RADAR TULUNGAGUNG - Ketika kamu memasuki dunia cryptocurrency maka aktivitas kamu terus mengamati dan melakukan analisa.
Secara dasar kamu bisa melakukan analisa fundamental dan analisa teknikal, sehingga kamu bisa memprediksi tren bullish atau bearish dari suatu aset crypto.
Sebenarnya kamu bisa mendapatkan Bitcoin tanpa harus melakukan trading. Kamu bisa membeli Bitcoin pada aplikasi exchange, mendapatkan kiriman atau airdrop dan bisa juga kamu dapatkan Bitcoin melalui staking, dan nambang Bitcoin .
Baca Juga: Menteri Keuangan Sri Mulyani Sebut Guru Adalah Beban Negara? Simak Fakta Sebenarnya!
Terdapat beberapa aplikasi crypto yang telah teregulasi di Indonesia, salah satunya Pintu yang menyediakan fitur terlengkap, biaya trading rendah, serta variasi token yang banyak lebih dari 320+ token sehingga cocok untuk investor pemula maupun trader aktif dan professional.
Untuk menambang Bitcoin bukan pekerjaan untuk seorang pemula, selain itu membutuhkan modal yang lumayan besar, seperti menggunakan komputer dengan spek yang cepat, kemampuan untuk mengikuti algoritma blockchain, hingga mendapatkan upah berbentuk Bitcoin.
Tetapi banyak orang melakukan dengan cara membeli atau melakukan trading Bitcoin. Untuk itu kamu harus mempelajari bagaimana menganalisa grafik harga Bitcoin Pintu. Tujuannya kamu bisa memproyeksikan kemana harga Bitcoin.
Pergerakan dari individu yang disebut whale dalam crypto seringkali mempengaruhi harga dari aset digital, terutama yang memiliki kapitalisasi pasar kecil hingga menengah.
Untuk mengantisipasi hal ini, kamu dapat memakai indikator seperti volume perdagangan sebagai langkah awal yang kemudian bisa kamu gabungkan dengan metode lain.
Baca Juga: Stabilitas Sektor Jasa Keuangan Perkuat Optimisme Pertumbuhan Ekonomi 2025–2026
Apa Itu ‘Whale’?
Dalam dunia crypto, istilah whale menggambarkan orang, lembaga, atau dompet yang memiliki jumlah aset yang sangat besar sehingga pergerakan mereka dapat secara signifikan mempengaruhi harga pasar.
Sehingga pergerakan Whale menjadi analisa fundamental yang harus dilakukan.
Kegiatan mereka biasanya akan terlihat dari volume perdagangan, karena jumlah transaksi yang mereka lakukan cukup besar.
Tips untuk Mendeteksi Pergerakan Whale
1. Lonjakan Volume Trading
Salah satu sinyal awal dari aktivitas whale adalah jika terdapat lonjakan volume yang tiba-tiba dan tidak biasa. Hal ini sering terjadi saat harga cenderung tetap atau hanya sedikit meningkat.
Sebagai contoh Jika volume perdagangan mengalami peningkatan 2 kali hingga 3 kali dari rata-rata harian tanpa adanya berita penting, kemungkinan terdapat whale yang sedang melakukan transaksi besar, baik membeli atau menjual.
Untuk mengecek apakah peningkatan harga ini disebabkan oleh transaksi whale, kamu bisa menggunakan beberapa alat pelacak whale seperti Whale Alert, Whale Map, atau CoinGlass.
Baca Juga: Ingin Trading atau Investasi? Inilah 5 Aplikasi Crypto Untuk Pemula
2. Divergensi Volume dengan Harga
Tanda lain yang perlu diperhatikan adalah ketidaksesuaian antara gerakan harga dan volume. Misalnya, jika harga cenderung stabil atau sedikit turun, tetapi volume terus meningkat.
Situasi ini mungkin menunjukkan adanya aktivitas yang tidak terlihat, di mana whale sedang mengumpulkan aset dalam jumlah banyak.
Fenomena ini sering disebut sebagai fase stealth di mana akumulasi dilakukan secara perlahan untuk menghindari lonjakan harga dan menarik perhatian pasar.
Divergensi semacam ini juga bisa dianalisis dengan alat teknis seperti On-Balance Volume (OBV) atau Accumulation/Distribution Line, yang dapat menggambarkan tekanan beli yang tersembunyi walaupun harga belum menunjukkan reaksi.
Baca Juga: Perbandingan Harga Emas dan Bitcoin Pasca Perang Dagang, Pilih Investasi Mana ?
3. Transaksi dari Dompet ke Exchange
Ketika whale ingin menjual asetnya, mereka tidak langsung melakukannya di bursa. Biasanya, langkah pertama adalah mentransfer aset dari dompet pribadi (cold wallet) ke dompet pertukaran (hot wallet).
Proses ini berlangsung di jaringan blockchain (on-chain), dan dapat kamu lihat sebelum aksi jual muncul di grafik candlestick.
Dompet yang menyimpan sejumlah besar BTC mengirimkan 5. 000 BTC ke salah satu bursa terpusat → Ini bisa menjadi sinyal kuat akan terjadinya aksi jual besar dalam waktu dekat.
Oleh karena itu, melacak volume transaksi saja tidaklah cukup. Kita juga perlu memperhatikan:
a. Dompet mana yang melakukan transfer aset
b. Tujuan transfer (bursa mana, DEX mana)
c. Jenis dan jumlah aset
d. Identitas dompet (apakah milik investor besar, tim pengembang, VC, atau bahkan dompet peretas)
Untuk melacak aktivitas ini, kamu bisa memanfaatkan platform seperti Arkham Intelligence yang memungkinkan pemantauan yang mendetail terhadap pergerakan aset crypto di jalur on-chain terutama untuk pergerakan dompet whale.
Dengan cara ini, kamu bisa berperan sebagai "detektif on-chain" yang mengikuti aktivitas whale sebelum pasar memberikan respons.
Apakah Semua Aktivitas Whale Dapat Terlihat Melalui Volume Perdagangan dan Data On-Chain?
1. Tidak Semua Aktivitas Whale Terlihat di Pasar Terbuka
Tidak semua whale melakukan perdagangan di bursa terbuka (spot exchange) secara langsung atau dalam jumlah yang besar, yang dapat dilihat pada grafik volume.
Beberapa dari mereka menggunakan jalur transaksi alternatif, seperti Over-the-Counter (OTC) platform untuk membeli dan menjual crypto secara pribadi antara dua pihak, tanpa masuk ke buku pesanan publik.
Dengan transaksi OTC, whale dapat melakukan pembelian atau penjualan dalam jumlah yang besar tanpa mempengaruhi harga pasar secara langsung.
Karena tidak melalui bursa, tindakan ini tidak terlihat dalam total volume perdagangan dan tidak selalu dapat dilacak di on-chain, kecuali aset dipindahkan ke atau dari bursa setelah transaksi selesai.
2. Keterbatasan Data On-Chain
Meskipun data on-chain dapat memberikan pandangan terhadap aktivitas blockchain seperti perpindahan antar dompet, jumlah token, dan interaksi dengan smart contract, tidak semua dompet dapat diidentifikasi dengan jelas.
Banyak whale yang menggunakan dompet baru, wallet mixing, atau protokol privasi untuk menyembunyikan identitas dan aktivitas mereka.
Selain itu, jika transaksi dilakukan langsung dalam lingkungan terdesentralisasi (seperti antar smart contract), tidak semua sinyal tersebut dapat langsung dihubungkan dengan aksi jual-beli, kecuali dilakukan analisis tambahan.
Volume Tinggi ≠ Selalu Whale
Tidak semua lonjakan dalam volume menandakan bahwa whale sedang aktif. Volume tersebut mungkin dihasilkan oleh trader ritel secara kolektif, bot trading, atau tindakan manipulatif seperti wash trading yang berarti menciptakan volume palsu untuk menarik minat trader ritel.
Oleh karena itu, setiap volume yang besar perlu dikonfirmasi dengan konteks harga, sentimen pasar, dan data on-chain yang relevan.
Ketika kamu telah memahami analisa fundamental dan analisa teknikal, maka selanjutnya kamu bisa melakukan trading crypto. Langkah awal yang harus kamu lakukan adalah memilih platform trading crypto yang terbaik.
Dengan kemajuan teknologi yang semakin canggih. banyak developer teknologi yang membangun platform trading crypto.
Bahkan sekarang ini banyak aplikasi trading crypto yang bisa kamu gunakan. Tetapi hal ini membuat bingung para pemula untuk mencari yang terbaik.
Beberapa faktor yang harus kamu perhatikan adalah kelengkapan fitur yang ditawarkan, apakah aplikasi tersebut menyediakan fitur trading spot dan trading futures, biaya trading, hingga faktor keamanan berlapis yang ditawarkan.
Itulah beberapa cara yang dapat kamu lakukan untuk mendeteksi pergerakan whale dilihat dari volume perdagangan yang dilakukan.
Perlu diingat, semua aktivitas jual beli crypto memiliki resiko dan volatilitas yang tinggi karena sifat crypto dengan harga yang fluktuatif.
Maka dari itu, selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan gunakan dana yang tidak digunakan dalam waktu dekat (uang dingin) sebelum berinvestasi.
Segala aktivitas jual beli bitcoin dan investasi aset crypto lainnya menjadi tanggung jawab para trader dan investor. ****
Editor : Dharaka R. Perdana