Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Nguri-Nguri Budaya, Gelar Ritual Labuh di Sawah

Dharaka Russiandi Perdana • Sabtu, 29 Juli 2017 | 01:32 WIB
nguri-nguri-budaya-gelar-ritual-labuh-di-sawah
nguri-nguri-budaya-gelar-ritual-labuh-di-sawah

TRENGGALEK- Nguri-nguri atau melestarikan budaya peninggalan nenek moyang terus dilakukan sebagian petani di Dusun Jatisari, Desa/ Kecamatan Pogalan. Buktinya, kemarin (27/7) mereka melaksanakan ritual labuh tasyakuran sebagai ungkapkan rasa syukur atas hasil panen musim tanam ini yang sukses, dan agar terhindar dari gagal panen pada musim tanam sebelumnya.


Kendati diguyur hujan gerimis, tidak membuat petani surut dalam mengikuti upacara yang dimulai sekitar pukul 08.30. Saat itu terlihat seorang perwakilan petani memberikan perlengkapan ritual, seperti lima ikat jerami, dan empat bungkus sesasi (ucok bakal) kepada sesepuh desa untuk ritual labuh tasyakuran. Setelah itu, sesepuh desa langsung memanjatkan doa-doa dan memulai ritual tersebut dengan membakar ikat jerami dan meletakkan ucok bakal di empat penjuru lahan pertanian. Setelah itu, ritual dilanjutkan dengan makan bersama buceng yang disediakan. “Kami di sini hanya ingin melestarikan tradisi leluhur yang dilaksanakan sejak zaman Kerajaan Majapahit, sedangkan untuk satu ikat jerami lagi dibakar pada tengah lahan persawahan warga,” ungkap Wakiran sesepuh desa.


Sementara itu salah seorang petani Sudarto mengatakan, para petani semangat melakukan ritual tersebut karena sebagai wujud rasa syukur atas melimpahnya hasil panen kali ini. Itu terlihat, tanaman padi petani jarang ada yang terserang hama wereng. Padahal di desa lainnya banyak yang terserang hingga mengakibatkan gagal panen. “Syukurlah kendati kami tidak melakukan pemupukan maupun pemberantasan hama dengan bahan kimia, namun tanaman bagus dan tahan wereng,” katanya.


Dia melanjutkan, diperkirakan saat ini hasil panennya meningkat sekitar 500 kilogram daripada masa tanam kemarin. Diprediksi, panen saat ini 75 petak sawahnya menghasilkan panen seberat 4,5 kwintal dari yang sebelumnya 4 kwintal. “Panen lalu juga baik, dan kali ini lebih baik lagi semoga saja hal ini terus terjadi di panen-panen berikutnya,” harapnya.


Di lain pihak, Kepala Desa Pogalan, Suparni mengatakan, selain sebagai wujud rasa syukur, ritual kali ini juga untuk mempertahankan tradisi nenek moyang yang sudah lama hilang. Sebab, baru tiga tahun ini, dirinya beserta  petani mulai melakukan ritual tersebut kembali. “Ritual ini dilakukan setiap sebelum panen padi, sehingga ritual ini diadakan setiap dua kali dalam setahun sebab di sini ada dua kali tanam,” ujarnya.



Suksesnya panen kali ini, maka pemerintah desa (pemdes) akan mengimbau petani tetap mempertahankan sistem penanaman padi yaitu jajar legowo, dan tidak menggunakan pupuk kimia melainkan menggunakan agen hayati. Sehingga, dengan hal tersebut musalami hama tetap bisa langsung hidup dan membantu petani dalam memberantas hewan pengganggu tanaman. “Semoga pada masa panen kedepan hasilnya bisa lebih bagus lagi, dan kami akan terus mempertahankan ritual ini agar tidak punah dan bisa dipahami oleh anak cucu nantinya,” jelasnya. (*)

Editor : Dharaka Russiandi Perdana