Namun, bagi para sesepuh dan tokoh spiritual di daerah ini, sosok tersebut bukanlah legenda biasa.
Ia dipercaya sebagai penjaga alam dan simbol kearifan lokal yang telah ada sejak masa kerajaan.
Menariknya, meski sering disalahpahami sebagai bagian dari praktik pesugihan, Nyi Roro Kembang Sore sejatinya merupakan warisan budaya spiritual yang sarat nilai moral dan sejarah panjang.
Asal-Usul Kembang Sore di Tanah Tulungagung
Dalam video berdurasi hampir 25 menit yang beredar di YouTube, seorang sesepuh Tulungagung menceritakan kembali kisah Kembang Sore dengan penuh penghormatan.
Ia menegaskan bahwa “Kembang Sore niku ditot malam,” yang dalam bahasa Jawa berarti ritual penghormatan dilakukan pada malam hari bukan untuk mencari kekayaan instan, melainkan bentuk laku spiritual.
Kisah ini berawal dari masa Dipati Kalang Barat, ketika daerah Tulungagung masih berbentuk kadipaten.
Saat itu dikenal tokoh bernama Besari Minak Sofa, seorang pemimpin yang menjaga keseimbangan antara alam dan manusia.
Dalam keyakinan masyarakat, Nyi Roro Kembang Sore menjadi penjaga keseimbangan tersebut, hadir sebagai lambang keindahan sekaligus keteguhan.
“Kembang Sore Tulungagung iku dudu pesugihan,” ujar sang narasumber dalam video.
Ia menegaskan bahwa banyak generasi muda salah kaprah terhadap tradisi leluhur, karena menganggap setiap ritual kuno identik dengan hal mistis negatif.
Mitos, Musik, dan Makna Ritual
Menariknya, dalam video tersebut suasana diiringi musik gamelan dan tepuk tangan penonton, menggambarkan nuansa sakral namun penuh harmoni.
Sang sesepuh juga sempat menyebut bahwa sebagian ritual dilakukan di Desa Ambulu, wilayah yang dipercaya menjadi pusat spiritual lama di Tulungagung bagian selatan.
Ritual “Kembang Sore” sendiri bukan sekadar pemujaan, tetapi ungkapan rasa syukur dan doa untuk keselamatan.
Dalam tradisi Jawa, bunga sering digunakan sebagai simbol keindahan, kesucian, dan penghormatan terhadap alam.
“Guruku masih kelas loro, tapi wis ngerti arti bunga sore,” ujar narasumber sambil tersenyum, menandakan bahwa nilai-nilai spiritual ini diajarkan sejak dini dalam masyarakat lama.
Dilestarikan Tokoh dan Warga Lokal
Sejumlah tokoh masyarakat Desa Ambulu disebut masih melestarikan tradisi ini seminggu sekali.
Ritual dilakukan dengan sederhana membakar kemenyan, menabur bunga, dan berdoa bersama di tempat yang dianggap keramat.
Bukan untuk memanggil makhluk gaib, melainkan untuk mengenang jasa leluhur dan memohon ketenangan batin.
“Ora ana pesugihan, sing ana pangeling-eling,” kata sesepuh itu.
Artinya, bukan kekayaan yang dicari, melainkan pengingat untuk hidup seimbang dan menghormati alam.
Sayangnya, di tengah perkembangan zaman, tradisi semacam ini sering dipandang sebelah mata.
Sebagian generasi muda bahkan menilai ritual tersebut mistik berlebihan, tanpa memahami filosofi yang tersimpan di baliknya.
Pesan Moral: Melestarikan Warisan Leluhur
Dalam penggalan akhir video, sang pencerita menegaskan bahwa Kembang Sore harus dipandang sebagai warisan budaya, bukan pesugihan.
Ia bahkan menyebut adanya darah dan pengaruh budaya dari berbagai daerah mulai dari Kalimantan, Lampung, Bali, hingga Blitar dan Lumajang yang menunjukkan bahwa tradisi ini menyatukan banyak unsur kebudayaan Nusantara.
Ia juga menyoroti kurangnya perhatian pemerintah daerah terhadap pelestarian budaya semacam ini.
“Perhatian saking pemda ni Kadipaten Tulungagung kok kurang,” keluhnya. Padahal, jika digarap serius, ritual Kembang Sore dapat menjadi daya tarik wisata spiritual khas Tulungagung.
Baca Juga: Jaman Doeloe: Kenangan Nostalgia yang Indah yang Tak Terlupakan
Legenda yang Perlu Dipahami Ulang
Sosok Nyi Roro Kembang Sore menjadi simbol penting bagi masyarakat Tulungagung: bukan makhluk halus, bukan pula dewi laut, tetapi representasi dari nilai luhur kehidupan yang harmonis.
Tradisi ini mengajarkan penghormatan kepada alam, leluhur, dan sesama manusia nilai yang semakin langka di era modern.
Melalui video berdurasi lebih dari dua puluh menit itu, pesan yang ingin disampaikan sederhana namun dalam:
“Kembang Sore bukan pesugihan, melainkan cermin jiwa Jawa yang penuh ketenangan dan kebijaksanaan.”
Editor : Anggi Septian A.P.