RADAR TULUNGAGUNG – Menjelang Hari Raya Idul Fitri 2026, geliat bisnis hampers atau parsel Lebaran di Tulungagung menunjukkan tren positif.
Permintaan masyarakat meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, meski para pelaku usaha harus menghadapi tantangan naiknya harga bahan baku.
Fenomena ini dirasakan langsung Firda Ardhani, pelaku usaha hampers asal Desa Tugu, Kecamatan Rejotangan, Tulungagung.
Ia mengaku jumlah pesanan tahun ini meningkat cukup signifikan karena strategi membuka pemesanan lebih awal.
“Tahun ini saya sudah open order sejak akhir Januari. Kalau tahun lalu baru mulai di awal puasa. Kuotanya sekarang jauh lebih banyak,” ujarnya.
Namun di tengah meningkatnya permintaan, pelaku usaha juga dihadapkan pada kenaikan harga sejumlah bahan baku.
Firda menyebut beberapa kebutuhan seperti sirup dan gula mengalami kenaikan harga, bahkan terkadang sulit ditemukan di pasaran.
Kondisi tersebut memaksa penjual melakukan penyesuaian harga hampers sekitar 5 hingga 10 persen.
“Kami harus pintar menyiasati. Pilihannya menaikkan sedikit harga setelah komunikasi dengan pembeli, atau mengurangi item di dalam hampers agar harga tetap terjangkau tanpa mengurangi kualitas,” jelasnya.
Hal senada disampaikan Tri Atarini, pengusaha hampers asal Desa Kepuh, Kecamatan Boyolangu, Tulungagung.
Ia mengatakan lonjakan pesanan mulai terasa sejak memasuki pekan pertama Ramadan.
“Sejak hari ketujuh puasa sudah banyak chat masuk menanyakan stok. Kalau melihat tren sekarang, kemungkinan penjualan masih akan terus naik sampai Lebaran,” ungkapnya.
Tri menambahkan, tidak hanya pesanan dari individu, tetapi juga mulai banyak permintaan dalam jumlah besar dari lembaga maupun instansi.
“Biasanya untuk kebutuhan THR atau bingkisan bagi karyawan dan relasi,” katanya.
Untuk preferensi konsumen, paket hampers dengan harga ekonomis masih menjadi pilihan utama.
Kisaran harga Rp 50 ribu hingga Rp 200 ribu menjadi paket yang paling diminati masyarakat.
Isi hampers umumnya masih didominasi produk kebutuhan sehari-hari seperti minyak goreng, gula, mie instan, sirup, hingga aneka kue kering.
“Kalau yang mahal biasanya kue kering seperti nastar dan kastengel. Harganya memang terasa naik. Sementara produk pabrikan relatif lebih stabil,” jelas Tri.
Dari sisi kemasan, tren desain minimalis dan elegan mulai bermunculan.
Namun sebagian besar konsumen di Tulungagung masih lebih mengutamakan isi paket dibanding tampilan kemasan yang terlalu eksklusif.
“Mayoritas masih memilih berdasarkan katalog. Yang penting isinya bermanfaat,” tambahnya.
Meski persaingan bisnis hampers semakin ketat dengan banyaknya penjual baru maupun toko besar, para pelaku usaha lokal tetap optimistis.
Pemasaran melalui media sosial menjadi strategi utama untuk menjangkau lebih banyak pelanggan.
Tidak hanya dari wilayah Tulungagung, pembeli juga datang dari luar daerah hingga luar negeri yang ingin mengirim hampers kepada keluarga di kampung halaman. (mg3/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri