Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Masjid Tawangsari, Menyimpan Sejarah Besar Kota Tulungagung

Intan Puspitasari • Kamis, 6 April 2023 | 12:37 WIB
Photo
Photo
Jangan ngaku orang Tulungagung asli, kalau tidak tau Masjid yang satu ini. Meskipun tidak terletak di tengah kota, tapi Masjid ini sangat lekat dengan sejarah Tulungagung sendiri. Pasalnya, Masjid Tawangsari ini adalah peninggalan dari Kyai Abu Manshur, seorang tokoh penyebar Agama Islam dan dipercaya sebagai seseorang yang berjasa menutup sumber air, sehingga membuat Kadipaten Ngrawa yang awalnya kota rawa, menjadi daratan seutuhnya dan berubah nama menjadi Tulungagung dengan bantuan kebo bule dan dua jin bernama Clontang Jaya dan Jigang Jaya.  Berlokasi di Desa Tawangsari, Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung, masjid ini merupakan ikon di tanah Perdikan Tawangsari.

Menurut Gus Dillah, keturunan ke-7 dari Kyai Abu Manshur, nama masjid ini, Tawangsari, pada dasarnya terdiri dari dua kata. Yakni Tawang yang berarti Langit dan Sari yang berarti initisari. Jadi jika diartikan Tawangsari, berarti intisari langit. Dan jika dimaknai lebih dalam, intisari dari langit sebenarnya adalah kekosongan dan tak ada yang lain selain Tuhan disana. Itulah makna filosofis dari nama masjid ini.

Photo
Photo
SAREAN DALEM SENTONO : Makam keluarga sentono Tawangsari (Foto : FIRMAN SAPUTRA/RADAR TULUNGAGUNG)

Kompleks masjid ini unik, dibandingkan dengan masjid-masjid di Tulungagung yang lain. Dimulai dari gerbang masuknya saja sudah berbeda. Kita akan disambut dengan area pemakaman/ pasarean sentono dalem Tawangsari, yang di dalamnya terdapat makam Kyai Abu Manshur, Nyali Lidah Item dan Putri Alap-Alap. Nuansa klasik bangunan lawas seperti di Surakarta juga sangat terasa terutama ketika melewati gapura besar berwarna putih, sebagai pintu masuk masjid.

Photo
Photo
GAPURA: Gapura besar Masjid Tawangsari sebagai pintu masuk ke area Masjid (Foto : FIRMAN SAPUTRA/RADAR TULUNGAGUNG)

Menurut silsilah keluarga Kyai Abu Mansur merupakan putra ke 8 dari Amangkurat ke 4 dan saudara dari Hamengkubuwono I. Kyai Abu Manshur sendiri, juga adalah salah satu dari empat orang yang mendapatkan gelar kehormatan Diponegoro dari Pakubuwono II, lantaran jasanya yang besar untuk kerajaan Mataram. Kyai Abu Manshur diberi gelar Tala Diponegoro atau lebih lengkapnya Bendara Pangeran Harya (BPH) Tala Diponegoro. Karena gelar tersebut merupakan pemberian kerajaan Mataram bagi pejuang yang melawan penjajah Belanda saat itu, ada dugaan bahwa Kyai Abu Manshur sendiri sengaja menyembunyikan gelar itu dan melarikan diri dan nyantri di Tegalsari dan diutus pergi ke wilayah Ngrowo (sekarang Tulungagung) pada sekitar tahun 1725 untuk menghilangkan jejak dari kejaran penjajah Belanda dan lebih banyak berjuang menyebarkan kebajikan melalui penyebaran agama Islam. Salah satunya dengan mendirikan masjid di Tawangsari yang hingga sekarang masih kokoh berdiri dan tidak pernah sepi pengunjung.

Selain keunikan dari segi arsritekturnya, beberapa detail dari Masjid Tawangsari juga mengandung makna filosofis yang dalam. Misalnya mimbar tua yang dibuat oleh keturunan kedua Kyai Abu Manshur, yang terdapat di dalam masjid ini. Mimbar tersebut berbentuk seperti singgasana, yang memiliki 7 tingkatan/tangga. Ornamen dari mimbar yang berbentuk seperti buah manggis, merupakan simbol bahwa fisik kita dan jiwa kita harus sama, yang diluar baik, berarti yang di dalam harus baik. Seperti isi danging buah manggis yang jumlahnya bisa dilihat dari tanda bunga yang ada di bawah buah mangis.

FILOSOFIS : Mimbar tua ini telah berusia 200 tahun lebih dan penuh makna filosofis (Foto : LUQMAN HAKIM/RADAR TULUNGAGUNG)

Kini, kompleks Masjid Tawangsari, tak hanya difungsikan sebagai tempat ibadah saja. Di sekitaran masjid, juga dibangun sekolah untuk anak mulai tingkat PAUD, taman kanak-kanak (TK) hingga Sekolah Dasar (SD). Itu semua berkat ketururan Kyai Abu Mansur yang merawat dan memanfaatkankan tempat ini dengan baik. Hingga pesan dakwah dari Kyai Abu Mansur masih “sugeng” dan tak pernah mati hingga kini. (int/*)

Simak sejarah Kyai Abu Manshur yang lebih lengkap di konten Lorong Zaman : KIAI ABU MANSUR, SANG PENGUBAH RAWA MENJADI PUSAT KOTA Editor : Intan Puspitasari
#masjid tawangsari #tulungagung #tanah perdikan #Kyai Abu Manshur #tawangsari