TULUNGAGUNG – Sebelum memasuki era millennium baru atau sekitaran 2000, angkutan umum bus masuk era kejayaan.
Di masa itu, banyak perusahaan otobus (PO) mengaspal di wilayah Kabupaten Tulungagung. Di antaranya, PO Harapan Jaya, PO Pelita Indah, maupun PO Sri Lestari. Beberapa PO bus pada masa itu saling bersaing untuk memikat penumpang.
Tak ayal, di sekitaran era 90-an, PO Sri Lestari pun sempat menjadi rival berat dari PO Harapan Jaya.
Di masa keemasan, PO Sri Lestari memiliki armada bus yang tak kalah dengan PO Harapan Jaya. Kala itu perusahaan ini punya armada hingga puluhan.
Armada-armada itu mengaspal di trayek antar kota dalam provinsi (AKAP), mulai jalur Trenggalek, Tulungagung, Surabaya.
Armada yang dikerahkan juga ada yang patas AC bermesin Hino AK8 dan RK. Di trayek itu, persaingan ketat antar PO bus lainnya.
Meliputi, Harapan Jaya, Pelita Indah, Murni Jaya, Rukun Jaya, Baruna, Sri Lestari, Surya Kencana, Surya Perdamaian, Tirto Kencana, Tirto Agung, Pangeran, Jaya Mulya, Mulyosari, Restu, STB, Daya Guna, Setia Jaya, Bina Jaya, serta Hasti.
Armada bus Sri Lestari terus mengaspal, bahkan semasa krisis global pada 1997-1998. Yang mana mayoritas pengusaha PO bus sempat gonjang-ganjing karena harga spare part mahal, PO Sri Lestari tetap eksis kala itu.
Namun kondisi usai memasuki millennium baru. PO Sri Lestari diterpa badai. Adanya dugaan praktik manupulasi antara kru dan kontroler.
“Modusnya, kondektur diduga menyuap kontroler dengan belasan ribu rupiah, sehingga mereka dapat memanipulasi jumlah penumpang yang diangkut,” dikutip Radar Tulungagung dari YouTube @hrproject pada Selasa (22/10/2024) sore.
Praktik itu merugikan perusahaan, owner PO Sri Lestari Ongkowijoyo kemudian menjual sebagian armada bus ke PO lain.
Sekitar 2007, terjadi kemelut dalam internal PO Sri Lestari. Salah satunya terkait jaminan sosial dan ketenagakerjaan (jamsostek) hingga ketimpangan jumlah armada bus yang minim dengan jumlah kru yang banyak.
Pada 13 Desember 2007, ratusan awak: sopir, kondektur, kernet, melakukan demo di depan Kantor DPRD Tulungagung. Memasuki 2008, PO Sri Lestari berhenti operasional.
Meskipun begitu, owner PO Sri Lestari masih mempertahankan bidang usaha lain, yaitu vulkanisir ban.***