
Radar Tulungagung - Kobaran api yang melahap sebuah kandang ayam di Desa Boro, Kecamatan Kedungwaru, Minggu (19/7) malam, tak hanya menghanguskan bangunan, tetapi juga mematikan sekitar 3.100 ekor ayam yang terjebak di dalam kandang. Dalam hitungan kurang dari dua jam, peternak harus menanggung kerugian yang ditaksir mencapai Rp 400 juta.
Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 23.30. Saat itu, api diduga muncul dari kompor berbahan bakar gas LPG yang digunakan sebagai pemanas kandang. Kebocoran pada alat tersebut diduga memicu kobaran api yang dengan cepat membesar dan menjalar ke seluruh bangunan yang sebagian besar terbuat dari material mudah terbakar.
Saat kebakaran terjadi, pemilik kandang bersama warga sekitar berupaya memadamkan api menggunakan peralatan seadanya. Namun besarnya kobaran membuat upaya tersebut tidak mampu menyelamatkan ribuan ayam yang berada di dalam kandang.
Laporan kejadian diterima Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kabupaten Tulungagung pada pukul 23.45. Lima menit kemudian, dua unit mobil pemadam kebakaran dan satu unit mobil suplai air diberangkatkan menuju lokasi.
Petugas tiba sekitar pukul 23.58 dan langsung melakukan pemadaman agar api tidak merembet ke bangunan lain di sekitar lokasi. Besarnya api dan banyaknya material yang mudah terbakar membuat proses pemadaman berlangsung cukup alot.
Kasi Operasional dan Pemadaman DPKP Tulungagung Bambang Pidekso mengatakan, berdasarkan hasil pemeriksaan awal, sumber api diduga berasal dari kebocoran kompor gas LPG yang digunakan sebagai pemanas kandang.
"Api berasal dari kompor gas LPG yang digunakan sebagai pemanas ayam. Diduga terjadi kebocoran sehingga api merambat dan membakar seluruh kandang," ujarnya.
Akibat kebakaran tersebut, sebanyak 2.100 ekor ayam petelur dan 1.000 ekor anak ayam berusia sekitar 35 hari tidak dapat diselamatkan. Seluruh unggas mati akibat terjebak di dalam kandang yang dilalap api.
Selain menewaskan ribuan ayam, kebakaran juga menghanguskan seluruh bangunan kandang. Berdasarkan keterangan pemilik, total kerugian material diperkirakan mencapai sekitar Rp 400 juta.



