Radar Tulungagung - Pernahkah kamu membuka TikTok dan menemukan video anak muda yang lagi asik menari bersama saat bukber atau buka bersama? Tren TikTok yang satu ini memang sedang sangat viral, namanya velocity.
Tren ini banyak digemari, mereka yang suka membuat video kreatif. Dalam tren velocity, kita bisa melihat gerakan tangan yang unik, ditambah efek slow motion yang membuat video semakin menarik. Seru sekali, bukan?
Namun, ternyata di balik keseruan tren velocity, ada satu hal yang perlu kita waspadai, yaitu FOMO atau Fear of Missing Out.
FOMO merujuk pada perasaan cemas karena takut ketinggalan momen atau tren viral di media sosial. Bagi generasi Z yang tumbuh besar dengan media sosial, rasanya kurang lengkap jika tidak mengikuti tren yang sedang populer. Misalnya, ada rasa khawatir dianggap “ketinggalan zaman” jika tidak ikut membuat video velocity.
Meskipun tren velocity tampak menyenangkan, hati-hati ya karena FOMO bisa berdampak negatif pada kesehatan mental kita.
FOMO bisa menyebabkan stres dan kecemasan berlebihan karena kita merasa harus terus mengikuti tren yang viral.
Contohnya, ketika melihat teman-teman seru-seruan membuat video velocity saat buka puasa, kita mungkin tergoda untuk ikut serta.
Bahkan, demi eksistensi di dunia maya, kita sering merasa harus mengikuti tren ini agar tidak dianggap ketinggalan.
FOMO sangat berpengaruh, terutama bagi generasi Z yang sangat menghargai pengakuan sosial. Jika kita tidak mengikuti tren yang sedang populer, ada perasaan terpinggirkan.
Perasaan ini bisa mendorong kita untuk terus membandingkan diri dengan orang lain yang tampaknya lebih keren atau lebih sempurna di media sosial.
Padahal, apa yang terlihat di media sosial belum tentu mencerminkan kenyataan sepenuhnya.
Meski FOMO sering dianggap memiliki dampak negatif, sebenarnya ada sisi positif yang bisa kita ambil. Salah satunya adalah dorongan untuk tetap mengikuti perkembangan zaman.
FOMO dapat membuat kita tetap terupdate dengan informasi dan tren terbaru, sehingga kita tidak ketinggalan dan bisa tetap beradaptasi dengan lingkungan sosial.
Namun, FOMO juga membawa dampak negatif yang tidak bisa diabaikan. Salah satunya adalah perasaan cemas dan stres yang dapat muncul akibat terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain.
Jika kebiasaan ini terus berlangsung, kita bisa merasa tertekan. FOMO juga dapat menyebabkan kecanduan media sosial, di mana kita menjadi terlalu sering memeriksa notifikasi, mengikuti tren terbaru, hingga lupa waktu.
Padahal, hal ini bisa mengganggu konsentrasi kita dalam aktivitas sehari-hari, seperti bekerja, belajar, atau menyelesaikan tugas-tugas penting lainnya.
Lalu, bagaimana cara menikmati tren velocity tanpa terjebak dalam kecanduan media sosial dan FOMO? Caranya cukup sederhana, pilihlah konten yang benar-benar sesuai dengan minat Anda.
Jangan hanya mengikuti tren tanpa alasan yang jelas. Fokuslah pada hal-hal yang positif, yang tidak hanya mengikuti tren, tetapi juga memberikan manfaat dalam hidup. Jangan sampai terjebak dalam perbandingan sosial yang tidak sehat.
Selain itu, penting untuk membatasi waktu penggunaan media sosial. Anda bisa mengalihkan perhatian ke aktivitas lain yang lebih bermanfaat, seperti olahraga, seni, atau belajar hal baru. Dengan cara ini, Anda dapat menjaga keseimbangan hidup dan mendukung kesehatan mental yang lebih baik.
Tren velocity memang seru dan menarik, terutama ketika dilakukan bersama teman-teman saat buka puasa. Namun, ingatlah untuk selalu menjaga keseimbangan dalam hidup. Kesehatan mental adalah hal yang sangat penting, jadi nikmatilah tren ini dengan bijak!
Editor : Matlaul Ngainul Aziz