Tulungagung- Momen ketika Bumi mencapai titik terjauh dari Matahari dalam orbitnya yang berbentuk elips disebut dengan Aphelion.
Secara harfiah, Aphelion berasal dari bahasa Yunani yakni Apo berarti jauh dan Helios berarti Matahari.
Aphelion 2025 terjadi pada 4 Juli 2025 pukul 02.54 WIB dengan jarak maksimum sekitar 152.087.738 km, atau sekitar 1,0166 AU.
Perbedaan sekitar 2,5 hingga 5 juta km dibanding rata-rata sekitar 149,6 juta km, membuat intensitas cahaya Matahari berkurang sekitar 6 sampai 7 persen. Nah aphelion memiliki beberapa fakta menarik.
Fakta-fakta Menarik
1. Setahun sekali, Aphelion terjadi sekitar awal Juli setiap tahun
2. Perubahan kecepatan Bumi: Bumi cenderung melambat 2 sampai 3 persen saat Aphelion dibanding Perihelion
3. Musim panas utara lebih panjang: Karena Bumi bergerak lebih lambat, musim panas di belahan utara sedikit lebih lama hingga beberapa hari
4. Bentuk orbit berubah perlahan menurut siklus Milankovitch, tanggal Aphelion dapat bergeser 3 hari antar tahun
Itulah beberapa fakta menarik Fenomena Aphelion 2025. Walau sinar Matahari sedikit berkurang, dampaknya terhadap cuaca global khususnya di Indonesia sangat minim.
Bisa dikatakan juga bahwa, Suhu dingin yang sering kita rasakan selama Juli hingga Agustus lebih disebabkan oleh angin muson timur, bukan Aphelion.
Adapun terdapat beberapa penjelasan kenapa Aphelion bisa terjadi. Pertama, Orbit Bumi berbentuk elips (bukan lingkaran), dengan eksentrisitas 0,0167, Hukum Kepler (Hukum kedua): Bumi bergerak lebih lambat saat jauh dari Matahari (Aphelion), dan lebih cepat saat dekat (Perihelion).
Gravitasi juga berpengaruh karena antara Matahari dan Bumi menjaga Bumi tetap dalam orbit. Tapi Karena bentuk orbitnya lonjong, Gravitasi Matahari menarik Bumi lebih kuat saat dekat, dan lebih lemah saat jauh
Akibatnya, Bumi bergerak dengan kecepatan yang bervariasi, menciptakan titik Aphelion dan Perihelion
Baca Juga: Pacu Jalur Viral di TikTok, Tradisi Asli Riau Jadi Sorotan Dunia
Aphelion bisa terjadi juga karena Siklus Tahunan, Aphelion terjadi sekali setahun, biasanya sekitar tanggal 3 sampai 6 Juli.
Editor : Matlaul Ngainul Aziz