TULUNGAGUNG - Bagi sebagian orang, makanan pedas bisa jadi momok. Tapi di Tulungagung, rasa pedas justru menjadi candu.
Mulai dari sambal legendaris rumahan, mi setan lokal Tulungagung yang bikin bibir bergetar, hingga sajian kuliner dengan level pedas “neraka”, masyarakat di kota marmer ini seolah punya kecintaan khusus terhadap sensasi terbakar di lidah.
Tapi, kenapa sih orang Tulungagung begitu doyan makanan super pedas?
Baca Juga: Rahasia Merawat Tanaman Cabai Agar Subur dan Berbuah Lebat
Di banyak rumah makan dan warung tradisional di Tulungagung, sambal bukan sekadar pelengkap. Ia adalah “pemeran utama”. Ada sambal bawang yang pedasnya nendang, sambal ijo yang segar tapi tetap membakar, hingga sambal terasi yang aromanya saja sudah menggugah selera.
Tak jarang, sambal dihidangkan dalam jumlah besar seperti lauk utama. Bahkan, ada yang rela menambah nasi hanya karena sambalnya enak!
Baca Juga: Saus Sambal dari Pepaya Inovasi Pedas yang Tak Biasa, tapi Menggoda Selera
Tren mi super pedas juga tak ketinggalan. Di beberapa sudut kota, kamu bisa menemukan kedai yang menjual “mie setan”, “mie iblis”, atau “mie level neraka”.
Mi-mi ini bukan hanya menggoda karena rasa, tapi juga karena tantangannya. Semakin tinggi level cabainya, semakin besar pula tantangan dan kebanggaan bagi yang berhasil menghabiskannya.
Baca Juga: Gurih Sampai Super Pedas, Ini Deretan Rasa Ayam Lodho Khas Tulungagung
Uniknya, meski menangis, berkeringat, bahkan kadang sampai cegukan, para pelanggan justru ketagihan. “Sakitnya tuh di lidah, tapi puasnya di hati,” ujar salah satu penikmat mie pedas di kawasan Boyolangu.
Di balik kegemaran ini, rasa pedas juga dianggap sebagai simbol keberanian dan ‘kekompakan’. Makan bareng dengan teman sambil adu kuat tahan pedas sudah menjadi hiburan tersendiri.
Bahkan, di beberapa komunitas kuliner lokal, tantangan makan pedas ekstrem menjadi agenda rutin yang ditunggu-tunggu.
Ahli kuliner lokal menyebutkan bahwa kebiasaan makan pedas di Tulungagung tidak lepas dari iklim tropis dan warisan budaya agraris.
Rasa pedas dianggap bisa meningkatkan nafsu makan, membantu berkeringat dan “menyegarkan” tubuh di cuaca panas. Selain itu, cabai dan rempah memang mudah ditemukan di dapur-dapur warga.
Makan pedas ekstrem di Tulungagung bukan sekadar urusan rasa. Ini adalah bagian dari gaya hidup, budaya, dan cara warga setempat mengekspresikan keberanian, solidaritas, hingga rasa bangga terhadap cita rasa lokal.
Jadi, kalau kamu berkunjung ke Tulungagung, jangan heran kalau diajak “cobain sambal legendaris” atau “uji nyali mie level 10”. Siapkan mental, air putih, dan tisu, karena di sini, pedas adalah kenikmatan yang dicari-cari. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah