Kalender Jawa Punya Dasar Ilmiah? Ini Cara Menghitung Weton dan Neptu

RADARTULUNGAGUNG,JAWAPOS.COM - Kalender Jawa masih menjadi bagian penting dalam kehidupan sebagian masyarakat Jawa, mulai dari menentukan hari baik untuk pernikahan hingga menghitung kecocokan pasangan berdasarkan weton. Sistem penanggalan ini juga memiliki pola matematis yang dapat dijelaskan secara ilmiah. Namun, kepercayaan bahwa weton menentukan karakter, rezeki, dan keberuntungan seseorang belum memiliki bukti ilmiah yang kuat. Lantas, bagaimana sejarah kalender Jawa, cara menghitungnya, dan sejauh mana sistem ini dapat dijelaskan melalui sains?
Sejarah Kalender Jawa dan Penggunaannya
Kalender Jawa berkembang sebagai bagian dari perjalanan sejarah dan kebudayaan masyarakat Jawa. Sistem ini memiliki kaitan erat dengan masa Kesultanan Mataram Islam, terutama setelah Sultan Agung memperkenalkan pembaruan kalender pada 1633.
Pembaruan tersebut memadukan penomoran tahun yang berlanjut dari tradisi Saka dengan sistem perhitungan bulan berdasarkan kalender Hijriah. Perpaduan ini menjadi salah satu contoh pertemuan tradisi Jawa dan pengaruh Islam dalam sejarah Nusantara.
Hingga sekarang, kalender Jawa masih digunakan untuk berbagai keperluan adat dan kebudayaan. Sebagian masyarakat memakainya untuk menentukan waktu pelaksanaan pernikahan, pindah rumah, kegiatan tradisional, hingga memperingati malam Satu Suro.
Meski demikian, penggunaan kalender Jawa tidak selalu berarti masyarakat meninggalkan kalender Masehi. Keduanya dapat digunakan berdampingan sesuai kebutuhan, baik untuk urusan sehari-hari maupun pelaksanaan tradisi.
Baca Juga: Harga iPhone iBox Oktober 2026 Naik hingga Rp2 Juta, Cek Daftar Lengkapnya
Mengenal Lima Pasaran dalam Kalender Jawa
Salah satu ciri khas kalender Jawa adalah sistem pasaran yang terdiri atas lima hari, yaitu Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon. Siklus ini berjalan bersamaan dengan siklus tujuh hari yang dikenal dalam kalender Masehi.
Perpaduan kedua siklus tersebut menghasilkan pola berulang setiap 35 hari. Angka ini berasal dari kelipatan persekutuan terkecil antara tujuh hari dalam sepekan dan lima hari pasaran.
Sebagai contoh, seseorang yang lahir pada Selasa Legi akan kembali menemukan kombinasi hari dan pasaran yang sama setelah 35 hari. Siklus inilah yang menjadi dasar penghitungan weton dalam tradisi Jawa.
Weton merupakan kombinasi hari kelahiran dan pasaran seseorang. Dalam praktik kebudayaan Jawa, weton kerap digunakan sebagai salah satu pertimbangan untuk menghitung kecocokan pasangan, menentukan hari baik, atau membaca karakter berdasarkan primbon.
Namun, penting dipahami bahwa fungsi tersebut berkaitan dengan kepercayaan dan tradisi masyarakat, bukan kepastian ilmiah mengenai masa depan seseorang.



