TULUNGAGUNG - Di Tulungagung, ada satu kebiasaan yang mungkin terlihat sederhana tapi justru punya makna besar, yaitu srawung.
Srawung berarti ngobrol santai, entah di teras rumah, warung kopi, atau pos ronda.
Meski hanya obrolan ringan, tradisi srawung sudah lama menjadi bagian penting dari kehidupan sosial orang Tulungagung.
Srawung biasanya dimulai dari hal-hal kecil cerita panen padi, kabar keluarga, sampai isu-isu terbaru di kampung.
Kadang obrolannya receh, kadang serius.
Tapi yang jelas, srawung bukan sekadar basa-basi.
Dari sini, tumbuh rasa kebersamaan, saling tahu kondisi tetangga, dan bahkan muncul solusi atas masalah bersama.
Ada tiga tempat yang jadi "panggung" utama tradisi ini:
Teras rumah – tempat singgah tetangga sepulang kerja atau saat lewat.
Warung kopi – pusat nongkrong lintas usia, dari anak muda sampai bapak-bapak.
Pos ronda – titik kumpul malam hari, di sela jaga keamanan kampung.
Di tempat-tempat inilah, ikatan sosial antarwarga semakin erat.
Dalam era digital, banyak orang lebih sibuk menatap layar daripada menyapa tetangga.
Namun, di Tulungagung, srawung masih bertahan sebagai cara menjaga harmoni.
Obrolan kecil ini menciptakan rasa memiliki. Kalau ada yang sakit, semua tahu. Kalau ada hajatan, semua bantu. Kalau ada masalah, semua ikut mikir jalan keluarnya.
Srawung bukan hanya tradisi lama, tapi juga warisan sosial yang perlu dijaga.
Srawung mengajarkan bahwa kebersamaan bisa lahir dari hal sederhana secangkir kopi, tikar di teras, dan obrolan tanpa batas waktu.
Di balik canda dan cerita ringan itu, ada nilai besar gotong royong dan rasa kekeluargaan khas Tulungagung.***
Editor : Vidya Sajar Fitri