Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Tradisi Memanggil Hujan di Tulungagung: Antara Doa, Ritual, dan Warisan Budaya

Yoga Dany Damara • Minggu, 24 Agustus 2025 | 20:55 WIB
di beberapa desa Tulungagung, ritual memanggil hujan tetap menjadi pengingat bahwa manusia dan alam punya hubungan yang erat hubungan yang layak dijaga
di beberapa desa Tulungagung, ritual memanggil hujan tetap menjadi pengingat bahwa manusia dan alam punya hubungan yang erat hubungan yang layak dijaga

RADAR TULUNGAGUNG - Ketika kemarau panjang melanda, sawah mengering, sungai mulai surut, dan debu beterbangan di jalan desa, sebagian warga Tulungagung masih memiliki cara khas untuk memohon datangnya hujan.

Bukan sekadar menunggu ramalan cuaca atau menatap langit yang memutih, warga Tulungagung melakukan sebuah ritual yang diwariskan turun-temurun tradisi memanggil hujan.

Ritual ini biasanya dilakukan oleh sesepuh desa bersama warga. Ada yang memilih menggelar doa bersama di masjid atau mushola, ada pula yang mengadakan prosesi khusus di tempat-tempat tertentu seperti mata air, tepi sungai, atau halaman balai desa.

Dalam beberapa versi, warga membawa tumpeng dan sesajen sederhana berisi hasil bumi sebagai simbol rasa syukur sekaligus permohonan kepada Tuhan agar hujan kembali turun.

Di beberapa wilayah, tradisi ini dibumbui keunikan lokal. Misalnya, anak-anak desa berjalan keliling kampung sambil membawa mainan dari daun pisang atau tempurung kelapa, menabuh kentongan, bahkan menyiramkan air sedikit demi sedikit ke jalan sebagai lambang “mengundang” hujan.

Suara tawa dan nyanyian khas ritual membuat suasana menjadi semarak, seolah lupa bahwa panas terik sedang membakar kulit.

Bagi warga yang masih melestarikannya, tradisi memanggil hujan bukanlah sekadar “mitos” atau kepercayaan lama, tetapi juga bentuk kebersamaan dan gotong royong.

Saat semua berkumpul dan berdoa, ada semangat kolektif untuk menghadapi kesulitan bersama.

Dan ketika akhirnya hujan benar-benar turun, meski entah karena doa atau kebetulan alam, warga akan menyambutnya dengan sorak sorai, berlarian di bawah rintik air, sambil membiarkan pakaian basah kuyup.

Di tengah kemajuan zaman, tradisi ini mungkin semakin jarang dilakukan. Namun di beberapa desa Tulungagung, ritual memanggil hujan tetap menjadi pengingat bahwa manusia dan alam punya hubungan yang erat hubungan yang layak dijaga, dirawat, dan dirayakan. ****

Editor : Dharaka R. Perdana
#hujan #tulungagung #tradisi