KOTA, Radar Trenggalek- Demam berdarah dengue (DBD) menjadi salah satu penyakit yang haarus diwaspadai. Pasalnya, bisa mengancam nyawa, jika terlambat penanganannya. Terbukti, tahun lalu ada satu korban meninggal akibat gigitan nyamuk Aedes Aegypti itu.
Data Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk (Dinkesdalduk) Keluarga Berencana (KB), pada 2023 ada 128 pasien DBD. Pada 2022, tercatat 268 pasien. Artinya, ada penurunan sebanyak 104 kasus.
“Kendati menurun, tapi tahun kemarin ada satu pasien yang meninggal akibat DBD,“ ungkap Kepala Dinkesdalduk KB Trenggalek, Sunarto.
Dia melanjutkan, berdasarkan catatan yang ada pasien yang meninggal tersebut merupakan warga di wilayah Kecamatan Bendungan, kategori dewasa. Dengan demikian, DBD berbahaya bagi semua kalangan usia. Bukan hanya anak kecil ataupun balita. ”Selain yang menderita, penurunan juga terjadi pada jumlah pasien yang meninggal, sebab lada 2022 lalu ada dua pasien,“ katanya.
Dengan demikian, fatalitas hingga mengakibatkan pasien meninggal tetap menjadi perhatian Pemkab Trenggalek. Apalagi pada 22 puskesmas yang ada di Trenggalek rata-rata terdapat kasus DBD, meskipun secara jumlah kasus di setiap Puskesmas cenderung turun. Itu terlihat tahun kemarin kasus tertinggi di Kecamatan Karangan dengan 21 pasien. Sedangkan untuk puskesmas yang tidak ada laporan kasus adalah Puskesmas Bodag, Kecamatan Bandung.
Untuk itu, Dinkesdalduk KB terus melakukan upaya-upaya pencegahan. Di antaranya memasifkan peran juru kader pemantau jentik. Selain itu, Sunarto mengimbau agar masyarakat aktif menggalakkan pemberantasan sarang nyamuk terutama di lingkungannya masing-masing. Itu seperti. enguras bak mandi minimal seminggu sekali, menutup bak air dan mengubur tempat yang berpotensi jadi sarang nyamuk (3M).
Ditambahkan penaburan bubuk abate pada lokasi genangan air yang tidak mungkin dikuras, diharapkan juga bisa memberantas berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti. Selain itu, pemkab juga melakukan kegiatan fogging atau pengasapan selektif terutama pada wilayah-wilayah yang muncul kasus DBD. “Bisa dibilang kasus DBD turun hampir separuh, atau dengan kata lain kasus DBD di Trenggalek dapat dikendalikan, tapi pencegahan tetap kami lakukan, “jelas pria yang akrab disapa dr. Narto tersebut. (jaz/wen)
Editor : Whendy Gigih Perkasa