TULUNGAGUNG– Sejarah Persib Bandung tidak bisa dilepaskan dari perjalanan panjang sepak bola Indonesia sejak era penjajahan Belanda. Klub kebanggaan warga Jawa Barat itu lahir bukan sekadar sebagai tim olahraga, melainkan sebagai simbol perjuangan dan alat pemersatu bangsa di tengah tekanan kolonial.
Sepak bola di Indonesia mulai berkembang pesat sejak awal 1900-an. Namun, pada masa itu olahraga ini belum memasuki era profesional. Sepak bola masih dimainkan untuk tujuan rekreasi dan kesenangan semata. Meski begitu, geliatnya sudah terasa di berbagai daerah, termasuk di Bandung.
Pada masa Hindia Belanda, perkumpulan sepak bola dikelola oleh organisasi bernama Nederlandsch Indische Voetbal Bond (NIVB), yang kemudian berganti nama menjadi Nederlandsch Indische Football Unie (NIFU). Selain itu, komunitas warga keturunan Tionghoa juga membentuk perkumpulan sendiri bernama Tiong Hoa Voetbal Bond (THVB). Sementara itu, kaum pribumi membentuk Persatuan Sepak Raga Seluruh Indonesia (PSSI) sebagai representasi pergerakan nasional di bidang olahraga.
Awal Mula Lahirnya Persib Bandung
Cikal bakal sejarah Persib Bandung bermula dari berdirinya Bandoeng Inlandsche Voetbal Bond (BIVB). Organisasi ini didirikan sebagai alat perjuangan untuk mempersatukan masyarakat Bandung dan sekitarnya dalam semangat nasionalisme dan kecintaan terhadap Indonesia.
Pada saat yang hampir bersamaan, muncul pula Persatuan Sepak Bola Indonesia Bandung (PSIB) serta organisasi lain yang bergerak di bidang sepak bola. Dalam perkembangannya, sejumlah organisasi tersebut melebur dan menyatukan visi perjuangan.
Akhirnya, pada 14 Maret 1933, lahirlah Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia Bandung yang kemudian dikenal sebagai Persib Bandung. Tanggal tersebut menjadi tonggak resmi berdirinya klub yang kini memiliki basis suporter fanatik bernama Bobotoh.
Momentum berdirinya Persib bukan sekadar penggabungan organisasi olahraga. Lebih dari itu, ia menjadi simbol perlawanan kultural terhadap dominasi kolonial Belanda yang saat itu masih berkuasa di Bandung dan wilayah Indonesia lainnya.
Diremehkan Pemerintah Kolonial
Di awal berdirinya, Persib Bandung kerap diremehkan oleh warga Belanda maupun pemerintah kolonial setempat. Klub ini dianggap tidak akan mampu menjadi alat pemersatu rakyat pribumi. Skeptisisme itu membuat Persib kesulitan mendapatkan fasilitas latihan.
Kala itu, Persib tidak diberi akses menggunakan lapangan di pusat kota Bandung. Akibatnya, tim harus berlatih di kawasan pinggiran kota. Kondisi tersebut justru memperkuat semangat perjuangan para pendirinya. Sepak bola menjadi media konsolidasi sosial dan simbol kebangkitan identitas bangsa.
Ketua umum pada masa BIVB dijabat oleh Syamsudin. Kepemimpinan kemudian dilanjutkan oleh Raden Oto Iskandar di Nata, putra dari pahlawan nasional Dewi Sartika. Peran tokoh-tokoh tersebut sangat penting dalam menjaga semangat nasionalisme melalui olahraga.
Dari Alat Perjuangan ke Klub Kebanggaan
Seiring waktu, Persib Bandung tumbuh menjadi salah satu klub paling berpengaruh di Indonesia. Dari sebuah organisasi perjuangan, Persib menjelma menjadi ikon olahraga Jawa Barat yang memiliki sejarah panjang dan identitas kuat.
Bobotoh, sebutan untuk pendukung setia Persib, menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan klub. Loyalitas mereka bahkan dikenal luas di kancah sepak bola nasional. Setiap pertandingan Persib selalu menyedot perhatian publik, baik di stadion maupun melalui siaran langsung.
Transformasi Persib Bandung menunjukkan bahwa sepak bola bukan sekadar olahraga. Ia bisa menjadi medium perjuangan, alat pemersatu, sekaligus kebanggaan daerah. Sejarah panjangnya membuktikan bahwa klub ini lahir dari semangat kolektif masyarakat Bandung untuk menunjukkan eksistensi dan harga diri bangsa.
Kini, setiap peringatan 14 Maret selalu menjadi momen refleksi perjalanan panjang Maung Bandung—julukan Persib—dari masa kolonial hingga era modern. Sejarah Persib Bandung menjadi pengingat bahwa di balik gemerlap kompetisi profesional saat ini, terdapat kisah perjuangan yang sarat makna nasionalisme.
Persib tidak hanya berdiri sebagai klub sepak bola, tetapi juga sebagai simbol perlawanan dan kebanggaan rakyat Bandung yang terus hidup dari generasi ke generasi.
Editor : Izahra Nurrafidah