Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Nasib Persebaya 1927 Ditentukan di Kongres PSSI Oktober, Perjuangan 6 Tahun Bonek Mania Akhirnya Temui Titik Terang?

Axsha Zazhika • Jumat, 20 Februari 2026 | 18:10 WIB

Nasib Persebaya 1927 Ditentukan di Kongres PSSI Oktober, Perjuangan 6 Tahun Bonek Mania Akhirnya Temui Titik Terang?
Nasib Persebaya 1927 Ditentukan di Kongres PSSI Oktober, Perjuangan 6 Tahun Bonek Mania Akhirnya Temui Titik Terang?

TULUNGAGUNG - Nasib Persebaya 1927 akhirnya memasuki babak krusial. Setelah enam tahun perjuangan tanpa henti, Bonek Mania kini menanti keputusan Kongres PSSI Oktober yang akan menentukan masa depan klub kebanggaan Kota Pahlawan tersebut. Isu nasib Persebaya 1927 ini kembali menghangat seiring rangkaian perjuangan hukum dan aksi massa yang dilakukan suporter.

Nasib Persebaya 1927 tak bisa dilepaskan dari konflik panjang sejak 2010. Saat itu terjadi dualisme klub yang membuat Persebaya terpecah. Salah satu kubu mengikuti Liga Primer Indonesia (LPI), sementara kubu lain tetap berada dalam sistem kompetisi resmi. Polemik tersebut berbuntut pada pembekuan dan larangan mengikuti kompetisi oleh PSSI.

Nasib Persebaya 1927 semakin rumit ketika PSSI menyatakan klub tersebut bukan anggota federasi. Keputusan inilah yang memicu gelombang protes besar dari Bonek Mania, yang meyakini Persebaya 1927 sebagai klub asli dengan sejarah panjang sejak 1927.

Baca Juga: BSU Rp600.000 Januari 2026 Cair atau Tidak? Ini Penjelasan Terbaru Pemerintah dan Prioritas Penerimanya

Aksi Turun Jalan dan Penolakan Kongres PSSI

Puncak kekecewaan terjadi pada 18 April 2015. Ribuan Bonek turun ke jalan menolak Kongres PSSI yang digelar di Surabaya. Mereka memprotes keputusan federasi yang membekukan Persebaya 1927 dari kompetisi nasional.

Bagi Bonek, persoalan ini bukan sekadar soal kompetisi, melainkan soal identitas dan sejarah. Mereka menilai akar masalah terletak pada rezim lama PSSI yang dianggap tidak adil dalam mengelola sepak bola nasional.

Perjuangan tersebut tak berhenti pada aksi demonstrasi. Bonek juga mengawal proses hukum terkait logo dan hak identitas Persebaya Surabaya. Gugatan dari PT Mitra Muda Inti Berlian sebagai pihak yang mengklaim Persebaya Surabaya digugat ke pengadilan.

Baca Juga: Gaji P3K Paruh Waktu 2026 Cair Tiap Tanggal 1? Ini Jadwal Pembayaran dan Daerah yang Serahkan SK 2 Januari

Menang di Pengadilan, Harapan Terbuka

Majelis hakim akhirnya menolak seluruh materi gugatan terhadap Persebaya yang dianggap memiliki dasar sejarah dan legalitas kuat, termasuk akta notaris pendirian klub. Putusan tersebut menjadi angin segar bagi Bonek Mania.

Kemenangan di pengadilan niaga memperkuat posisi Persebaya 1927 dalam memperjuangkan pengakuan resmi. Bonek menilai, sejarah panjang klub dan legitimasi hukum menjadi bukti kuat bahwa Persebaya layak kembali ke kompetisi nasional.

Sementara itu, dinamika sepak bola nasional juga berubah. Kepengurusan PSSI sempat dibekukan oleh Kemenpora, membuka peluang restrukturisasi federasi. Momentum ini dimanfaatkan Bonek untuk terus menyuarakan aspirasi mereka.

Baca Juga: PPPK Paruh Waktu 2026 Jadi Titik Balik Honorer? Ini Skema Gaji, Jaminan Sosial, dan Peluang Jadi Penuh Waktu

Geruduk KLB PSSI di Jakarta

Pada 3 Agustus 2016, PSSI menggelar Kongres Luar Biasa (KLB) di Jakarta. Ratusan Bonek kembali bergerak, kali ini mendatangi ibu kota untuk mendesak agar nasib Persebaya 1927 masuk dalam agenda pembahasan.

Kemenpora saat itu menyatakan akan mengirim perwakilan untuk mendengar langsung aspirasi Bonek. Pemerintah berjanji mendorong agar persoalan Persebaya mendapat perhatian serius dalam forum kongres.

Hasil KLB PSSI memutuskan bahwa nasib Persebaya 1927 akan ditentukan dalam Kongres PSSI Oktober. Keputusan tersebut dinilai bijak karena tidak mengganggu konstelasi tim yang sudah berlaga di Indonesia Super League (ISL), namun tetap memberi ruang bagi Persebaya membangun kembali timnya.

Baca Juga: CPNS 2026 Kapan Dibuka? Ini Sinyal Terbaru dari BKN dan KemenPANRB, Waspada Hoaks AI

Peluang Bangkit dan Cari Investor

Keputusan menunggu kongres Oktober membuka peluang manajemen untuk membentuk tim secara bertahap. Jika kembali melalui jalur Divisi Utama, kebutuhan biaya dinilai tidak sebesar kompetisi kasta tertinggi.

Langkah ini memberi waktu bagi manajemen mencari investor dan memperkuat fondasi klub. Bonek berharap pengakuan resmi akan mempermudah pembinaan pemain muda dan pengelolaan klub secara profesional.

Di sisi lain, suporter tetap waspada. Mereka tak ingin janji hanya berhenti sebagai wacana. Enam tahun perjuangan telah menguras energi dan emosi ribuan pendukung setia Bajul Ijo.

Baca Juga: Jejak Pabrik Gula Kunir Ngunut Tulungagung: Pabrik Gula Modern 1930 Kini Tinggal Reruntuhan dan Diselimuti Mitos

Menanti Keputusan Kongres Oktober

Kini publik Surabaya menanti hasil Kongres PSSI Oktober dengan penuh harap. Lagu-lagu dukungan yang dulu menggema di stadion kembali dinyanyikan sebagai simbol kerinduan akan kejayaan Persebaya.

Bagi Bonek Mania, mendukung Persebaya adalah soal loyalitas tanpa syarat. “Di mana kau berada, di situ kami ada,” menjadi semboyan yang terus dipegang.

Apakah nasib Persebaya 1927 benar-benar akan menemukan titik terang? Jawabannya bergantung pada keputusan kongres mendatang. Yang jelas, perjuangan panjang Bonek telah membuktikan bahwa cinta terhadap klub tak pernah padam.

Editor : Axsha Zazhika
#klb pssi #Nasib Persebaya 1927 #Dualisme Persebaya #Kongres PSSI Oktober #bonek mania