari.

Penelitian membuktikan bahwa dengan bantuan teleskop sederhana dan kamera digital, jarak bumi dan bulan dapat dihitung melalui pengamatan gerhana dengan tingkat akurasi hingga kurang dari 10 persen.

Bahkan masyarakat umum bisa ikut serta dalam kegiatan ilmiah ini, misalnya dengan merekam warna atau magnitudo visual Bulan saat fase gerhana untuk menilai kondisi stratosfer Bumi.

Namun, gerhana bulan tidak semata-mata bernilai sains. Bagi sebagian orang, momen langka ini juga menumbuhkan kesadaran spiritual.

Pemandangan langit yang begitu teratur dan harmonis dianggap sebagai tanda kebesaran Tuhan. Refleksi semacam ini mengingatkan manusia akan pentingnya rasa syukur, sekaligus kewajiban menjaga kelestarian bumi sebagai satu-satunya rumah bersama.

Selain gerhana bulan total, September 2025 juga dipenuhi peristiwa astronomi lainnya. Salah satunya adalah konjungsi superior Merkurius pada 13 September.

Saat itu, Merkurius berada tepat di belakang Matahari jika dilihat dari Bumi, sehingga posisinya tidak bisa diamati. Momen ini menandakan jarak terjauh planet kecil tersebut dari Bumi, sekitar 1,38 AU (satuan astronomi).

Baca Juga: Kenapa Langit Biru di Siang Hari Tapi Berubah Menjadi Indah Saat Senja? Ini Rahasianya!

Kemudian pada 23 September, terjadi Ekuinoks September. Fenomena ini menandai posisi Matahari tepat di atas garis khatulistiwa, membuat durasi siang dan malam hampir sama, yakni sekitar 12 jam.

Di belahan utara Bumi, ekuinoks ini menjadi penanda masuknya musim gugur, sementara di belahan selatan disebut ekuinoks musim semi.

Dengan kondisi musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia, langit bulan September diprediksi cerah sehingga masyarakat memiliki kesempatan lebih besar untuk menyaksikan fenomena-fenomena langit tersebut.

Baca Juga: Agustus 2025, Langit Indonesia Dipenuhi Supermoon, Hujan Meteor, dan Black Moon 23 Agustus

Bagi para penggemar astronomi maupun masyarakat umum, bulan ini bisa menjadi waktu ideal untuk lebih dekat dengan alam semesta.

Fenomena langit seperti gerhana bulan total sering kali menjadi pengingat akan keterhubungan antara manusia dengan alam. Bukan hanya aspek ilmiah yang ditawarkan, tetapi juga makna filosofis dan spiritual.

Keindahan langit malam bisa menjadi penghubung antara pengetahuan modern dengan kebijaksanaan kuno yang sudah lama menghargai keteraturan kosmos.

Baca Juga: Langit Senja di Tulungagung, Ada 4 Spot Menikmati Matahari Pulang

Bagi masyarakat, momen ini bisa dijadikan pengalaman belajar kolektif. Sekolah, komunitas astronomi, hingga keluarga dapat memanfaatkan gerhana sebagai media pembelajaran praktis.

Aktivitas mengamati bersama, mencatat data, atau sekadar menikmati pemandangan bisa memperkuat ikatan sosial sekaligus menumbuhkan minat generasi muda terhadap sains.

Lebih jauh, gerhana juga menjadi ajakan untuk berpikir kritis. Fenomena ini menyingkap betapa akuratnya hukum alam bekerja, sehingga bisa diprediksi ribuan tahun sebelumnya.

Hal itu menjadi bukti bahwa sains dan pengetahuan manusia berkembang berkat rasa ingin tahu yang terus diasah lintas generasi. ****

 

Editor : Dharaka R. Perdana
#siklus saros #tulungagung #astronomi #gerhana bulan total