TRENGGALEK- Setiap tanggal 28 September (Kamis,28/9/2023) diperingati sebagai hari kereta api.Namun siapa sangka, di wilayah Bumi Menak Sopal ternyata sempat ada jalur kereta api.
Hal tersebut dimulai pada tahun 1869, ketika Pemerintah Kolonial Belanda membangun jalur kereta api di Indonesia.
Pembangunan jalur tersebut dilakukan untuk transportasi hasil bumi masyarakat saat itu. Sebab modal transportasi yang ada saat itu adalah cikar dinilai kurang efektif lantaran ketika musim penghujan sulit untuk beroperasi. Sedangkan perahu juga sulit, lantaran tidak semua wilayah memiliki sungai besar.
"Berdasarkan dokumen Bahasa Belanda yang kami baca, pembangunan jalur kereta api di Jawa Timur (Jatim) mulai direncanakan sekitar tahun 1871, sedangkan untuk jalur ke Trenggalek mulai dirintis sekitar tahun 1920," ungkap Wakil Ketua Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI) Jatim Harmaji.
Dia melanjutkan untuk pembangunan jalur kereta api ke Trenggalek dimulai melalui tiga tahap yang dimulai dari Stasiun Tulungagung. Itu berdasarkan Undang-undang (UU) tanggal 6 Juni 1919 steinbart no 13. Jadi mulai di bangun sekitar tahun 1920 dengan rute Tulungagung- Campurdarat dengan panjang rute sekitar 15 kilometer (km).
Dilanjutkan tahap ketiga dari Campurdarat menuju Trenggalek sejauh 25 km. Setah itu tahap ketiga dari Trenggalek menuju Tugu sejauh 9 km.
"Dalam berita Belanda itu kami belum menemukan kapan tiap tahap itu selesai di bangun, yang pasti semuanya selesai pada 1 Juli 1922," katanya.
Pada masa pengoprasiannya, kereta ke Trenggalek tersebut menempuh jalur dari Campurdarat menuju daerah Desa Kedunglurah, Kecamatan Pogalan, tanpa melewati daerah Durenan. Setelah itu menuju daerah Desa Ngetal, Kecamatan Pogalan lalu ke Desa Sambirejo, Kecamatan Trenggalek hingga tiba di Stasiun Trenggalek.
Setelah itu kereta melanjutkan perjalanan ke arah Tugu. Sedangkan untuk komoditi yang diangkut adalah hasil perkebunan, sebab saat itu Trenggalek terkenal dengan hasil kebun khususnya kopi.
Namun sayangnya oengoprasian kereta api tersebut hanya berlangsung sekitar 10 tahun.
Sebab berdasarkan berita yang terbit pada Woensdag (Rabu) 19 Oktober 1932 menguat pengumuman yang artinya mulai 1 November kereta api jurusan Tulungagung - Trenggalek - Tugu berhenti beroperasi. Sedangkan mengenai alasannya, tidak diterangkan terkait pengumuman tersebut.
"Mungkin saat itu kondisi perekonomian pemerintah Kolonial Belanda sedang sulit, makanya rute kereta api itu berhenti. Dan, kemungkinan sisa-sisa Stasiun atau halte tempat pemberhentian kereta api itu sekarang beralih fungsi jadi bangunan milik pemerintah, "jelas pria yang juga guru sejarah di SMAN 2 Trenggalek ini. (jaz)
Editor : Zaki Jazai