TULUNGAGUNG- Perjalanan Timnas Indonesia era Shin Tae-yong menjadi salah satu babak paling dramatis dalam sejarah sepak bola nasional. Dari tim yang kerap jadi bulan-bulanan lawan, skuad Garuda menjelma menjadi kekuatan baru Asia Tenggara, bahkan mulai diperhitungkan di level Asia. Namun, kisah manis itu harus berakhir secara mengejutkan pada awal 2025.
Nama Shin Tae-yong pertama kali diperkenalkan PSSI pada Desember 2019. Ia datang menggantikan Simon McMenemy, setelah Indonesia terpuruk di dasar klasemen Kualifikasi Piala Dunia 2022 zona Asia. Hanya satu poin dari delapan laga, kebobolan 27 gol, serta menjadi juru kunci menjadi catatan kelam yang sulit dilupakan.
Fondasi Fisik dan Revolusi Mental
Shin tidak sekadar membenahi taktik. Ia memulai revolusi dari hal mendasar: fisik dan disiplin. Latihan keras menjadi menu wajib. Ia membangun sistem berjenjang dari U-19, U-23 hingga senior. Fokusnya jelas: membentuk mental petarung.
Perubahan mulai terasa di Piala AFF 2020. Indonesia melaju ke final dengan skuad muda rata-rata usia 23 tahun. Meski kalah dari Thailand, publik melihat fondasi masa depan.
Langkah strategis lainnya adalah naturalisasi pemain diaspora berbasis kualitas. Nama-nama seperti Elkan Baggott, Sandy Walsh, dan Jordi Amat memperkuat lini belakang. Kombinasi pemain lokal seperti Asnawi Mangkualam dan Pratama Arhan membuat Timnas Indonesia tampil lebih solid.
Puncak momentum kebangkitan terlihat saat Indonesia lolos ke Piala Asia 2023 dan mencetak sejarah dengan menembus babak 16 besar. Untuk pertama kalinya, Indonesia lolos dari fase grup Piala Asia.
Kejutan di Kualifikasi Piala Dunia 2026
Perjalanan makin menggila di Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia. Indonesia tergabung di grup berat bersama raksasa Asia. Namun di luar dugaan, Garuda mampu menahan imbang Arab Saudi dan Australia.
Bahkan, pada November 2024, Indonesia sukses menumbangkan Arab Saudi 2-0 di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Kemenangan itu memutus rekor 41 tahun tanpa kemenangan atas tim Timur Tengah tersebut. Indonesia pun sempat duduk di posisi tiga klasemen Grup C.
Tak hanya itu, skuad U-23 juga mencetak sejarah di Piala Asia U-23 2024 dengan menembus semifinal setelah menyingkirkan Korea Selatan lewat adu penalti dramatis. Dunia mulai melirik. Asia mulai menghormati.
Konflik dan Akhir Era
Namun perjalanan tidak selalu mulus. Hubungan Shin dengan beberapa pemain diaspora dikabarkan merenggang. Kasus tidak dipanggilnya Elkan Baggott memicu spekulasi konflik internal. Kritik juga muncul saat Indonesia kalah dari China akibat rotasi dan perubahan taktik yang dinilai kontroversial.
Kekalahan telak 0-4 dari Jepang sempat memukul mental tim. Meski sempat bangkit dan kembali meraih kemenangan penting, badai justru datang dari internal federasi.
Pada Januari 2025, PSSI resmi memecat Shin Tae-yong. Ketua Umum PSSI Erick Thohir menyebut alasan komunikasi dan kebutuhan strategi baru sebagai pertimbangan utama.
Keputusan ini mengejutkan publik. Banyak yang menilai momentum kebangkitan sedang berada di jalur positif. Namun PSSI memilih arah baru dengan menunjuk legenda Belanda, Patrick Kluivert, sebagai pelatih anyar.
Warisan Tak Terbantahkan
Terlepas dari akhir yang kontroversial, warisan Shin Tae-yong tak bisa dipungkiri. Ia mengubah mentalitas pemain, memperbaiki struktur pembinaan, dan mengangkat kepercayaan diri bangsa.
Di bawah asuhannya, Timnas Indonesia:
-
Lolos ke putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026
-
Menembus 16 besar Piala Asia
-
Mencetak sejarah di level U-23 Asia
-
Mengalahkan Arab Saudi setelah empat dekade
Timnas Indonesia bukan lagi lumbung gol. Garuda kini terbang dengan kepala tegak.
Era Shin memang telah usai. Namun fondasi yang ia tanam membuat publik kembali berani bermimpi: melihat Merah Putih berkibar di panggung dunia.
Editor : Izahra Nurrafidah