Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Legenda Gerhana Bulan Darah di Nusantara: Kisah Naga Kala Jaga yang Konon Menelan Bulan dan Ritual Warga Mengusirnya

Auliya Nur'Aini Khafadzoh • Kamis, 5 Maret 2026 | 18:10 WIB

Legenda gerhana bulan darah di Nusantara tentang naga Kala Jaga yang dipercaya menelan bulan dan ritual warga untuk mengusirnya.(Pinterest)
Legenda gerhana bulan darah di Nusantara tentang naga Kala Jaga yang dipercaya menelan bulan dan ritual warga untuk mengusirnya.(Pinterest)

Radar Tulungagung – Fenomena gerhana bulan darah atau blood moon tidak hanya dijelaskan melalui ilmu astronomi. Di berbagai daerah Nusantara, peristiwa langit tersebut juga diwarnai cerita rakyat yang diwariskan turun-temurun.

Salah satu legenda yang cukup dikenal adalah kisah naga raksasa bernama Kala Jaga yang dipercaya menelan bulan saat gerhana terjadi.

Legenda ini menceritakan bahwa ketika bulan berubah menjadi merah menyala, masyarakat desa percaya bahwa naga Kala Jaga sedang mencoba menelan cahaya bulan. Cerita tersebut telah menjadi bagian dari tradisi lisan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Walaupun kini ilmu pengetahuan telah menjelaskan penyebab gerhana bulan darah secara ilmiah, legenda ini tetap bertahan sebagai warisan budaya yang sarat makna dan nilai kebersamaan masyarakat.

Kisah Kala Jaga yang Menelan Bulan

Menurut cerita rakyat yang berkembang di sebuah desa kuno di Nusantara, gerhana bulan darah dianggap sebagai pertanda bahwa naga raksasa Kala Jaga sedang mencoba menelan bulan.

Kala Jaga digambarkan sebagai makhluk besar yang hidup dalam kegelapan dan membenci cahaya bulan yang menerangi malam. Setiap kali bulan bersinar terang, naga tersebut dikisahkan berusaha menelannya agar langit kembali gelap.

Dalam legenda itu, muncul seorang pemuda pemberani bernama Raka yang berusaha menyelamatkan bulan dari cengkeraman naga tersebut. Ia percaya bahwa satu-satunya cara untuk membuat Kala Jaga melepaskan bulan adalah dengan menciptakan suara keras yang dapat menakuti makhluk tersebut.

Raka kemudian mengajak seluruh warga desa untuk membunyikan alat musik tradisional dan membuat kegaduhan bersama-sama saat gerhana terjadi. Suara ramai itu diyakini mampu mengusir Kala Jaga.

Ketika gerhana bulan darah mulai terlihat di langit, warga desa menabuh alat musik dan menciptakan suara keras yang menggema di seluruh desa. Dalam cerita tersebut, Kala Jaga akhirnya terganggu dan melepaskan bulan yang ditelannya sehingga cahaya bulan kembali bersinar.

Ritual Desa Saat Gerhana Bulan

Sejak peristiwa itu, masyarakat desa dikisahkan selalu melakukan ritual setiap kali gerhana bulan darah terjadi. Ritual tersebut berupa membunyikan alat musik tradisional, menyalakan obor, serta berkumpul bersama sebagai bentuk perlindungan dari kekuatan kegelapan.

Tradisi ini tidak hanya dianggap sebagai upaya mengusir makhluk jahat, tetapi juga sebagai simbol persatuan masyarakat desa. Dengan berkumpul dan melakukan ritual bersama, warga diyakini memperkuat semangat kebersamaan mereka.

Dalam perkembangan cerita, warga desa bahkan menambahkan ritual menyalakan obor dan doa bersama. Api dari obor tersebut dipercaya melambangkan cahaya keberanian yang mampu mengalahkan kegelapan.

Legenda tersebut kemudian menjadi cerita yang terus diceritakan kepada generasi muda sebagai bagian dari identitas budaya desa.

Perdebatan Generasi Muda

Seiring perkembangan zaman, tidak semua generasi muda percaya pada legenda tersebut. Dalam cerita yang berkembang, seorang pemuda bernama Randu yang baru kembali dari kota mencoba menjelaskan bahwa gerhana bulan darah hanyalah fenomena alam biasa.

Menurut Randu, gerhana terjadi karena posisi bumi berada di antara matahari dan bulan sehingga bayangan bumi menutupi permukaan bulan.

Ia bahkan mencoba meyakinkan warga desa bahwa tidak ada naga raksasa yang menelan bulan. Ritual yang dilakukan masyarakat dianggapnya hanya tradisi lama yang tidak lagi relevan dengan pengetahuan modern.

Namun, seorang tetua desa bernama Nenek Kirana memberikan pandangan berbeda. Ia mengatakan bahwa meskipun ilmu pengetahuan penting, tidak semua nilai kehidupan dapat dijelaskan hanya dengan logika.

Baginya, legenda tersebut bukan sekadar cerita tentang makhluk gaib, tetapi juga simbol dari keberanian, kebersamaan, dan kepercayaan masyarakat.

Pesan Moral di Balik Legenda

Dalam kisah tersebut, Randu akhirnya mengalami kejadian aneh saat menyaksikan gerhana sendirian di bukit. Ia merasakan angin kencang dan suasana yang berbeda dari biasanya.

Sementara itu, dari desa terdengar suara ritual warga yang semakin keras. Setelah gerhana berakhir dan bulan kembali bersinar, Randu mulai memahami bahwa legenda tersebut memiliki makna lebih dalam daripada sekadar cerita mitos.

Ia menyadari bahwa kekuatan sebenarnya bukanlah pada keberadaan naga Kala Jaga, melainkan pada persatuan dan keyakinan masyarakat desa.

Legenda gerhana bulan darah ini kemudian terus diwariskan sebagai pengingat bahwa tradisi dan cerita rakyat memiliki peran penting dalam menjaga identitas budaya.

Meski sains telah memberikan penjelasan rasional tentang gerhana bulan, kisah-kisah seperti legenda Kala Jaga tetap menjadi bagian dari kekayaan budaya Nusantara yang menyimpan nilai moral tentang keberanian, persatuan, dan penghormatan terhadap warisan leluhur.

Editor : Auliya Nur'Aini Khafadzoh
#Legenda Nusantara #cerita rakyat #Gerhana bulan darah