Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Mahasiswi UNS Surakarta yang Nekat Tabrakkan Diri dengan Kereta Api di Tulungagung, Diduga Akibat Memendam Masalah Menumpuk, Psikolog Beri Penjelasan

Matlaul Ngainul Aziz • Sabtu, 18 November 2023 | 16:10 WIB
Mahasiswi UNS yang diduga bundir dengan menabrakkan diri dengan Kereta Api di Tulungagung dipicu masalah psikologis.
Mahasiswi UNS yang diduga bundir dengan menabrakkan diri dengan Kereta Api di Tulungagung dipicu masalah psikologis.

TULUNGAGUNG – Belakangan ini, warga Kabupaten Tulungagung dibuat gempar dengan aksi nekat bunuh diri (bundir) yang dilakukan RBT, mahasiswi UNS Surakarta, warga Desa Karangrejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri.

Aksi nekat RBT mahasiswi UNS Surakarta tersebut diduga akibat mendiang memendam masalah yang menumpuk, hingga memperburuk kesehatan mental atau psikologis.

Psikolog Ifada Nur Rohmania mengatakan, seluruh tindakan yang berakhir dengan keputusan untuk memilih mengakhiri hidup merupakan permasalahan psikologis. Termasuk yang dilakukan mahasiswi UNS Surakarta. 

Tentu permasalahan psikologis yang menimpa pada seseorang tersebut telah menumpuk. Akibatnya, pilihan untuk mengakhiri hidup menjadi respons ketika ledakan emosional terjadi.

Berdasarkan ilmu psikologi, keputusan salah pada pilihan tindakan bunuh diri bukan merupakan faktor tunggal.

“Pasti bukan faktor tunggal, ada akumulasi dari berbagai kepahitan hidup yang dialami. Sehingga ketika ada trigger atau pemicu menjadikan tindakan bunuh diri,” jelasnya.

Tindakan bunuh diri atau terlintas untuk melakukan bunuh diri merupakan sebuah penyakit psikologis berupa tindakan yang berujung menyakiti diri sendiri. Hal ini diakibatkan adanya konflik intrapsikis dari psikologi seseorang.

“Jadi memang struktur otak bisa berubah karena stres, dan ini kita perlu pahami. Tentu bisa berdampak pada kesehatan mental, seperti cemas maupun depresi,” ucapnya.

Seseorang yang memiliki tekanan hidup maupun mengalami pengalaman pahit dalam hidupnya merupakan bagian dari stressor psikologis. Ini merupakan kejadian, situasi, individu, komentar, atau apa pun yang ditafsirkan penderita sebagai hal negatif atau mengancam.

“Di otak ada bagian yang disebut amigdala atau area otak yang bertanggung jawab untuk mendefinisikan dan mengendalikan emosi. Sehingga berkaitan dengan takut, cemas, hingga depresi itu dari bagian amigdala,” paparnya.

Tentu tidak hanya kondisi internal, kondisi eksternal seperti faktor keluarga dan lingkungan juga memengaruhi pengambilan keputusan salah tersebut.

Keterbukaan terhadap orang tua dan penerimaan dari lingkungan pergaulan menjadi faktor penting yang memengaruhi pengambilan keputusan tersebut.

“Iya, tindakan bunuh diri itu memang faktor psikologis. Faktor psikologis itu tidak tampak, maka kesehatan mental itu disebut invisible disease,” ungkapnya.

Lanjut dia, untuk keluar dari lingkaran belenggu kesehatan mental ini perlu peran psikolog dan psikiater. Kedua profesi ahli ini dapat membantu seseorang untuk keluar dari permasalahan mental. “Ya harus ke psikolog dan psikiater, karena ini merupakan permasalahan mental,” pungkasnya. (ziz/c1/rka)

Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra
#uns #psikolog #tulungagung #mahasiswi #masalah mental #ifada nur rohmania